Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 November 2012

Narasi Pernikahan ; Teruntuk Teh Rayi & Kang Panji

Originally created by Fu

Rekam jejak yang terhampar telah mereka susuri dengan tertatih. Lelah yang melanda, tak mampu menjadikan sepasang hati yang telah terpisah sekian lama menyerah. Mereka percaya, suatu saat akan ada masa dua hati mereka berlabuh di dermaga yang tepat. Mengumpulkan serak-serak rindu yang terurai hampir seperempat abad lamanya. Dengan cara istimewa, dengan jalan yang disukai Tuhan dan Rasul kita.

Hujan telah menjadi saksi mereka menimba asa sekuat tenaga. Perih yang mendera seluruh tubuh, pikiran dan rasa, ternyata tak mampu menggoyahkan yakin dalam diri, bahwa Tuhan Maha Segala. Sesekali mentari hantarkan senyum yang membungkus mereka pada cahaya-cahaya cinta, kemudian membuat dua hati itu tersipu akan segala rencana-Nya. Hujan dan mentari, yang menyisikan pelangi untuk mereka tepat pada masanya.

Garis takdir selalu bersinggungan. Mudah bagi Tuhan, menghantarkan sepucuk rindu di hati yang satu untuk hati yang lain. Mudah bagi Tuhan, menyalakan pendar cinta di hati yang satu pada hati yang lain. Mudah bagi Tuhan, menyelaraskan impian di hati yang satu untuk digapai berjamaah dengan impian di hati lain. Hingga mereka menyadari; bahwa segala persamaan diantara mereka, bisa menjadi sumber energi untuk mencapai langit bersama; dan segala perbedaan diantara mereka, menjadi percikan impian yang akan menghias langit berdua.

Mereka yang telah percaya, bila telah sampai masanya, semesta pun kan turut bahagia menghantarkan sajak dengan sukarela:

duhai dua hati yang mencinta,
rindu telah kau jemput dengan jumput cahaya
dalam derai air mata, sempurna
lukislah langit dengan tangan yang saling bergenggaman

duhai dua hati yang menyatu,
senyum telah kau peroleh dengan kerling embun
dalam sesak yang menahun, mengalun
gapailah langit dengan sujud kalian yang berjamaah

duhai dua hati, selamat
doa tulus terhantar untukmu
sepasang insan Tuhan yang tertakdir bersama;
Feny Renita dan Panji Gugah Baskara.

Barakallahu lakuma wabaraka ‘alaykuma wajama’a bainakuma fii khaiir…

Bandung, November 2012
Foezi Citra Cuaca Elmart

Selasa, 16 Oktober 2012

Menikahlah Bukan Karena Masa Lalu

Originally created by Fu

Banyak orang yang bertanya pada saya, kenapa saya bersedia menikah dengan seorang Ikhsanun Kamil Pratama. Katanya, kenapa saya yang tidak pernah pacaran sama sekali mau menikah dengan orang yang pernah pacaran berkali-kali seperti dia. Katanya, mengecewakan sekali saya yang bisa menjaga diri dari hal yang Allah larang itu, namun mau menikah dengan orang yang justru pernah melakukan hal tersebut. Katanya inilah, itulah. Mereka bertanya kenapa rasanya tidak sekufu atau apalah pandangannya.

Saya hanya tersenyum menanggapinya, kemudian hanya akan berkomentar bahwa saya tak pernah merasa salah menikah dengannya, menikah dengan lelaki paling baik yang pernah saya temui. Rasanya sombong sekali bila menyesalinya, karena hal ini sudah menjadi takdir dan kehendak Allah SWT.

Bagi saya, masa lalu setiap orang tak pernah menjadi patokan yang utama. Setiap orang berhak untuk memiliki masa lalu yang buruk, namun setiap orang juga berhak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Setiap orang berhak memiliki masa kini yang  lebih baik dan masa depan yang lebih baik lagi, dibanding masa lalunya, karena memang itu adalah suatu keharusan.

