Selasa, 19 Juli 2011

Semenjak

Originally created by Fu

semenjak kata membingkai sajak dalam rindu yang memekat hati bersenandung kejujuran yang memikat, hingga beresonansi pada kesyukuran Illahi yang memahat segala tanpa alasan tersangkal. semenjak pandang bersitatap dalam tunduk yang mengulum senyum berharmoni air muka yang meranum merah, hingga bermelodi pada lantunan Illahi yang membenih segala tanpa buruk prasangka. semenjak mimpi mengudara, menggasing dalam setiap laju cahaya.

semenjak itu pula ketetapan atas kita. bersua untuk saling berbagi, merangkai diorama dalam sketsa yang tak kunjung pernah usai, melantun puji dalam harap yang menumpah air mata, hingga berpisah untuk saling memaknai. semenjak Tuhan menghimpun dalam cinta-Nya, meminta hati untuk menjanji. semenjak kita memalu pasi, lantas tak bertanya lagi.

Bandung, 19 Juli 2011

*puisi ini untuknya, yang selalu mencari kebaikan sempurna...

Khatam Qur'an

Dia bilang, hari ini baru selesai khatam Qur'an. dan aku yakin dia memang bisa melakukannya. sebisa dia yang harus teguh pada prinsipnya. aku hanya ingin berucap :

"Selamat ya, semoga apa yang dibaca berbuah pahala, dan menambah kecintaanmu pada Al-Qur'an. semoga Allah istiqomahkan di jalan-Nya"

sudah itu saja. :)

Rindu

Rindu sekali....

Tapi katanya aku harus membiasakan diri untuk :
tidak lagi mendapat pesan motivasi darinya
tidak lagi mendengar suara lucunya
tidak lagi bercanda dengannya
tidak lagi cerewet berceloteh banyak hal dengannya
tidak lagi dibangunkan shalat malam olehnya
tidak lagi diingatkan untuk selalu tersenyum olehnya
tidak lagi berdebat berbagai masalah dengannya
tidak lagi membincangkan rembulan dan bintang yang terindunya
tidak lagi mengharap apa-apa padanya

tidak lagi semuanya, karena aku tahu diri

bahwa aku bukan siapa-siapa
bahwa aku tak berhak apa-apa
bahwa aku tak terpilih hatinya
bahwa aku begitu sangat biasa

bahwa sekarang aku harus lebih mendekatkan diri pada Allah, hingga Allah menjawab segala kesamaran ini, hingga Allah membuat aku lupa akan yang tengah bersemayam di hati ini...

Allah ampuni hamba karena telah merindunya, semoga ia baik-baik saja, dan engkau membuatku segera melupakannya, hingga pangeranku yang sebenarnya yang berhak akan segala di hati ini. Mesi namanya masih kupatri di sini, di hatiku dan mimpiku...

Senin, 18 Juli 2011

Tentang menikah!

Sekarang saya mengerti (padahal dari dulu sebenarnya sudah mengerti) kenapa Allah dan Rasul begitu menganjurkan sebuah pernikahan, jua para murabbi dan kawan sepemikiran yang menganjurkan menikah muda. Karena ada ketentraman di dalamnya, karena bagaimanapun tak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di dunia ini tak bisa sendiri. Menikah juga adalah wujud rasa syukur kita terhadap Allah yang menciptakan setiap makhluk-Nya berpasangan. Setelah menikah, semua halal, semua berpahala. Semua kata-kata mesra dan pujian adalah pahala, bukan dosa seperti yang mengucapkannya sebelum menikah. Rabb, ampuni hamba, karena mungkin hamba begitu egois pada rasionalitas sendiri, dan terlalu cepat mengambil keputusan. Rabb, rasanya sakit sekali, mohon akhiri semua ini... T_T

Sekarang saya akan meyakini, bahwa Allah pasti akan memberi rasa yang ajaib untuk ia yang Allah takdirkan untuk saya. Bahkan yang lebih dari apa yang sebelumnya telah saya rasakan. Meski saya sendiri tidak tahu entah itu kapan. T_T

*di saat orang-orang telah jauh melangkah, dan saya hanya berkutat dengan keegoisan pemikiran saya! Astagfirullah... T_T

Perpisahan

Kenapa harus ada perpisahan? Karena selalu ada pertemuan!

Kenapa harus ada pertemuan? Karena selalu ada pembelajaran!

Kenapa harus ada pembelajaran? Karena ada kehidupan!


Jangan tanya kenapa ada kehidupan? Karena itu tandanya kau sudah musyrik terhadap adanya Allah. Yang telah menciptamu, menyayangimu, mencintaimu...

Allah, kalau setelah perpisahan, ada pertemuan lagi kan?

Semoga gelas baru itu yang terakhir, bukan lagi yang membuat hatiku remuk berkeping-keping...