Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2011

Mushaf Unguku

Seperti yang udah aku ceritakan kemarin, kalau aku sayang sekali pada mushaf aku yang warna ungu terbitan Al-kamil itu. Secara nyari-nyarinya dulu susah sekali. Saat warna ungu belum menjadi tren untuk desain mushaf. Gak seperti sekarang ini yang lumayan banyak beberapa penerbit mushaf mulai memproduksi cover mushaf Al-Qur’an berbagai warna. Kemarin, ada seseorang yang ngasih aku mushaf Al-qur’an terbitan Al-Burhan berwarna ungu. Warnanya lebih muda dari mushaf aku sebelumnya. Aku suka sekali. Isinya jauh lebih lengkap dibanding yang punya aku.

Aku sempet bingung waktu dikasih itu mushaf, soalnya aku mau kemanakan mushaf ungu punya akunya? Orang yang ngasih bilang pokoknya mushafnya harus dipake dan harus dibaca. Sedangkan yang namanya mushaf Al-qur’an itu kan gak pernah habis. Mau sampai kapanpun ya tetap dibawa, dipake dan dibaca, berulang-ulang. Waktu aku pulang ke klinik, orang klinik ribut saat aku ngeluarin mushaf ungu yang baru dikasih. Ya mereka tahu soalnya yang aku punya bukan yang itu. Banyak yang komentar aneh-aneh. Katanya so sweet sekali dikasih mushaf Al-qur’an. Haduuh menurut aku itu beban justru, soalnya bagaimana aku bisa memanfaatkan mushaf itu dengan sebaik-baik amalan. Bukan hanya membawanya, memakainya, maupun membacanya, tapi agar mengamalkannya. Yang ngasih sangat berharap bahwa dengan mushaf itu aku benar-benar bisa mencapai salah satu mimpiku aku untuk jadi hafidzah, dan dia ingin mushaf ini menjadi saksi perjalanan aku untuk mencapainya. Tuh, kan beuuuuurraaat! Hmm… aku ambil hikmah positifnya aja kalau aku harus lebih semangat untuk tilawah dan menghafal al-qur’annya.

Waktu ngebahas soal mushaf baru aku itu, ada salah satu karyawan klinik yang nyeletuk ingin sekali punya mushaf al-qur’an yang “efisien” seperti itu. Maksudnya yang ukurannya tidak terlalu besar, ada reseletingnya, isinya lengkap dengan terjemahan, juga ada konten tajwidnya. Aku langsung berpikiran untuk memberikan mushaf itu sama dia. Aku tawarkan sama dia, “Mau nggak?” dan dia langsung antusias sambil berbinar-binar bilang, “Mauuu banget Bubid, beneran ini teh?” Dia bener-bener seneng waktu aku kasih mushaf punyaku yang sudah menemani perjalanan tilawahku kurang lebih tiga tahun itu. Dia bahkan heran kenapa meski udah tiga tahun mushafnya masih bagus, padahal tiap hari selalu aku pakai. Hehe, aku emang awet kalau punya barang. Apalagi itu barang kesayangan, akan aku jaga sebaik-baiknya. Makanya mushaf aku pun kondisinya masih bagus.

Aku terharu sekali setelah serah terima mushaf ungu aku itu, yang sebelumnya aku cium dulu sebelum aku kasih ke tangan karyawan klinik. O iya, namanya Onih usianya baru 19 tahun, dia bekerja dulu soalnya ingin ngumpulin buat bisa kuliah tahun depan. Dia langsung nulis di belakang mushaf itu, “Alhamdulillah dikasih tanggal 10 Agustus 2011 sama Bidan Fu”, lalu setelahnya dia minta aku untuk tanda tangan di sana. Hwaaa… terharuu, ingin nangis. Selain melepas mushaf ungu yang teramat sangat aku sayangi itu, aku juga haru soalnya sebegitu senangnya Onih aku kasih mushaf. Dibawah tanda tangan aku yang kata orang lucu berkarakter (PLAK!) itu aku selipkan kata2, “Semoga bermanfaat dan sering dibaca yaa.. :)”. Dia mengaminkan dan bilang makasih lagi. Alhamdulillah… memang benar kalau ada rasa bahagia yang tidak bisa diukur dan dibeli oleh apapun saat kita memberi sesuatu pada orang lain, sekecil apapun itu.

Aku memang punya kebiasaan seperti itu pada barang yang aku punya. Maksudnya bila barangnya masih bisa dipakai namun aku punya yang lain. Seperti mukena misalnya. Saat aku membeli mukena baru, aku selalu menghibahkan mukena aku yang lama yang memang masih bersih, bagus dan tentunya masih sangat layak pakai. Biasanya aku simpan di mushola kampus kalau dulu mah. Sebenarnya kenapa harus beli yang baru ya kalau yang lama masih bisa dipakai? Aku sih sebenarnya jarang beli, hanya saja tak jarang ada yang ngasih sama aku, apakah itu mama, saudara atau teman aku. Cara aku menghargai pemberian itu ya harus menggunakan dan memanfaatkannya dengan baik. Oleh karena itu, aku lebih senang memakai pemberian dari orang lain, dan yang milik aku sendiri aku berikan. Supaya lebih berkah juga pahalanya double kita dapat. Menghargai pemberian orang lain dengan memanfaatkannya dengan baik, sehingga aku dan yang memberi sama2 dapat pahala. Juga memberikan yang aku miliki pada orang yang lebih membutuhkan, sehingga aku dan yang diberi juga sama2 dapat pahala saat barang itu digunakan dengan baik. Fastabikhul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. ^_^

Aku belum sempat memotret mushaf baru aku yang merupakan pemberian itu. Insya Allah nanti kapan-kapan aku posting yaaa… ^_^
Untuk seseorang yang telah baik hati memberi mushaf ungu itu, terima kasih yaaa... :) Insya Allah akan selalu aku bawa, pakai, dan baca. Semoga harapan dan doanya untuk aku juga terkabul. Amin... semoga berkah dan rahmat Allah juga selalu mengalir untukmu,

Selasa, 09 Agustus 2011

Di atas permadani ini

Originally created by Fu

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku menebarkannya. Butir-butir pasir yang kita ambil di suatu pantai tanpa cerita, dalam senja yang selalu kau rindu untuk direguk jingganya. Berharap satu persatu menemukan kisahnya, mengganti keterhempasan dengan bahagia yang diramu Tuhan. Kau yang selalu mengingatkanku bahwa senyum bukan hanya sewujud simbol simestris sungging di bibir, melainkan wakil dari perbincangan hati yang liris. Tersenyumlah, katamu. Meski tak beralasan, ia kan menghantarkanmu pada kebaikan. Meski tak berbalas, ia tercatat Tuhan sebagai pahala yang menderas. Dan pasir putih itu jua memahamkanku akan kekerdilan, yang tak pun menjadikannya hina tanpa kerelaan.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku memandanginya. Lekuk-lekuk bumi yang telah tergurat, yang kita bedakan dalam beberapa warna pada kanvas tak beralas. Aku yang membuatkannya sajak dan prosa, sementara kau melukisnya dengan polesan tinta yang menjadikannya beraneka. Berpadu kita pada ayat yang mengindahkan bumi tak hingga. Tentang padi yang merunduk bumi, ilalang yang menantang alam, beringin yang menyetia usia, jua kaktus yang menyabar gurun. Kau yang memahamkanku akan kesempurnaan, ia yang mesti dipandangi dari tuas Tuhan. Seperti bumi yang tak pernah iri pada langit yang dihormati dengan tengadah, sementara ia dihargai dengan seberapa mahal injakan tanah.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku merangkainya. Rasi-rasi bintang yang selalu menarik hati kita bertautan saling sapa, dalam keindahan rembulan yang utuh pada purnamanya dan meruncing pada sabitnya. Menunggu pola-pola yang kuat kita rajut menghias langit dalam poros, meski tak kan seindah yang telah Tuhan ukir jauh hari. Kau yang selalu merindukanku dalam celoteh malam yang mendetik lekas. Tentang galaksi kita yang terasing dengan mentari menyingsing, tentang perdebatan kita dalam kotak kecil tanpa cahaya yang merahasia. Tuhan tidak hanya di Arasy-Nya, katamu. Dia melampaui ketidakterjangkauan rasional akal kita. Dalam air matamu, sayatan lukamu, bahkan melebihi itu, Dia bersemayam di kalbumu. Dan rasi bintang itu mematriku akan kemanfaatan, yang tak pun menjadikannya sia-sia meski hanya setitik cahaya.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku menenunnya. Buntalan awan  yang sekilas rapuh, namun memadati doa-doa kita dalam peluh. Membiarkannya tergiring angin, sebelum berhenti dan menemukan tempat berlabuhnya untuk menumpah. Jangan membenci hujan, pesanmu. Karena ia yang menumbuh suburkan benih cintamu, sebab ia yang menghidupi impianmu. Akan indahnya pelangi, yang membukti bahwa Tuhan memang tidak tidur sama sekali. Kau yang memahamkanku bahwa kemarau, mentari, hujan dan pelangi tak kan mengubah gairah pagimu, seperti Tuhan yang tak pernah bosan memelihara awan-awan di hatimu.