Dari dulu saya paling tidak suka “judgemental” pada orang, apalagi bila saya belum mengenalnya. Maka meskipun dari dulu prinsip saya tidak mau pacaran, saya tidak mau untuk merendahkan orang-orang yang memang berprinsip seperti itu. Bahkan saya dekat dengan mereka, banyak teman saya yang pacaran namun justru sering curhat sama saya perihal hubungan mereka. Lucu memang, orang yang tidak pernah pacaran sama sekali sering jadi tempat konsultasi banyak orang perihal seperti itu. Bagi saya, hanya ada satu Dzat yang berhak menghakimi apakah seseorang shaleh/shalehah, apakah dia lebih baik atau tidak satu sama lain, yaitu Allah SWT. Saya tidak boleh merasa diri saya lebih baik dari orang lain sedikitpun, padahal boleh jadi dosa-dosa saya jauh lebih besar dibanding mereka yang dianggap tidak shaleh/shaleha.

Rasanya predikat shaleh/shaleha yang dicap manusia itu justru menjadikan suatu beban, karena toh predikat itu sebenarnya didapat saat kelak di akhirat, saat kita bisa bertemu dengan Tuhan dan Rasul kita. So, jangan salahkan orang yang pacaran bila kita sendiri hanya berdiam diri, jangan merasa lebih baik dari mereka, karena boleh jadi amalan wajib dan sunnah kita tak pernah lebih baik dari mereka. Boleh jadi kita memiliki banyak lumbung dosa yang lain dibanding mereka. Teman seperti itu perlu dirangkul, bukan untuk dihakimi, karena boleh jadi mereka masih melakukan hal tersebut karena mereka tak tahu, ya karena mereka tak tahu, dan tugas kita sebagai orang terdekat yang mengingatkan.

Menikah itu bukan mempermasalahkan seberapa buruk masa lalu seseorang, namun seberapa banyak ia belajar dari masa lalunya, mengambil hikmah dari masa lalunya, yang menjadikan pribadi masa kini yang lebih baik. Menikah itu masalah seberapa kuat dan yakin seseorang untuk mengukir masa depan yang lebih baik, bersama pasangan yang Tuhan takdirkan untuknya.

Dulu sebelum menikah, suami saya seringkali merasa ia tak pantas dengan saya, katanya : “Kalau dosa beraroma, maka kau tak akan mau menikah denganku.” Kemudian saya juga jawab : “Dan kalau memang dosa beraroma, maka kamu pun lebih tak mau menikah denganku.” Saat itu ia kemudian menitikkan air matanya. No! saya tidak mau merasa bahwa diri saya begitu suci dengan tidak pernah pacaran, bahwa saya harus menikah dengan orang yang tidak pacaran juga. Sungguh terlalu dangkal apabila pemahaman keadilan manusia yang jadi patokan, karena terkadang keadilan Tuhan itu bahkan tak bisa dicapai nalar manusia, bahkan keadilan Tuhan seringkali dianggap suatu ketidakadilan bagi manusia. Nah, boleh jadi mungkin suami saya memiliki dosanya yang pernah pacaran, namun itu telah terhapus dengan segala amalan baiknya, taubat nasuha yang ia lakukan. Boleh jadi juga, meskipun tak pacaran namun dosa saya berlumur dari ranah-ranah lain, yang terkesan tak terlihat, karena hanya diri saya sendiri dan Allah yang mengetahuinya.

Ah, saya hanya terlihat begitu baik karena Allah yang telah menutupi aib-aib saya. Allah yang Maha Baik yang masih menjaga kehormatan dan harga diri saya di depan orang lain. Bila Allah berkenan, sangat mudah baginya untuk membongkar seluruh aib dan dosa saya selama ini. Saya menikah dengan seorang Ikhsanun Kamil Pratama, karena Allah yang memantaskan kami untuk saling menjadi cermin, saling melengkapi untuk memperbaiki diri. Maka, untukmu yang akan menyempurnakan separuh agama, menikahlah bukan karena masa lalu yang jadi patokan utama, namun menikahlah dengan ia yang mampu mengambil hikmah untuk memantaskan diri di hadapan-Nya, menjadi pribadi yang lebih baik, di saat ini dan seterusnya. Menikahlah dengan ia yang mau bergerak bersama menuju perbaikan tanpa henti, hanya demi ridha Illahi rabbi.
Masa lalu adalah suatu pembelajaran, masa kini adalah kehidupan, dan masa depan adalah harapan. Nikmati dan syukuri setiap prosesnya. Wallahualam :)

Menikahlah bukan karena masa lalu, namun menikahlah karena Allah sang pemilik masa :) 
Bandung, 16 Oktober 2012

Senin, 08 Oktober 2012

Kado Puisi dan Narasi Pernikahan Fu & Canun

Originally posted by Fu

Saya menyukai tulisan dan selalu menyukai puisi, prosa, rangkaian kata-kata yang terbentuk menjadi kalimat yang indah, puitis dan romantis. Hal itu pula yang membuat saya juga selalu sangat mengapresiasi sebuah kado ataupun penghargaan dalam bentuk tulisan. Inilah beberapa kado pernikahan yang saya minta buatkan dari teman-teman saya, yang lihai sekali dalam menerjemah dan merangkai sastra. Ada yang memberikan saya dan suami narasi pernikahan, ada pula yang memberikan saya dan suami puisi pernikahan. Meskipun saya juga senang mendapatkan kado-kado dalam bentuk barang, juga doa-doa yang tak ternilai, namun saya menempatkan kado-kado berupa tulisan ini sangat istimewa sekali di hati saya. Terima kasih untuk semuanya, insyaAllah kado ini akan hadir di buku saya selanjutnya, setelah buku "Menikah Itu Mudah". ^_^

Pertama, kado dari Bezie Galih Manggala, sebuah narasi pernikahan yang dibacakan setelah akad berlangsung
***
Narasi
: Cuaca, Kamil

Suatu esok, ada masa di mana setiap sentuh genggam meluruhkan dosa-dosa kita yang menyelaksa; menyepuh setiap bulir air mata yang menjama’ah doa; menggantinya dengan cinta, menyamudera.

Suatu esok, ada masa di mana setiap kerling matamu yang memanja meneduhi jiwa; menangkap binar cinta tanpa rentang lama; memuncakkan setiap bahagia, memesona.

Suatu esok, ada masa di mana pena kita menari menggoreskan tinta berdua; mengisahkan asma-asma memahadaya; merangkum madani akan semesta, mencahaya.

Suatu esok, di teriknya kilau mentari, gelitik rinai hujan, pendaran bias pelangi, hingga pejaman gulita; kaki-kaki kita tetap jenaka melangkahi bayang jejaknya, menuju taman surga, selamanya.

:demi suatu esok itu, bersabarlah cinta.

- Foezi Citra Cuaca Elmart. "Suatu Esok."

Membicarakan narasi, tentulah ia diawali rekam jejak-perkenalan; semacam serapan cahaya rembulan pada punggung malam yang pertama; yang menandai suatu pagi dimana semesta tidak akan pernah lagi menjadi sebagaimana, pengap seperti sebelumnya; tak lagi gelap terlelap, awam temaram; tak lagi selamanya senyap; hingga pagi akhirnya pun datang, menerbitkan terang yang sesekali benderang, meski terkadang masih tampak remang.

Bagi Fu dan Canun, mungkin pagi pada narasi mereka, lahir pada suatu hari itu; pada sebuah ruang dimana ilmu beredar mencipta benang-benang takdir, sebuah seminar dan training, yang tanpa disadari menghubungkan kedua mempelai kita hari ini. Takdir yang selalu berbisik pelan-pelan, perlahan menautkan, memperkenalkan; berawal dari sebuah pertemuan sederhana; yang berlanjut pada bincang-bincang tanpa rencana; tanpa disengaja membuka tabir tentang kesamaan visi dan cita-cita.

Entahlah, malaikat manapun tak pernah menyangka; dua insan yang berbeda sifat dan rupa; telah secara rahasia dipertautkan oleh yang maha Berencana.

Sang Ksatria, Ikhsanun Kamil Pratama, adalah sesosok pemuda yang menyembunyikan potensi luar biasa; meski dirinya memiliki ide-ide yang, dalam bahasa anak muda hari ini, "ide-ide gila"; tidak biasanya ia berbicara, apalagi membaginya kepada orang yang baru saja dikenalnya.

Tapi bidadari ini berbeda, mungkin begitu adanya; nyatanya impian-impian yang membuat 'canun' luar biasa, terlantun begitu saja; menyapa lembut pendengaran Fu, Foezi Citra Cuaca Elmart lengkapnya, dan terasa sebagaimana mimpi yang selama ini pula terpendam dalam benak terdalamnya.