Masihkah kita bergumul pada pertengkaran kita yang menelusuri semesta dengan jalan berbeda? Ketika permadani kita tak sama, rajutannya yang tak serupa, atau juga panjangnya yang berbeda. Sementara yang kupahami bahwa tinggi rendah kemampuannya mengangkasa, bergantung pada keyakinan hatimu mengendarainya.

Haruskah kita memberhentikan permadani kita yang masih menikmati hembusan udara? Di saat langit kita masih berdiri tegak, samudera masing menoleransi ombak, gunung-gunung masih berdamai, jua pepohonan masih membenih dalam semai. Haruskah kau dan aku hanya berjalan tanpa jelasnya tujuan, sementara di hadapan menanti tangis yang sebenar pecah dan membuncah.

"Idzaa waqo'atil waaqi'ah."

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian. Surga tak kan mampu kumasuki tanpamu dan Ridha Tuhan.

Bandung, 9 Ramadhan 1432 H

*Tak akan ada yang bisa menghentikanku menulis, baik itu sakit hati sekalipun. And, he always inspiring me... :)

Senin, 01 Agustus 2011

Peluh

Originally created by Fu

Puisi untukmu (lagi!)

untukmu yang istimewa, yang selalu saja menunjukkan rindumu pada puisi yang kurangkai. biar aku tuturkan tentang bulir yang menerobos porimu, yang selalu kau keluh pada setiap lelahmu.


tetes demi tetes bulir itu jatuh, mengguyur tubuh
mengubah perkasamu, lemah tak berdaya
senyum yang menggamit, memudar perlahan
oleh ungkap yang menggema :
“Tuhan, aku lelah!”

yang fana itu dunia, sayang
dimana kau harus terus berlari
menjemput mulia tanpa spasi
sampai napasmu berhenti
lalu kau mati

tanya demi tanya itu menggumul, membentuk simpul
mengubah mahirmu, pasrah tak kuasa
kilau mata yang memahat, redup perlahan
oleh ungkap yang menggema :
“Tuhan, aku jengah!”

yang abadi itu akhirat, sayang
dimana kau hanya menanti
segala tebusan diri
terpilih kanan atau kiri

sayang, bulir itu memang asin rasanya
perubahannya kelak tergantung dirimu
manisnya di surga oleh sabarmu
pahitnya di neraka oleh hujatmu
dan kau tinggal memilih itu

sayang,
masih tak relakah kau menukar keringat
dengan senyum Tuhanmu yang memekat
?


Majalengka,
1 Agustus 2011 / 1 Ramadhan 1432 H


*sebagai pengingat untuk diri juga, yang tak pernah lepas dari keluh kesah. ^^,

Ngomongin Nikah (Lagi!)

Kemaren waktu ketemu Mair, aku seneeeenng beut. Udah lama banget gak  curhat-curhatan sama dia. Dulu kalau ada apa-apa, aku selalu cerita sama dia, secara kita tinggal satu kamar dan seasrama. Kemaren, aku cerita banyak sama dia, banyak hal, terutama setelah 10 bulan kita berpisah. Sama dia emang paling enak cerita soal mimpi-mimpi, ngehayal ngalor ngidul, dan something like that. Hmm… gak akan jauh-jauh bahasannya, apalagi kalau soal MENIKAH. Haha… dasar wanita!!! :p

Dulu, aku ingeeet beut kalau diantara temen kamar, cuma Mair yang ingin menikah di usia 25. Yang lain sepakat bahwa usia 25 adalah batas maksimal kita-kita untuk menikah. Kata Mair fine-fine aja, biar lebih siap dan matang. Namun, itu duluu, aku agak kaget waktu dia menceritakan bahwa dia sudah ingin segera menikah, kalau bisa maksimal tahun depan. Ya setiap orang tentunya bisa berubah tergantung kondisi yang ia hadapi. Itu juga dikarenakan dari calonnya Mair serta keinginan kuat dari Mair sendiri yang memang sudah ingin segera mengakhiri masa pacarannya itu, lama-lama malah banyak dosa, itu katanya. Aku dan mair punya satu kesamaan, bahwa kita bukan orang yang mau terlalu fanatik serta menilai orang hanya dengan status pacaran atau tidaknya. Meskipun di beberapa prinsip kita berbeda, kita saling menghormati satu sama lainnya.

Aku kagum banget sama mereka berdua (Mair dan calonnya), secara aku tahu gimana kisah mereka dari awal. Gimana mereka memperjuangkan hubungan mereka, mulai dari calonnya yang ternyata dijodohkan orang tuanya, menjelaskan pada banyak orang tentang hubungan mereka, sampai akhirnya bisa mengenalkan Mair pada dua orang tua calonnya. Sampai berhasil, dan mereka berdua direstui, bahkan didorong untuk menikah. Sebenarnya kedua orang tua mereka sudah menyetujui mereka berdua untuk segera menikah, hanya saja tinggal menunggu kepastian mereka berdua saja. Mair dan calonnya sedang memikirkan untuk persiapan financial kedapannya. Terlebih Mair juga yang mau sekolah lagi D4 tahun ini. (amin…)

Kemarin itu aku sempet ngomongin soal nge-kos bareng lagi  kalau kita berdua keterima di D4 unpad. Kita merencanakan banyak hal, kek mau membiasakan masak sendiri, biar sama-sama belajar untuk kehidupan rumah tangga nanti. Ceileeee… gaya yah bahasannya, haha… Aku juga sempat memberi masukan sama Mair soal kebingungannya untuk menikah. Aku nyaranin dia sih untuk disegerakan saja, toh calonnya juga sudah lulus bulan kemarin. Oh iya, calonnya Mair itu seumur sama dia, lulusan ITB, temen dia waktu SMP, jodoh emang bener2 gak keduga yah? Hehe…

Yang bikin aku kagum lagi adalah pola pikir mereka melihat masa depan. Calonnya Mair itu yah orangnya optimis sekali, penuh dengan perhitungan. Hmm…pinter banget lagi, dia itu ingin ke luar negeri, mengikuti jejaknya pak habibie katanya, yaitu ingin ke Jerman. Terlebih katanya memang kalau lulusan Teknik Penerbangan belum terlalu “berkembang” bila di Indonesia. Jadi, calonnya itu lagi ngejar beasiswa buat kesana. Kalau bisa sekalian ingin sambil bekerja juga nantinya. Calonnya itu sebenernya udah ingin segera menikah, hanya Mair masih ragu di masalah financial, apalagi selama kuliah tentunya dia gak akan kerja. Padahal menurut akuu, tinggal ambil saja dulu tawaran kerja dari perusahaan yang ingin ngerekrut calonnya itu. Bahkan katanya dengan gaji kurang lebih 6 juta per bulan. Menurut aku sih udah cukup yaaa, sementara nunggu Mair sampe lulus kuliah tahun depan, yawdah mereka ngontrak rumah aja dulu, “kan katanya mau keluar negeri, yawdah gak usah beli rumah dulu aja, kek Risma pas kuliah dulu aja,” Menurut aku yang lebih utama adalah niat untuk segera menghalalkan hubungan itu, klau soal kedepannya jarak dan waktu untuk mereka ketemu, toh Mair pun meng-iya kan bahwa selama mereka pacaran saja mereka jg kuat untuk sering bertemu, “berperih-perih dulu demi masa depan” katanya. Mair sendiri lebih pada tak mau lagi berdosa dengan hubungan ini, lama-lama juga katanya tidak nyaman. Dia nyeritain semuanya sama aku, dia emang butuh seseroang untuk dia ajak biacara kek gini. Dia emang butuh banget masukan tentang hal itu. Aku bantu ngeyakinin dia buat semakin YAKIN untuk segera menikah. Seperti kata calonnya, “kalau rezeki orang menikah itu urusan Allah, bahkan biasanya lebih mengalir.” Dan akuu setuju sekali dengan itu.