Ya, ternyata keduanya memiliki kesamaan; sama-sama merasakan bahwa, mengabdi kepadaNya berarti menjaga dari hal-hal yang tak diridhai; yang juga berarti menjaga diri, dan menikah muda!

Adalah mimpi, yang perlahan tumbuh menjadi, pondasi-pondasi niat dalam hati; pada sepasang muda-mudi, yang telah lama mencari, makna dari terciptanya diri.

Adalah mimpi, yang terucap sebagai janji, bahwa hidup ini bukanlah sekedar untuk dinikmati; hidup berarti mengabdi, kepada Tuhannya semesta dan diri.

Hingga tak lama akhirnya, Fu dan Canun memutuskan untuk menautkan dua mimpi yang saling menopang, bergenggaman; melangkah bersama berdua menantang, bersamaan. Tak mau berlama-lama menjaga rasa yang tak semestinya, mereka akhirnya sama-sama berani berkata; "halalkan saja!"

Meski barang tentu, sebagaimana seharusnya; mimpi tak bisa seenaknya saja meracau, menabrak-nabrak kenyataan yang ada; mana bayarannya? Ada perjuangan yang harus ditempuh. Berbulan-bulan do'a dan air mata, yang tak lepas dari cibiran dan prasangka yang tak sedap menderap telinga, menyesaki hati dengan luka-luka yang tak kasat mata.
Ada pula coba dan dera; masalah yang tak diduga-duga; tidaklah mudah meninggikannya, sebuah menara cahaya ditengah terpaan arus dan samudera.

Namun keduanya tegar, berjuang agar pesan mereka tersebar; bahwa niat mereka paripurna, bahwa langkah yang mereka ambil matang dan dewasa; bahwa keputusan ini adalah tentangNya! Tentang Dia yang mencipta dengan cinta. Tentang narasi cintaNya!

Hingga akhirnya semesta tunduk, atas titahNya.
Narasi ini tak sempurna; ya, tak seperti kisah mereka yang begitu lengkap dan bahagia. Perlu lebih dari ribuan malam membicarakan langkah-langkah juang mereka berdua; semesta turut berbicara, ribuan kekata; tapi cukuplah hari ini kita sama-sama berdo'a; "Barakallahu lakuma, wa baraka alaikuma, wa jama'a bainakuma, bikhair."

- Bandung, 5 April 2012.
Dibacakan di Majalengka, 6 April 2012


Kedua, puisi dari Teh Henny Hasan dan Teh Hesty Wahyuningsih, dua sahabat maya saya yang sangat saya sayang karena Allah...
***
Kata-kata menyempurnakan dirinya menjadi kalimat
: puisi cinta.

Pada kesederhanaan hati semua bermula. Sebuah ruang yang akhirnya memiliki penghuninya sendiri.

Selamat pagi, pengantin.
Ada embun dan ranting-ranting basah yg turut mendoakan, semoga keberkahan melimpah di setiap langkah. Dari hari ketika kalian memilih jalan sama yg searah, hingga kalian tak lagi mengenali apakah waktu masih menyertai dunia ataukah musnah.

Selamat siang, pengantin.
Semoga kalian tak lekas lelah ketika terik memenuhi hari. Kami berharap, kisah yg kalian tuliskan adalah tentang sepasang sayap yg tetap gagah mengepak.

Selamat malam, pengantin.
Datangnya gelap akan menutupi benda dari pandangan mata. Begitu pun dengan kalian, akan menjadi penjaga rahasia satu sama lain.

Selamat bagi kalian, pengantin.
Selamat menikmati cinta.
Semoga kelak lahir kebaikan-kebaikan dari keduanya dan bahagia selamanya.

***

Ketiga, dari sahabat saya, seorang dokter muda lulusan UGM, yang anomali dan penyuka sastra dan puisi, Aditya Putra Priyahita
***

barisan puisi tertunduk takzim pagi ini
menyambut hangat mentari selepas deras malam tadi
merasakan gemulai embun merengkuh daun-daun
teriring kicauan langit buncahkan rasa lama terpingit
dan kuncup asa bermekaran jadi bunga


pagi ini adalah mitsaqan ghaliza
tempat dua anak manusia berikrar setia
bukan pada cinta, hanya Pencipta saja
satu kayuh berdua satu layar bersama
bukan untuk dunia, tapi menuju ridha-Nya


hari ini sebuah janji menjelma prasasti
dan mimpi sedari dini telah disulap hakiki
lunas jua berjuta doa berbumbu air mata
yang dieja cakrawala setiap langit beranjak senja


maka pada haru yang menderu
tak henti dzikir mengalun merdu
maka untuk tangis manis tak lagi mengiris
cinta untuk-Nya tak kan berkurang walau seiris
maka dari syukur pengantar simpuh terpekur
ketaatan berdua kian nian bertambah subur
karena bahagia tak bisa dikata seribu bunga
maka biar lelah dalam dakwah yang melukiskannya


pagi ini sebuah tulang rusuk kembali ke tempatnya
lalu aku dan kamu dibelai cinta menjadi kita
maka bertamhid seluruh penjuru dunia
karena langkah perjuangan kan meraksasa
dan bersama kita hela tiap detik wangi surga

selamat berjuang tuan dan nyonya...
Pacitan, 8 April 2012

***

Terima kasih untuk semuanya, yang telah mengirimi kami dengan doa tulusnya. semoga Allah yang Maha Segala membalas yang terbaik untuk semuanya. semoga kami juga tetap istiqamah di jalan sunnah para Nabi ini. Membangun peradaban, beralih dari munfarid menjadi berjamaah. Amin...
Mohon doanya juga ada beberapa buku yang sebentar lagi terbit, juga beberapa yang sedang kami garap bersama lagi. InsyaAllah target 10 buku dari kami berdua terbit tahun ini. :)

Kamis, 11 Agustus 2011

Mushaf Unguku

Seperti yang udah aku ceritakan kemarin, kalau aku sayang sekali pada mushaf aku yang warna ungu terbitan Al-kamil itu. Secara nyari-nyarinya dulu susah sekali. Saat warna ungu belum menjadi tren untuk desain mushaf. Gak seperti sekarang ini yang lumayan banyak beberapa penerbit mushaf mulai memproduksi cover mushaf Al-Qur’an berbagai warna. Kemarin, ada seseorang yang ngasih aku mushaf Al-qur’an terbitan Al-Burhan berwarna ungu. Warnanya lebih muda dari mushaf aku sebelumnya. Aku suka sekali. Isinya jauh lebih lengkap dibanding yang punya aku.

Aku sempet bingung waktu dikasih itu mushaf, soalnya aku mau kemanakan mushaf ungu punya akunya? Orang yang ngasih bilang pokoknya mushafnya harus dipake dan harus dibaca. Sedangkan yang namanya mushaf Al-qur’an itu kan gak pernah habis. Mau sampai kapanpun ya tetap dibawa, dipake dan dibaca, berulang-ulang. Waktu aku pulang ke klinik, orang klinik ribut saat aku ngeluarin mushaf ungu yang baru dikasih. Ya mereka tahu soalnya yang aku punya bukan yang itu. Banyak yang komentar aneh-aneh. Katanya so sweet sekali dikasih mushaf Al-qur’an. Haduuh menurut aku itu beban justru, soalnya bagaimana aku bisa memanfaatkan mushaf itu dengan sebaik-baik amalan. Bukan hanya membawanya, memakainya, maupun membacanya, tapi agar mengamalkannya. Yang ngasih sangat berharap bahwa dengan mushaf itu aku benar-benar bisa mencapai salah satu mimpiku aku untuk jadi hafidzah, dan dia ingin mushaf ini menjadi saksi perjalanan aku untuk mencapainya. Tuh, kan beuuuuurraaat! Hmm… aku ambil hikmah positifnya aja kalau aku harus lebih semangat untuk tilawah dan menghafal al-qur’annya.