Aku kagum sama mereka, pemikirannya sudah jauh. Calonnya juga baik dan dewasa sekali, melebihi usianya, hehe… Mair malah selalu becandai akuu yang sama2 punya mimpi buat go abroad dari dulu. Dia Jerman, sedangkan aku ingin sekali ke Belanda. “Jerman sama Belanda gak jauh kan fu?” hahha… aku hanya tertawa dan memintanya untuk mendoakanku. Secara si akuu ini belum jelas kedepannya gimana (maksudnya soal pasangan hidup, haha…), hanya berani mengukir mimpi-mimpi dan berusaha serta berdoa agar bisa terwujud. Aku juga bilang sama dia bahwa tetap targetku menikah maksimal tahun depan, meskipun aku tidak tahu sama siapa, bahkan sekarang belum ada calonnya (Haha, lucu sekali, padahal tahun depan ituu sebentar lagi…) Aku hanya percaya bahwa saat kita sudah memiliki niat yang kuat, bukan hal yang sulit bagi Allah untuk mewujudkannya menjadi kenyataan bila memang itu yang dikehendaki-Nya. Mair juga meberi nasehat sama akuu supaya aku menjadi orang yang lebih “terbuka” untuk menerima seseorang yang berniat baik. Ha ha… dia memang tahu bagaimana keukeuhnya aku dalam memegang “prinsip”. Aku hanya bilang, “aku hanya mencoba mempercayakan hati aku yang mengambil alih, Ir”

Dia tahu tentang akuu yang seringkali patah hati, smentara beberapa mengulurkan tangan untuk aku. Meskipun aku tidak terlalu bercerita detil padanya, tapi dia mengerti bagaimana perasaan aku. Aku hanya bisa meminta padanya untuk mendoakan akuu, agar segera diberi yang terbaik sama Allah. Aku cuma bisa bilang bahwa pangeranku adalah tentunya seseorang yang berani, berani untuk mengambil keputusan, berani dalam bersikap, berani yang tak hanya dalam mengungkapkan perasaan, berani untuk bertemu ayahku, dan berani menjemput aku. Dan sayangnya yang berani itu belum ada, ha ha… kebanyakan minder, merasa tidak siap, tak mau mengambil resiko untuk mengalami penolakan (ha ha dasar pria!!! :p), terombang-ambing dalam pilihan, dan banyak hal lain. Ahh, sampai sekrang pun aku tidak mengerti jalan pikiran pria itu seperti apa, he…he…

Yang pasti, aku sama2 satu paham saat ini sama mair, bahwa bila pun kami sekolah lagi D4, tak akan menghalangi niat kami buat bisa menikah maksimal tahun depan. Toh, menikah sambil kuliah sebenernya bukan menjadi halangan atau hambatan, itu sangat tergantung dari orang yang menyikapi dan menjalaninya. Yang ini kita berdua sepakat. Haha…  Aku juga becandain gini sama dia, “Tapi kalau kamu nikah beberapa bulan kedepan, nanti aku ngekos sendiri doong?” ha ha…. Dasoor!!! Tetep aja yang dipikirinnya diri sendiri. Hmm… aku mah masih tetap bersyukur sama apa yang Allah beri mulai dari perasaan yang ada di hati aku, orang2 yg di samping aku, sampai kondisi aku yang seperti sekarang ini. Aku bersyukur, karena tak ada nikmat Allah yang boleh kita pungkiri, semua harus kita syukuri. So, aku mah simpel aja, jalani yang ada di hadapan, kerjar mimpi dan target akuu, tetap komitmen pada diri sendiri untuk ikhlas dan sabar dalam menjalaninya. Amin. Allah, bimbing hamba-Mu ini…

*hmm… hal beginian emang rumit, gak bisa diprediksi, hihi.. :D

Senin, 18 Juli 2011

Tentang menikah!

Sekarang saya mengerti (padahal dari dulu sebenarnya sudah mengerti) kenapa Allah dan Rasul begitu menganjurkan sebuah pernikahan, jua para murabbi dan kawan sepemikiran yang menganjurkan menikah muda. Karena ada ketentraman di dalamnya, karena bagaimanapun tak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di dunia ini tak bisa sendiri. Menikah juga adalah wujud rasa syukur kita terhadap Allah yang menciptakan setiap makhluk-Nya berpasangan. Setelah menikah, semua halal, semua berpahala. Semua kata-kata mesra dan pujian adalah pahala, bukan dosa seperti yang mengucapkannya sebelum menikah. Rabb, ampuni hamba, karena mungkin hamba begitu egois pada rasionalitas sendiri, dan terlalu cepat mengambil keputusan. Rabb, rasanya sakit sekali, mohon akhiri semua ini... T_T

Sekarang saya akan meyakini, bahwa Allah pasti akan memberi rasa yang ajaib untuk ia yang Allah takdirkan untuk saya. Bahkan yang lebih dari apa yang sebelumnya telah saya rasakan. Meski saya sendiri tidak tahu entah itu kapan. T_T

*di saat orang-orang telah jauh melangkah, dan saya hanya berkutat dengan keegoisan pemikiran saya! Astagfirullah... T_T

Perpisahan

Kenapa harus ada perpisahan? Karena selalu ada pertemuan!

Kenapa harus ada pertemuan? Karena selalu ada pembelajaran!

Kenapa harus ada pembelajaran? Karena ada kehidupan!


Jangan tanya kenapa ada kehidupan? Karena itu tandanya kau sudah musyrik terhadap adanya Allah. Yang telah menciptamu, menyayangimu, mencintaimu...

Allah, kalau setelah perpisahan, ada pertemuan lagi kan?

Semoga gelas baru itu yang terakhir, bukan lagi yang membuat hatiku remuk berkeping-keping...

Senin, 30 Mei 2011

What's life?

...life is a struggle of separating milk from the butter. We know it’s futile, but we also know that the butter is made up from milk. The struggle ends when we can recognize the milk from the butter, without having to separate the two. So it’s not a matter of separating, but recognizing. Embracing the butter as a whole, without mistaking the butter from the milk. -someone

Minggu, 17 April 2011

Malam

 Originally created by Fu

Dahulu, malam disambut angin dengan sapa hangatnya, yang menghantarkan tarian anak-anak bersarung dalam canda tawa. Malam tak nampak gelap dalam sorot mata mereka yang bening, tak seperti pabrik-pabrik yang terus saja berdesing, atau juga lolongan pojok kota yang semakin melengking. Tak ada sejenak, meski sekejap.

Dahulu, malam disambut awan dengan senyum manisnya, meski membuatnya kasat mata dari tatapan anak-anak yang berdoa. Malam bukanlah teror yang menakutkan tubuh mereka yang mungil, tak seperti kertas warta berhuruf arab yang dijadikan fosil, atau juga pengerat jalanan yang merajuk dibuatkan kastil. Tak ada maaf, apalagi hak.

Kini, malam tak lagi sama. Dinginnya tak bermakna, hangatnya tak dirasa, bahkan kehadirannya tak dicinta. Dinikmat dalam selintas hambar, bahkan hingga ditelan fajar. Tanpa doa, apalagi ikhtiar.

Boleh jadi nanti, malam semakin tak sama. Laiknya sabit yang tak seistimewa purnama. Karena malam telah terbuang, mengalah terkuras siang. Karena malam telah tersingkirkan, dirindunya hanya kala ada seribu rembulan.

17 April, 2011

*Astagfirullah... T_T

Sabtu, 16 April 2011

Langkah

 Originally created by fu

 langkah yang membayang, perlahan memudar di telan petang. manakala gelap tak perlu khawatir, sebab ikrar kemarin kembali terukir. laiknya angin darat yang selalu menepati, pada nelayan yang beranjak pergi. meski awan telah disembunyikan, oleh langit yang mengusir biasan. dalam senyap, juga dingin meratap.

 rasanya tak perlu menjumlah langkah kita sendiri, entah itu ragu, terperosok, hingga bimbang yang berapa kali. kita hanya perlu menyimpan, semisal batu dalam ukiran. menggagas, dalam membekas. tentang janji tak terraih, tak ada yg perlu ditagih. kita hanya butuh cermin, meneliti janji mana yang harus dipilin. jika semua tentang mencinta, maka semua tentang diri kita.

biarlah tak usah menilai seberapa langkah yang menjejak, atau juga membekas, memudar, bahkan hanya melayang ombak. sebab ini bukan tentang jumlah yang menyudah, atau nilai yang tertuai. karena kita tak pernah paham bentuk nilai sebenarnya, yang mewujud angka serupa matematika, ataukah puji dan cela yang menggantung paradigma.

 langkah ini tentang diri kita, mengajari rela lalu meraba bahagia. dimana tulus yang terbentang, meluas tak berhingga rasa lapang. meski rindu yang tertahan, tak jua tahu terjawab kapan.

 semua tentang diri kita, kau dan aku, dan arah yang kita tuju. masihkah niat yang melagu, melangkah padaNya dengan terberat rindu?