Waktu ngebahas soal mushaf baru aku itu, ada salah satu karyawan klinik yang nyeletuk ingin sekali punya mushaf al-qur’an yang “efisien” seperti itu. Maksudnya yang ukurannya tidak terlalu besar, ada reseletingnya, isinya lengkap dengan terjemahan, juga ada konten tajwidnya. Aku langsung berpikiran untuk memberikan mushaf itu sama dia. Aku tawarkan sama dia, “Mau nggak?” dan dia langsung antusias sambil berbinar-binar bilang, “Mauuu banget Bubid, beneran ini teh?” Dia bener-bener seneng waktu aku kasih mushaf punyaku yang sudah menemani perjalanan tilawahku kurang lebih tiga tahun itu. Dia bahkan heran kenapa meski udah tiga tahun mushafnya masih bagus, padahal tiap hari selalu aku pakai. Hehe, aku emang awet kalau punya barang. Apalagi itu barang kesayangan, akan aku jaga sebaik-baiknya. Makanya mushaf aku pun kondisinya masih bagus.

Aku terharu sekali setelah serah terima mushaf ungu aku itu, yang sebelumnya aku cium dulu sebelum aku kasih ke tangan karyawan klinik. O iya, namanya Onih usianya baru 19 tahun, dia bekerja dulu soalnya ingin ngumpulin buat bisa kuliah tahun depan. Dia langsung nulis di belakang mushaf itu, “Alhamdulillah dikasih tanggal 10 Agustus 2011 sama Bidan Fu”, lalu setelahnya dia minta aku untuk tanda tangan di sana. Hwaaa… terharuu, ingin nangis. Selain melepas mushaf ungu yang teramat sangat aku sayangi itu, aku juga haru soalnya sebegitu senangnya Onih aku kasih mushaf. Dibawah tanda tangan aku yang kata orang lucu berkarakter (PLAK!) itu aku selipkan kata2, “Semoga bermanfaat dan sering dibaca yaa.. :)”. Dia mengaminkan dan bilang makasih lagi. Alhamdulillah… memang benar kalau ada rasa bahagia yang tidak bisa diukur dan dibeli oleh apapun saat kita memberi sesuatu pada orang lain, sekecil apapun itu.

Aku memang punya kebiasaan seperti itu pada barang yang aku punya. Maksudnya bila barangnya masih bisa dipakai namun aku punya yang lain. Seperti mukena misalnya. Saat aku membeli mukena baru, aku selalu menghibahkan mukena aku yang lama yang memang masih bersih, bagus dan tentunya masih sangat layak pakai. Biasanya aku simpan di mushola kampus kalau dulu mah. Sebenarnya kenapa harus beli yang baru ya kalau yang lama masih bisa dipakai? Aku sih sebenarnya jarang beli, hanya saja tak jarang ada yang ngasih sama aku, apakah itu mama, saudara atau teman aku. Cara aku menghargai pemberian itu ya harus menggunakan dan memanfaatkannya dengan baik. Oleh karena itu, aku lebih senang memakai pemberian dari orang lain, dan yang milik aku sendiri aku berikan. Supaya lebih berkah juga pahalanya double kita dapat. Menghargai pemberian orang lain dengan memanfaatkannya dengan baik, sehingga aku dan yang memberi sama2 dapat pahala. Juga memberikan yang aku miliki pada orang yang lebih membutuhkan, sehingga aku dan yang diberi juga sama2 dapat pahala saat barang itu digunakan dengan baik. Fastabikhul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. ^_^

Aku belum sempat memotret mushaf baru aku yang merupakan pemberian itu. Insya Allah nanti kapan-kapan aku posting yaaa… ^_^
Untuk seseorang yang telah baik hati memberi mushaf ungu itu, terima kasih yaaa... :) Insya Allah akan selalu aku bawa, pakai, dan baca. Semoga harapan dan doanya untuk aku juga terkabul. Amin... semoga berkah dan rahmat Allah juga selalu mengalir untukmu,

Selasa, 09 Agustus 2011

Di atas permadani ini

Originally created by Fu

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku menebarkannya. Butir-butir pasir yang kita ambil di suatu pantai tanpa cerita, dalam senja yang selalu kau rindu untuk direguk jingganya. Berharap satu persatu menemukan kisahnya, mengganti keterhempasan dengan bahagia yang diramu Tuhan. Kau yang selalu mengingatkanku bahwa senyum bukan hanya sewujud simbol simestris sungging di bibir, melainkan wakil dari perbincangan hati yang liris. Tersenyumlah, katamu. Meski tak beralasan, ia kan menghantarkanmu pada kebaikan. Meski tak berbalas, ia tercatat Tuhan sebagai pahala yang menderas. Dan pasir putih itu jua memahamkanku akan kekerdilan, yang tak pun menjadikannya hina tanpa kerelaan.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku memandanginya. Lekuk-lekuk bumi yang telah tergurat, yang kita bedakan dalam beberapa warna pada kanvas tak beralas. Aku yang membuatkannya sajak dan prosa, sementara kau melukisnya dengan polesan tinta yang menjadikannya beraneka. Berpadu kita pada ayat yang mengindahkan bumi tak hingga. Tentang padi yang merunduk bumi, ilalang yang menantang alam, beringin yang menyetia usia, jua kaktus yang menyabar gurun. Kau yang memahamkanku akan kesempurnaan, ia yang mesti dipandangi dari tuas Tuhan. Seperti bumi yang tak pernah iri pada langit yang dihormati dengan tengadah, sementara ia dihargai dengan seberapa mahal injakan tanah.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku merangkainya. Rasi-rasi bintang yang selalu menarik hati kita bertautan saling sapa, dalam keindahan rembulan yang utuh pada purnamanya dan meruncing pada sabitnya. Menunggu pola-pola yang kuat kita rajut menghias langit dalam poros, meski tak kan seindah yang telah Tuhan ukir jauh hari. Kau yang selalu merindukanku dalam celoteh malam yang mendetik lekas. Tentang galaksi kita yang terasing dengan mentari menyingsing, tentang perdebatan kita dalam kotak kecil tanpa cahaya yang merahasia. Tuhan tidak hanya di Arasy-Nya, katamu. Dia melampaui ketidakterjangkauan rasional akal kita. Dalam air matamu, sayatan lukamu, bahkan melebihi itu, Dia bersemayam di kalbumu. Dan rasi bintang itu mematriku akan kemanfaatan, yang tak pun menjadikannya sia-sia meski hanya setitik cahaya.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku menenunnya. Buntalan awan  yang sekilas rapuh, namun memadati doa-doa kita dalam peluh. Membiarkannya tergiring angin, sebelum berhenti dan menemukan tempat berlabuhnya untuk menumpah. Jangan membenci hujan, pesanmu. Karena ia yang menumbuh suburkan benih cintamu, sebab ia yang menghidupi impianmu. Akan indahnya pelangi, yang membukti bahwa Tuhan memang tidak tidur sama sekali. Kau yang memahamkanku bahwa kemarau, mentari, hujan dan pelangi tak kan mengubah gairah pagimu, seperti Tuhan yang tak pernah bosan memelihara awan-awan di hatimu.

Masihkah kita bergumul pada pertengkaran kita yang menelusuri semesta dengan jalan berbeda? Ketika permadani kita tak sama, rajutannya yang tak serupa, atau juga panjangnya yang berbeda. Sementara yang kupahami bahwa tinggi rendah kemampuannya mengangkasa, bergantung pada keyakinan hatimu mengendarainya.

Haruskah kita memberhentikan permadani kita yang masih menikmati hembusan udara? Di saat langit kita masih berdiri tegak, samudera masing menoleransi ombak, gunung-gunung masih berdamai, jua pepohonan masih membenih dalam semai. Haruskah kau dan aku hanya berjalan tanpa jelasnya tujuan, sementara di hadapan menanti tangis yang sebenar pecah dan membuncah.

"Idzaa waqo'atil waaqi'ah."

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian. Surga tak kan mampu kumasuki tanpamu dan Ridha Tuhan.

Bandung, 9 Ramadhan 1432 H

*Tak akan ada yang bisa menghentikanku menulis, baik itu sakit hati sekalipun. And, he always inspiring me... :)

Senin, 01 Agustus 2011

Peluh

Originally created by Fu

Puisi untukmu (lagi!)

untukmu yang istimewa, yang selalu saja menunjukkan rindumu pada puisi yang kurangkai. biar aku tuturkan tentang bulir yang menerobos porimu, yang selalu kau keluh pada setiap lelahmu.


tetes demi tetes bulir itu jatuh, mengguyur tubuh
mengubah perkasamu, lemah tak berdaya
senyum yang menggamit, memudar perlahan
oleh ungkap yang menggema :
“Tuhan, aku lelah!”