14 April, 2011


*ini bikinnya dibantuin T'hesty, tapi fu modif lagi, biasaaaa pecinta rimaaa, heu.... ;p
kangen Aa, haha... afwan yaaaa... ^^,

Kamis, 07 April 2011

Celoteh Malam

Allah... saya tidak tahu harus bercerita pada siapa tentang apa yang hati saya rasakan. Saya hanya bisa menuangkannya dalam sebentuk buliran-buliran ringan yang kelaur dari kelopak, sambil memunajatkan dalam beberapa tangkup doa, yang saya hantarkan dengan kegetiran hati yang tak tertahankan.

Allah... saya juga tidak tahu kenapa hal ini terjadi pada saya. Ini untuk pertama kalinya saya benar-benar membutuhkan waktu lama dalam merekonstruksi hati saya. Ampuni saya ya Allah, jikalau sesungguhnya saya sendiri yang telah mempersulit penataan hati ini.

Allah... saya sungguh lemah tak berdaya. Kondisi saat ini pun bisa saya dapatkan hanya karena kekuatan dariMu. Saya merasa terhempas dan melayang entah kemana. Seperti tidak mengenali diri saya sendiri. Tapi saya tak mau orang lain tahu kesedihan yang saya rasakan. Biarlah mereka berpikir bahwa saya baik-baik saja.

Allah... hilangkanlah segera... Amin...

Selasa, 05 April 2011

Siapa Yang Salah?

Originally created by Fu

Rujuk merujuk pasien sudah barang tentu menjadi hal yang lumrah terjadi dalam mekanisme pelayanan kesehatan. Tentunya hal ini telah menjadi rutinitas yang dianggap "biasa" bahkan "seharusnya" dilakukan, bila memang suatu instansi pelayanan kesehatan tidak mampu menangani, hingga menyerahkannya pada instansi pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dan dianggap "mampu" menangani. Namun, dibalik dianggap "biasa"-nya rutinitas ini, telah menjadi rahasia umum bahwa rujuk merujuk ini juga menyimpan sekelumit kisah sampai banyak kontroversi.

Sebagai salah satu pelayan kesehatan masyarakat, profesi saya tentunya ikut ambil bagian dalam lingkaran sistem rujukan ini. Apalagi profesi bidan ini ditentukan sebagai elemen dasar pelayan kesehatan pertama, yang menjangkau masyarakat secara langsung, khususnya dibidang kesehatan ibu dan anak tentunya. Suatu kehormatan sekaligus beban tersendiri sebenarnya bila mengingat akan kewajiban dan tuntutan yang harus dipenuhi.

Menjadi sebuah prestasi bila kasus normal dapat tertangani dengan baik, namun menjadi aib serta problema berkelanjutan bila ada kasus yang tak dapat tertangani. Hal tersebut disebabkan beragam kemungkinan mulai dari ketidakmampuan deteksi dini, ketidakpatuhan melakukan tindakan sesuai SOP, keterlambatan merujuk, dan berbagai alasan lain. Disinilah sebenarnya sistem kolaborasi itu berfungsi. Dimana harus ada kerjasama yang baik dengan petugas kesehatan lain juga instansi pelayanan kesehatan lain. Pada kolaborasi rujukan berbagai kasus terkadang tak lepas dari ketidaksesuaian dan kesalahpahaman. Acap kali fenomena "saling menyalahkan" terjadi baik itu antara pasien dan petugas kesehatan maupun antar sesama petugas kesehatan itu sendiri.

Serba salah rasanya bila keputusan merujuk itu harus ditetapkan. Kesan ketidakmampuan dalam penanganan seringkali terlontar dari pihak pasien terhadap petugas kesehatan pertama yang menanganinya. Belum cukup sampai disitu, terkadang sindiran dan kesan “menyalahkan” oleh petugas kesehatan tempat rujukan kerap kali harus diterima oleh pihak yang merujuk pasien. Apalagi bila kegawatdaruratan obstetri dan neonatal itu menimbulkan sesuatu yang fatal. Faktanya memang instansi pelayanan kesehatan yang menyumbang AKI dan AKB paling tinggi adalah rumah sakit, dan sebagian besar penyebabnya didapat dari banyaknya kasus rujukan. Dan fenomena saling menyalahkan memang tak dapat dihindarkan, berlangsung sekaligus dengan tindakan saling menutupi kesalahan bila Audit Maternal Perinatal dilakukan.

Kalau terus bertanya siapa yang salah, akan terjadi tuding menuding yang tidak akan pernah berujung sampai kapanpun. Petugas kesehatan tempat rujukan menyalahkan petugas yang merujuk, petugas yang merujuk angkat tangan menyalahkan pasien, pasien sendiri berkilah pada keterbatasan biaya dan pengetahuan atau bahkan kembali menyalahkan petugas yang merujuk. Tak akan berakhir karena membentuk lingkaran bahkan siklus tak berkesudahan yang itu-itu saja.

Kalau terus bertanya siapa yang salah, pasien sebagai rakyat biasa sebenarnya bisa menuntut bidan atau petugas kesehatan lain atas MAL praktek di saat kegawatdaruratan terjadi. Karena faktanya, memang masih ada saja petugas kesehatan yang memanfaatkan "kebodohan" pasien akan hal medis sebagai alas melindungi diri dari ketidaksesuaian hukum dan etika profesi. Pasien juga tak bisa disalahkan sepenuhnya saat ia lebih memilih ahli pengobatan alternatif, paraji, atau bahkan dukun untuk kesembuhannya. Karena faktanya, biaya kesehatan di negara ini dianggap sudah mulai tidak masuk akal lagi.

Ironis memang, karena sering kali keharusan malah berbanding terbalik dengan kemampuan. Seperti dalam hal bersalin misalnya, masyarakat "menengah ke bawah" mati-matian berusaha ingin bisa melahirkan normal karena ketidakmampuan biaya operasi, sementara di sisi lain masyarakat "menengah ke atas" malah bersikeras ingin operasi caesar padahal masih bisa melahirkan normal. Di lain hal, saat petugas instansi pelayanan kesehatan pemerintah bekerja keras menangani pasien yang melebihi daya tampung, banyak" instansi swasta malah bersikukuh mengutamakan kepuasan pelanggan yang ditebus sesuai dengan perlembar materi yang tersanggupi.

Kalau terus bertanya siapa yang salah, petugas kesehatan sebagai abdi negara wajar menuntut akan ketidaksejahteraan dirinya. Karena bagaimanapun tenaga dan jasa harus berbanding lurus pada penghargaan yang didapat. Dimana tuntutan akan "target pencapaian" dan “berkas pelaporan” yang menumpuk, tumpang tindih dengan keharusan terlaksananya pelayanan yang memuaskan sekaligus. Sementara itu, harga yang didapat tidaklah sebanding dengan kerja yang dilakukan. Ditambah lagi aturan perundang-undangan yang dibuat se-"ideal" mungkin nyatanya tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sebenarnya. Seperti halnya permenkes terbaru tentang wewenang praktek bidan misalnya, di sana tertuang beberapa aturan yang terkesan "maksa" tanpa mempertimbangkan kondisi yang ada. Bagaimana tidak, bila beberapa wewenang bidan akhirnya dibatasi dengan dilatarbelakangi berbagai kasus melenceng yang terlapor dilakukan bidan. Aneh memang bila pembuat kebijakan tidaklah termasuk profesi yang menjalankan kebijakan itu sendiri, karena buktinya tidak ada seorang pun "bidan" yang menjadi bagian dari pembuat kebijakan tersebut. Sementara di sisi lain program yang masih diusahakan adalah "bidan desa", tidak diimbangi oleh keberadaan “obgyn desa” misalnya. Jadi pantaslah bila kasus kegawatdaruratan yang seringkali terjadi di daerah terpencil, masih menyumbang AKI dan AKB dikarenakan ketidakterjangkauan tempat pelayanan kesehatan juga ketidakmampuan petugas dalam penanganan.

Ironis memang, karena seringkali ketidaksesuaian terbantah oleh kelumrahan. Tidaklah heran bila ekspresi datar bahkan tidak mengenakkan muncul dari petugas kesehatan dalam menyaksikan kegawatdaruratan bahkan kematian. Meskipun hal itu telah menjadi "kewajaran", tetapi sebenarnya hal tersebut menjadi ketakutan dan kegetiran tersendiri bagi mereka. Karena bila tidak dengan sikap seperti itu, siapa lagi yang rela hati menangani pasien dengan sekejap melupakan materi, ditengah tekanan akan tuntutan profesi dan penghidupan sekaligus.

Kalau terus bertanya siapa yang salah, pemerintah mungkin menjadi pangkal dari segala problematika ini. Segala aspek di luar kesehatan pun pastilah menuduh tersangka utama dari berbagai tumpahan kesalahan itu adalah pemerintah. Disamping berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dengan memunculkan banyaknya program kesehatan, entah itu mulai dari jaminan kesehatan masyarakat kurang mampu, pemerataan tenaga kesehatan, pengadaan tunjangan kesehatan, dan berbagai program serta kebijakan lain. Namun hal itu tidak lantas menjadikan derajat kesehatan bangsa ini segera membaik, atau setidaknya bisa disejajarkan dengan negara-negara tetangga terdekat minimalnya. Selain itu, hal tersebut juga tak membuat status korupsi bidang kesehatan yang ada di peringkat ketiga (setelah pendidikan dan agama) menjadi menurun jua.

Ironis memang, di saat upaya perbaikan yang diimpikan tak bisa lepas dari ketidaksesuaian tindakan nyata. Dimana kita tak bisa menutup mata bahwa pelayanan yang berkualitas harus didukung pula oleh petugas kesehatan dan fasilitas kesehatan yang berkualitas. Untuk memenuhi itu semua, diperlukan dana yang tidak sedikit tentunya. Ya, bagaimanapun semuanya berujung pada ketersediaan biaya. Parahnya lagi, bukanlah karena pengadaan obat atau alat kesehatan yang harganya mahal semua ini terhambat, tapi justru proses pengadaan turunnya dana yang biasanya terlipat di berbagai tingkat.

Kalau terus bertanya siapa yang salah, semuanya tidak bisa dinyatakan mutlak bersalah atau tidak bersalah. Namun satu hal yang pasti, bahwa semuanya ikut bertanggungjawab dalam kelancaran pelayanan kesehatan, baik itu masyarakat, petugas kesehatan, juga pemerintah. Tidaklah hanya cukup puas dengan pencapaian 380/100.000 pada AKI dan 29/1000 pada AKB (Data tahun 2010). Meskipun faktanya memang terjadi penurunan per tahunnya, tapi seharusnya kegagalan visi Indonesia Sehat 2010 menjadi tamparan yang cukup dahsyat, sebagai bahan refleksi dan introspeksi seluruh elemen kesehatan di negara ini. Ya, setidaknya target MDG’s masih 4 tahun lagi kan?

Seharusnya kita semua tak perlu lagi berkutat pada pertanyaan "Siapa yang salah?". Lebih baik beralih pada pertanyaan "Siapa yang bergerak memperbaiki?".
Kalau bukan kita, siapa lagi?

*ah fu, kau masih kecil, beraninya kau bicara!
1 April 2011

Baca Notes Orang Tentang Jodoh

“... Orang yang salah memaksamu memilih tapi tidak memberikan pilihan. Namun, orang yang tepat membiarkanmu memilih sekalipun ia bukan pilihan ...”

Seperti halnya rizki yang harus kita cari di siang hari atau malam hari, dengan sepenuh jiwa melalui tetesan keringat juga doa. Begitu pula jodoh, Allah menghendaki kita agar berusaha mencari dan menemukan jodoh terbaik kita masing-masing.

“Jodoh adalah takdir atau ketentuan yang sekaligus berkaitan dengan peran Allah dan ikhtiar manusia”

 ”Jika kamu tidak berniat menikahi seseorang maka jangan main-main dengan hubungan”. Persiapkan diri untuk menjemput jodoh yang baik. Dengan kata Ali, jadilah ALI JIKA INGIN MENDAPATKAN FATIMAH

“Diam! Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang cukup cintai ia dalam diam, karna diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya. Kau ingin memuliakan dia dengan tidak mengajak menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya. Karna diammu bukti setiamu padanya. Karna mungkin saja dia telah Allah pilihkan untukmu. Dan jika memang cinta dalam diammu tidak memiliki kesempatan berbicara di dunia nyata maka biarkan ia tetap diam, karna Allah lebih tahu yang terbaik untukmu dan semoga rahmat Allah tercurah untukmu”

*saya harus sabar... Bismillah...

Senin, 21 Maret 2011

Tentang Taaruf dan Hubungan dengan Ikhwan

Ini share dari salah satu sahabat fu, yang fu sangaaat sayang padanya Insya Allah, meskipun kita gak pernah ketemuuu... >.< Fu tidak sebut nama di sini. Ukh, terima kasih yaaa.... Syukron jiddaan.... ^^,

Tujuan ta’aruf adalah saling mengenal satu sama lain dengan tujuan untuk menikah, namun cara yang dilalui syar’i. Disitulah letak perbedaan ta’aruf dengan pacaran. Ta’aruf harus ditengahi oleh orang ketiga, dan orang ketiga pun hendaknya memang orang orang – orang yang sudah paham, dan sebaiknya juga orang yang sudah menikah. Dalam ta’aruf juga harus ada kejelasan dari kedua belah pihak, bahwa itu hanya ta’aruf, means bisa jadi iya, bisa jadi nggak.

Dengan asumsi bahwa akhwatnya siap menikah, maka bila :

1. Kalau ternyata ikhwannya ingin mencarikan jodoh, maka silakan proses melalui Mrbyah akhwatnya. Kalau Mrbyahnya belum ada, mungkin bisa dicarikan orang yang bisa diwakilkan. Tentunya carilah orang yang sudah paham, sehingga dalam proses nanti bisa membimbing.

2. Kalau ikhwannya yang berniat melamar akhwat tersebut, baiknya ditanyakan apakah hal ini sudah ditanyakan ke Mrb ikhwannya. Dan baiknya juga disampaikan agar ta'aruf itu ditengahi pihak ketiga agar hati lebih terjaga.

Penengah yang paling utama adalah Mrb dan Mrbyah, karena memang Mrb dan Mrbyah punya tanggung jawab untuk mencarikan jodoh terbaik bagi binaannya. Jadi baiknya Mrb ikhwannya dan Mrbyah akhwatnya mulai kontak2an untuk memperjelas langkah selanjutnya.

***

Sedikit tentang proses in general dalam ta’aruf.

1. Komunikasi awal antar Mrb ikhwan dan akhwat atau dari Mrb ke orang penengah.

2. Orang tengah/Murobbi akan menghubungi masing – masing calon, dan memberikan guide tentang proses ta’arufnya seperti apa.

3. Saling kirim “Form Bailtul Muslim” yang biasanya nanti dikasikan. Biasanya setelah itu akan ada tanya jawab mengenai form dulu by email. Tentunya semua komunikasi di tengahi oleh orang ketiga tadi.

Peran orang ketiga ini sangat crucial, bukan hanya sebagai “penjaga” tapi juga pembimbing.

4. Kalau dari form sudah ok, biasanya akan bertemu langsung dengan pendamping masing2 (i.e Mrb) atau orang tengah.

5. Kalau dari pertemuan langsung sudah ok, family visit. Perkenalan dengan keluarga.

6. Kalau dari keluarga sudah ok, then tinggal ditentukan tanggal pernikahan yang sesuai dll.

Gimana? :) sebenarnya prosesnya biasa aja kan ya? Tapi ya itu tadi, dalam ta’aruf sebaiknya semua proses komunikasi diketahui oleh Mrb dan orang tengah, kalau tetap mau sendiri2, buat apa ada orang tengah, apa bedanya dengan orang pacaran. Allahu’alam bishawab.

So, untuk ukhti, silahkan ditanyakan kepada beliau.

Dan terakhir, mungkin sama –sama mulai dari sekarang kita katakan pada diri kita “no male friend or best friend”.. yang ada adalah “saudara laki2”. Seteman – temannya ikhwan, mereka tetap laki – laki, sek-kakak – kakaknya ikhwan, mereka juga tetap laki – laki non muhrim. Kitalah yang harus pandai pandai menjaga diri. Bukan berarti jadi memutus hubungan, tapi kurangi interaksi yang tidak perlu.

Perbanyak teman dengan akhwat. Kalau harus ada interaksi dgn ikhwan, usahakan ada orang ketiga yang menenemani. Bahasa dalam komunikas pun hendaknya dijga, cukup yang penting – penting saja, tidak perlu terlalu banyak ekpresi yang mengundang. Mungkin awalnya terasa aneh, tapi lama kelamaan insyaAllah akan terasa lebih nyaman. Saya pun insyaAllah pernah melalui fase ini, fase di mana menjadi lebih sering tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas arahnya atau kepentingannya, fase di mana lebih memilih mendoakan daripada keseringan tanya kabar, dan yang terpenting kalau komuniakasi bisa lewat facebook atau skype, maka akan dimauskkan orang ketiga. Allahu’alam. :) Sometime mungkin ada yang privacy, tapi jujur aja, biasanya jaraaaaaaaaaaaang sekali, so kalau ada yang privacy banget, jagalah bahasa komunikasi.

Saya sayang Foe. InsyaAllah, Allah-lah sebaik – baik tempat bergantung. Ok ;)

*Fu hanya bisa menangis. Astagfirullah.... T_T Let's take a pray.... Allah, lindungi fu selaluuuuu.... ^^,

Masukan dari seorang Ukhti

Sekedar tadzkirah, coba buka QS.Al-a'raaf: 179. di sana dituliskan tentang pentingnya mata telinga dan hatii.
*) Jagalah mata dan telinga karena keduanya akan direct mempengaruhi hati apa yang kita lihat, kita tonton, kita baca...
lagu apa yang kita dengar, suara siapa, dsb akan sangat mempengaruhi.
Ibaratnya bagaimana mau menjaga hati kalau tontonannya sudah bertema cinta dan lagupun lagu cinta. Ditambah, bacaan, juga bacaan cinta.
Awalny mungkin sulit.. cobalah perlah - lahan dan istiqamahlah :) Allah yang akan tolong, insyaAllah.


*) waktu luang kita
untuk apa dipergunakan, ushaakan jangan sampai ada waktu yang kosong
karena disitulah syaitan akan masuk dengan mudah mengalihkan kita ke hal duniawi

*) Tilawah kita Kesibukan dan rutinaitas kita pun bisa menggerogoti iman. So, sempatkan tilawah meski hanya beberapa ayat di waktu senggang. Buat targetan sehari mau berapa. Karena sungguh Allah sudah menjadikan Qur'an juga untuk meneguhkan hati orang beriman.

Intinya, hati kita hanya ada satu, kalau tidak diisi oleh Allah maka iblis dengan sigap akan mengisinya. Na'udzubillahimindzalik.

Hamasah Ukh! :)

*Sometimes, I Loose my self.... T_T

Surat Untuk Yabi -2-

Originally created by Fu

Sebuah surat terperangkap (lagi!)


Assalamu’alaykum wr wb

Yabi, bagaimana kabarmu? Aku hanya selalu berharap kau berada dalam keadaan yang baik, melalui beberapa tangkup doa yang selalu kuhantar untukmu. Agar Allah senantiasa menjagamu, melancarkan segala urusanmu, juga memberkahi setiap jejak langkahmu.

Yabi, sudah lama rasanya kita tak bertutur bersama meski hanya sekadar berdebat jumlah bintang di langit malam ini. Atau juga menerka-nerka bentuk rembulan mulai dari sabit hingga purnama lagi. Atau juga menikmati sajian langit malam dengan diam tanpa komentar sama sekali. Tapi tahukah kamu bahwa dari situlah kita sama-sama menyelam, memaknai yang kau suka dan tak dapat  aku rekam, merasai yang kusuka dan tak dapat kau tilam. “Aku suka, karena kau suka.” katamu pelan.

Yabi, aku lebih memilih untuk amnesia sejenak bila mencoba mengingat bagaimana aku mengenalmu. Seperti yang aku adukan padamu di suatu malam, bahwa aku masih saja belum mengerti bagaimana aturan perkenalan lelaki dan perempuan dalam Islam. Dimana aku tengah kebingungan diantara berbagai jawaban dan petuah, bahwa itu fitrah, bahwa itu lumrah, bahwa itu absah, dan berpura-pura tidak tahu bahwa itu cara jahiliyah. Tidakkah aku terlalu berlebihan bila nyatanya penjagaan pandangan, hati dan lisan telah tergantikan, oleh pesan mengudara yang sekenanya dikirim dengan alasan kekaguman. Tidakkah aku terlalu idealis bila nyatanya fakta itu datang dari mereka yang mengaku aktivis, yang berkoar teori toleransi logis, namun mengkonsumsi pil kewajaran overdosis. “Mari bersujud, karena hanya Allah lah yang mengetahui seberapa munafik hati kita.” katamu menitikkan air mata.

Yabi, aku tak pernah menyesal telah bertemu denganmu, melainkan berucap syukur bahwa Allah telah memberikanmu untukku. Seperti yang telah aku tuturkan, bahwa untuk meyakinkan keputusan padamu perlu kejernihan hati dan keluasan pikiran, juga tak hingga istigfar pada niat dalam ketulusan. Dimana aku harus menjelaskan pada bunda bahwa yang berjanggut tipis bukan berarti fanatik atau bahkan teroris, yang bercelana bahan bukan berarti tak punya celana jeans melainkan sebuah kesederhanaan. Tidakkah aku terlalu aneh bila nyatanya yang tampak sempurna tak aku toleh. Karena yang tampan berbalut kebanggaan hanya akan mencintaiku diwaktu muda, yang kaya berbalut kesombongan hanya akan menganggapku sebagai beban nafkah saja. Tidakkah aku terlalu fanatik bila nyatanya yang tampak baik tak aku lirik. Karena yang bangsawan berbalut warisan hanya akan memajangku layaknya boneka, yang bergelar dai berbalut sorban hanya akan merebutku dari Allah pemilik jiwa. “Mari bersujud, karena hanya Allah lah yang mengetahui seberapa rendah derajat kita.” katamu menitikkan air mata.

Yabi, mungkin aku yang terlalu menuntutmu sempurna, untuk menjadi suami, ayah, kakak atau terkadang adik yang manja. Seperti yang sudah kau tahu, bahwa aku tak terlalu mengerti dan memahami jalan pemikiran kaummu, mungkin karena aku tak pernah berani bertanya pada ayah seperti apa lelaki yang baik itu. Bahkan sampai saat ini aku tidak memahami apa hubungan lelaki dan  buaya, karena sepanjang hidup aku disuguhkan penampakkan seorang lelaki seperti ayah yang begitu setia. Tidakkah aku terlalu pemilih bila nyatanya untuk menantimu itu terkadang membuat tubuhku letih atau berjalan tertatih, hanya berbekal nasihat bunda yang berpesan lirih, “Hati-hati pada lelaki yang menyebar jaring pada beberapa wanita, lalu di suatu saat memilih yang paling pas menurutnya. Jangan percaya pada lelaki yang mengobral janji, karena lelaki yang baik itu adalah yang memikir berkali-kali segala konsekuensi, yang memilih diam dalam kesabaran, atau berani membuat keputusan, dengan jalan yang Allah halalkan serta rasul teladankan.” Tidakkah aku terlalu keras kepala bila nyatanya memilihmu tak semudah yang aku kira, karena perlu keselarasan hati, pikiran dan jiwa, hanya berbekal nasihat ayah yang berpesan secara seksama, “Lelaki shalih itu banyak jumlahnya, namun yang terbaik untukmu hanya satu saja. Oleh karena itu jangan tergesa-gesa membuat keputusan, jangan pula mengulur-ngulur keputusan hanya karena perasaan. Karena wanita yang baik itu adalah yang tak mendahului ketetapan Tuhan, yang memilih malu mengungkap fitrah perasaan, atau menerima dan memutuskan.”

Yabi, maafkan aku yang mungkin telah menyakiti hatimu karena ketidaksesuaian penempatan perasaan. Aku hanya ingin memastikan bahwa kaulah cermin itu, yang tak hanya memantulkan penampakkan, namun bersama mengadakan perbaikan. Aku ingin meyakinkan bahwa kau memang memilih segala kekuranganku. Tidak karena parasku, tidak karena penampilan luarku, tidak karena profesiku, tidak karena apa yang orang bilang tentangku. Karena selain komunikasi, yang penting dalam sebuah pernikahan adalah kepercayaan dan kerelaan. -Kepercayaan untuk belajar mengenal tiada henti, karena pernikahan bukanlah akhir dari sebuah perkenalan, melainkan awal sejatinya sebuah pengenalan. Kerelaan untuk menerima segala aib diri, karena pernikahan merupakan kesediaan untuk saling menerima yang sebelumnya tak terdengar, terlihat, terraba, bahkan terrasakan, yang mungkin jauh dari segala impian. “Mari bersujud, karena hanya Allah lah yang mampu menyatukan, membimbing, serta menguatkan hati kita.” katamu menitikkan air mata.

Yabi, mungkin aku tak sepenuhnya menjadikan cinta sebagai alasan menikah denganmu, namun izinkan aku menjadikan pernikahan sebagai alasan untuk mencintaimu. Insya Allah...

Kemarin, Maret 2011
Menelisik embun yang tak ditemui fajar tadi

Tentang Hati

About my heart???

Fu sedang mencoba menata hati untuk gak mau terlalu memikirkan hal itu. Teralu sakit, terlalu ribet, dan terlaluuu bikin gak produktif. Hahaaa.... Yang utama tentunya takut dosa. Takut Allah gak Ridha, dan takut si setan senyam senyum karena fu ngagugulung masalah begituan. Ahhh, entahlah, mau PM yang masuk fb, sms atau apapun saat ini gak terlalu fu gubris. Rasanya ingiiiiin sekali saya menjadi orang biasa yang dianggap orang biasa saja. Ingin deh, para “mereka” ituh tahu kejelekan-kejelekan fu sehingga membuat mereka mikir-mikir lagi buat kagum lah ato apa laaahh. Astagifirullah.... kamu tuh ngaco yah fu, aib yang sudah ditutupi Allah malah ingin diketahui orang. Dosaaa tahuu!!! Ampun ya Allah... Cuma kadang fu ngerasa aneh banget yah jadi seorang fu. Kek yang gak bersyukur. Hmm... you know what I mean.... Gak bersyukur di sini lebih ke tak menghargai orang yang jelas-jelas tulus n ikhlas, malah ngarepin ditulusin dan diikhlasin ma yang laen. Dasar manusia yaaah, gak pernah puass!!! Astagfirullah...

Soal nikah mudaaa? Ohhh... itu tteup... haha, dasar penganut paham kebelet nikah. PLAK! Padahal mungkin aja sebenernya fu ini belum siap, secara masih kekanak-kanakkan beuuuuuuddd ya Allah... nanti gimana kalau nikah? Hmm... fu hanya ingin segera “tenang”, entahlah susah untuk diceritakan. Lagipula kalau soal nikah mah mama papa gak pernah ngelarang-larang harus umur segini lah segitu lah, dan lah lah lainnya. Cuma yaa sebenernya dari fu sendiri nya juga kek yang belum ngerasa sreg aja, kek ada yang masih mengganjal. Hwaa, masih ndak tega ninggalin keluarga fu...(emang kamu mau kemanaaa? PLAK!)

Hal yang paling fu ingini sekaligus takuti adalah ada yang MELAMAR, pLAK!!! Kalau di pelm pelm india ada yang nanya, “Mujhse Shaadi Karogi?” Alah...alaaahhh... PLAK!!! Saat ini gak ada tuh, hoho... seperti yang fu jelasin, kek nya fu yang terlalu idealis kali yaaaa... Heuuu.... sebenrnya ada rahasia yang ingin fu ceritakan, tapi ndak usah deeeh, Heuuu... Mudah-mudahan Allah beri yang terbaik saja. Aaahh, saya sudah cukup ndak mudeng dengan beberapa tawaran, “Fu, temen saya niat banget sama kamu, cuma katanya insya Allah pertengahan tahun, nyelesein kuliahnya dulu.” Lha!!! Yaudah aja selesein dulu, gak usah ngomong-ngomong atau janji-jani dulu, lagipula heran aku, kenal pun belum, tahu aja nggak, ehhh,, udah berani bilang kek gituuu, Hmmm... kalau di pelm-pelm sih yaa, fu udah ancem pake timpukan sendal. (Sadis amat, neng? Haha...) Yaaa cuma gak suka aja kali yaa sama tipe-tipe yang kek gitu, Haduuuuh itu namanya mendahului ketentuan Allah. Berani janji hal beginian itu RISKAN menurut Fu... alaaaah itu mah aku nya ajah kali ya yang emang BEBAL, hhoho...

Sekarang ini, fu menanti kejutan ajah dari Allah, apapun itu.... Karena fu senang kejutan-kejutan dari-Nya. Allah itu baiiiiiikkkkk banget. Meskipun ngasih rasa sedih, sakit, perih, tapi SELALUUUUUUU ajah ada hikmah dibaliknya, yang selalu juga membuat fu malu pernah rengek-rengek gak jelas, ngeluh nu teu pararuguh sama Allah. Tapi Allah gak pernah berpaling meski fu sering kali bikin Allah cemburu dengan mikirin hal-hal yang gak harus dipikirin. Astagfirullah... T_T

Sekarang ini mah, kalau ada apa-apa mending bilang ke Allah aja, minta sama Allah, kalau mau nangis sama Allah. Gak mau ngeluuuuuuuuuuh lagiih. Meskipun memang ada beberapa Teteh yang selalu menjadi tempat fu curhat, seperti tadi juga fu abis sms-an. Aahh... kepada siapa lagi, teman laki-laki? Tidak! Seorang kakak! Tidak! Fu hanya bisa menutupnya rapat rapaaaat sekali. Kalaupun curhat gak terlalu lebay seperti biasa, heu.... dasar yaaah kamu Fuuuu... PLAK!!!!

Hmmm....menikah ya? Belum kebayang juga. Secara fu adalah si sulung, wah, nanti gimana yah? Aaahahh...... sudaaah jangan dipikirkan, nanti ngayal macem-macem bkin setan seneng. Sekarang still wait my prince ajah... Ayo-ayo bersihkan hati. Bagi yang akan menikah, fu doakan semoga berkah yaaaa.... ^^,


Tentang menulis

Assalamu’alaykum wr wb...

Astagfirullahal’adziiim... afwaaaan jiddan, sudah sangat lama tidak posting di sini. Fu sombong banget yah sampe-sampe tiap pas pulang OL juga cuma sempet OL fb doang. Aa, maf yaaa.. Huhu.... (alasan... PLAK!) Waaa... sebenarnya sangat amat banyak hal yang terjadi tapiiii saking banyaknya jadi lupa lagi. Padahal tadinya ingin posting di sini. Hmm... kegiatan di rumah lumayan padet. Alhamdulillah udah mulai ada yang order, selain dari produksi harian buat sekolah si adik. Entah itu cookies, cake, dan yang lain...

Waaah... fu merasa amat bersalah, soalnya terakhir posting itu tanggal 7 Maret, dan sekarang sudah tanggal 20 maret. That’s mean udah 2 minggu fu gak posting tulisan di sini. Hwaduuuuuuh penurunaaaaaan. Maaf ya Aa... maaf banget. Soo... fu cicil deh satu persatu.

Mulai dari mana yaaaa??? Tentang Menulis aja dulu yaaa....
Hmm... entah kenapa produktifitas menulis sekarang ini sedang menurun. Bagaimanapun menulis itu membutuhkan ide, dan fu merasa kalau otak kita sedang berjejal dengan berbagai permasalahan atau istilahnya “Ndak ada ruang buat sang ide”, maka dipaksa untuk menulis pun ya susaaaah. Sooo, terbukti bahwa fu hanya menghasilkan tulsan yangs edikit saja di bulan Maret ini, hwaaaa... celakaa kamu fuuu!!! Astagfirullah.... padahal sebelumnya sudah komit bahwa minimal bkin tulisan itu 10 perbuan. Beuuuuuhhh, ai sekarang gimana? Ya Allah... mudah-mudahan nantinya fu bisa istiqomah. Insya Allah semangat menulisnya sudah bangkit lagi.

 O iya, sekarang teh lagi rieut sama proyek buku saku itu, yang tadinya mau disekaligusin berbagai materi, jadinya malah satu persatu, terpisah. Jadi sekarang mau mendahulukan ANC dulu katanya, mudah-mudahan April udah terbit. About my novel? Entahlah, pihak Republika sulit sekali untuk dihubungi, saat fu tanya beberapa staf redaksinya, katanya emang novel fu itu masuk waiting list book yang akan  terbit Maret, teruuuuss pas tanya Mbak Andri editor awal yang ngurusin naskah fu, dia bilang lagi diurusin, terus lagi ribet juga kerjaannya. Soooo.... jadi fu yang gak enak soalnya terkesan nanya-nanya teruuuuss... Ya udah lah sekarang mah ya still wait saja. Lagipula fu cukup menikmati jalan hidup yang Allah berikan saat ini (bukannya dari dulu juga harusnya dinikmati? Dasar kamu Fu!!!)

Fu tetep interest dalam hal tulis menulis, meski belum ada karya yang diterbitkan, meski masih acak-acakan, meski masih sangat amatir, meski tak bisalah dibandingkan bahkan dengan para blogger yang suka nulis. Ya iniii, terbukti dari blog ini yang isinya juga acak-acakan banggggeeeettt, beuuuuhh... PLAK! Mana ada rapih-rapihnya coba. Makanya pas salah satu blogger nawarin fu buat masuk grup para blogger di fb untuk memposting tiap tulisannya, fu agak enggan-enggan gimanaaa gitu, Ya secara tulisan fu di sini memang tidak niat untuk benar-benar diketahui orang. Ya kalau ada yang baca manggaaa, kalau gak ada pun TAK APA-APA. Karena di sini tempat fu benar-benar mencurahkan hati tanpa harus pikir-pikir  untuk dinilai orang atau apalah. Makanya enii tulisan di blog acak-acakan semuaaahhh... heu.. PLAK!

O iya, kemarin fu iseng-iseng ngirimin salah satu tulisan fu ttg surat buatmu, A... soalnya ada antologi gitu lah. Dan kata tim yang ngadain lomba itu, tulisan fu bagus, heu... Alhamdulillah... dibilang “Dear citra, saya suka suratmu, semoga semua doanya terkabul, nice written ^^,” Cie...cieee..... heu... PLAK! Katanya tuh antologi mau dibukuin gitu, self publishing, nanti yang tulisannya masuk di sana boleh juga beli (waaahh ndak gratis ya? Hohooo... PLAK!) segitu juga cuma iseng, alhamdulillah.... ^^ untk orang amatir seperti saya, yang ndak pernah berani bahkan masukin tulisan ke koran. Padahal udah didesek-desek sama mama papa *sambil gaya memelas. Gak tahu kenapa fu ngerasa ya tulisan yang fu hasilkan hanyalah curahan hati. Entah itu puisi atau apapun, yang pasti sampe saat ini fu belum bisa bikin cerpen yang baik dan benar. Euuuuh, lebih suka yang panjang-panjang kek novel, meskipun tuh novel belum nulis lagi jugaaa... Hwaaaa ayo semangat Empuuuu, kamu pasti bisaaa!!!

Sooo... I wanna be a good writer.... Bismillah...
Doakan ya a... ^^,


Teteup eksis dan narsiiiisss.. PLAK!!!
Saya selalu ingin buat orang lain tersenyuuummm, karena senyum itu ibadah termudaah.. ^^,
(eni tumben pake ijo-ijo.... dibilang "cantik" sama karyawan klinik kalau pake baju n jilbab senada warna ijo agak tua ini, kek nyi blorong tapi cantik katanya, Lha, emang nyi blorong cantik yah? PLAK!)

Sabtu, 05 Maret 2011

Antara idealis dan Syukur

Terlalu idealiskah saya?
Di tengah rasa syukur orang lain atas sebuah ketulusan?

Terlalu idealiskah saya?
Di samping senyum orang lain atas sebuah penerimaan?

Terlalu idealiskah saya?
Di balik keberanian orang lain atas sebuah pengajuan?

Idealis! Tapi ini dunia nyata!

Tidakkah saya bersyukur?
akan sebuah ketulusan, bukan lagi tuntutan

Tidakkah saya bersyukur?
akan sebuah kesabaran, bukan lagi penantian

Tidakkah saya bersyukur?
akan sebuah senyuman, bukan lagi keseganan

saya ingin belajar menghargai orang yang menghargai saya tulus. juga ingin belajar mencintai orang yang mencintai saya tulus.

*beritahu saya, bagaimana tulus itu.?

#is it you, a?

Senin, 07 Februari 2011

Jatuh Cinta?

Originally created by Fu

Saat sebuah fitrah rasa hadir, saya hanya bisa berdoa.

Tidak mau berharap untuk bertemu apalagi bertatap muka. Mungkin karena saya terlalu takut bahwa yang hinggap di hati saya itu bukanlah yang terpilih untuk saya. Saya hanya selalu berdoa pada Allah : “Ya Allah… bila suatu saat itu tiba, biarkanlah semua indera saya tak bermakna sementara, kecuali satu hal saja, izinkan hati saya yang bicara.”

Cukuplah harmoni kata yang tercipta menjadi sebuah kenangan saja. Bahwa untuk bisa mendengar dan berujar bersama yang terpilih untuk saya, saya harus melewati sebuah dinamika, yang setiap awal dan akhirnya haruslah bermuatan kesyukuran pada-Nya.

Tidak mau saling bersua meski hanya saling menyapa mata. Karena saya merasa hanya manusia biasa, takut bahwa setan hinggap daripadanya, hingga bisa mengotori hati dan pikiran saya. Saya hanya selalu berdoa pada Allah : “Ya Allah… bilapun hati saya harus bergetar karena sebuah kejujuran pandangan, maka getarkanlah hanya oleh ia yang Kau pilih untuk saya saja.”

Cukuplah rona dan senyum yang ada menjadi sebuah elegi sekejap mata. Bahwa kuasa Allah yang bisa membuat saya tersenyum gembira juga tertawa bahagia. Yang dengan itu juga Allah menyadarkan saya bahwa setiap jiwa berada dalam genggaman-Nya dan bisa Dia bolak-balik hatinya sekehendak-Nya.

Biarlah orang bilang saya munafik ataupun hina. Tapi saya tidak mau memaksa. Setiap yang Allah berikan untuk saya adalah sesuatu hal yang harus saya terima. Saya hanya takut, bahwa saya mendahului apa yang Allah takdirkan untuk saya. Saya hanya khawatir, bahwa saya tidak bisa menjaga hati saya untuk tidak jatuh cinta.

Semua yang pernah, sedang, dan akan dialami sebelum saya bertemu dengan yang terpilih untuk saya, maka saya anggap sebagai sebuah persimpangan rasa, bukan apa-apa.

Maaf, saya tidak akan pernah jatuh cinta! Karena cinta hanya akan saya berikan untuk yang Allah takdirkan untuk saya. Dan itu bukan jatuh cinta, tapi bangun cinta!
Setiap Allah memberi saya sebuah fitrah rasa, maka saya hanya bisa membalutinya dengan kesyukuran, bergegas untuk mengendalikan, dan mengambilnya menjadi sebuah pembelajaran. Amin. Insya Allah

Jatuh cinta? Tidak mau! Bangun cinta? Menanti waktu! ^^

*I always wait my prince. If you are my prince, that’s mean I always wait you…

-setengah dua belas malam-
7 Februari, 2011

!Ah, dari dulu karakter saya memang ungu…


Minggu, 06 Februari 2011

Tak Lagi Tanya

Originally created by Fu

: kepada kayu

Lihatlah, tak lagi tanya
kesiaanmu tersayat nafsu
yang menoreh luka
 : sesalmu menjadi di seukir meja

Dengarlah, tak lagi tanya
keterhempasanmu terbelah ego
yang memisah raga
: sesalmu menjadi di segesek biola

Rabalah, tak lagi tanya
keraguanmu teriris waktu
yang menghilang percaya
: sesalmu menjadi di segores tinta

Rasakanlah, bila
keringmu menegap, menguap atau menenun asap
basahmu melebur, melumpur atau merenda jamur
: dan sesalmu tengah menggugur

Tunggulah, hingga
masa embun menetes hinggap, meresap
: juga sesalmu tak lagi terucap

-dinginnya Bandung-
Safar 1432 H

*setelah seminggu kebingungan dan seharian kedinginan. Teringatkan telah lama belum ada yang sa. Teringatkan terlalu lama belum ada yang saya hasilkan dan tuliskan. >.<

#Aa...afwan sebenernya ini puisi fu posting di fb hari jum'at... tiap mau posting di blog pasti loadingnya lama, jadi baru sempet sekarang... maaf ya... ^^