yang fana itu dunia, sayang
dimana kau harus terus berlari
menjemput mulia tanpa spasi
sampai napasmu berhenti
lalu kau mati

tanya demi tanya itu menggumul, membentuk simpul
mengubah mahirmu, pasrah tak kuasa
kilau mata yang memahat, redup perlahan
oleh ungkap yang menggema :
“Tuhan, aku jengah!”

yang abadi itu akhirat, sayang
dimana kau hanya menanti
segala tebusan diri
terpilih kanan atau kiri

sayang, bulir itu memang asin rasanya
perubahannya kelak tergantung dirimu
manisnya di surga oleh sabarmu
pahitnya di neraka oleh hujatmu
dan kau tinggal memilih itu

sayang,
masih tak relakah kau menukar keringat
dengan senyum Tuhanmu yang memekat
?


Majalengka,
1 Agustus 2011 / 1 Ramadhan 1432 H


*sebagai pengingat untuk diri juga, yang tak pernah lepas dari keluh kesah. ^^,

Ngomongin Nikah (Lagi!)

Kemaren waktu ketemu Mair, aku seneeeenng beut. Udah lama banget gak  curhat-curhatan sama dia. Dulu kalau ada apa-apa, aku selalu cerita sama dia, secara kita tinggal satu kamar dan seasrama. Kemaren, aku cerita banyak sama dia, banyak hal, terutama setelah 10 bulan kita berpisah. Sama dia emang paling enak cerita soal mimpi-mimpi, ngehayal ngalor ngidul, dan something like that. Hmm… gak akan jauh-jauh bahasannya, apalagi kalau soal MENIKAH. Haha… dasar wanita!!! :p

Dulu, aku ingeeet beut kalau diantara temen kamar, cuma Mair yang ingin menikah di usia 25. Yang lain sepakat bahwa usia 25 adalah batas maksimal kita-kita untuk menikah. Kata Mair fine-fine aja, biar lebih siap dan matang. Namun, itu duluu, aku agak kaget waktu dia menceritakan bahwa dia sudah ingin segera menikah, kalau bisa maksimal tahun depan. Ya setiap orang tentunya bisa berubah tergantung kondisi yang ia hadapi. Itu juga dikarenakan dari calonnya Mair serta keinginan kuat dari Mair sendiri yang memang sudah ingin segera mengakhiri masa pacarannya itu, lama-lama malah banyak dosa, itu katanya. Aku dan mair punya satu kesamaan, bahwa kita bukan orang yang mau terlalu fanatik serta menilai orang hanya dengan status pacaran atau tidaknya. Meskipun di beberapa prinsip kita berbeda, kita saling menghormati satu sama lainnya.

Aku kagum banget sama mereka berdua (Mair dan calonnya), secara aku tahu gimana kisah mereka dari awal. Gimana mereka memperjuangkan hubungan mereka, mulai dari calonnya yang ternyata dijodohkan orang tuanya, menjelaskan pada banyak orang tentang hubungan mereka, sampai akhirnya bisa mengenalkan Mair pada dua orang tua calonnya. Sampai berhasil, dan mereka berdua direstui, bahkan didorong untuk menikah. Sebenarnya kedua orang tua mereka sudah menyetujui mereka berdua untuk segera menikah, hanya saja tinggal menunggu kepastian mereka berdua saja. Mair dan calonnya sedang memikirkan untuk persiapan financial kedapannya. Terlebih Mair juga yang mau sekolah lagi D4 tahun ini. (amin…)

Kemarin itu aku sempet ngomongin soal nge-kos bareng lagi  kalau kita berdua keterima di D4 unpad. Kita merencanakan banyak hal, kek mau membiasakan masak sendiri, biar sama-sama belajar untuk kehidupan rumah tangga nanti. Ceileeee… gaya yah bahasannya, haha… Aku juga sempat memberi masukan sama Mair soal kebingungannya untuk menikah. Aku nyaranin dia sih untuk disegerakan saja, toh calonnya juga sudah lulus bulan kemarin. Oh iya, calonnya Mair itu seumur sama dia, lulusan ITB, temen dia waktu SMP, jodoh emang bener2 gak keduga yah? Hehe…

Yang bikin aku kagum lagi adalah pola pikir mereka melihat masa depan. Calonnya Mair itu yah orangnya optimis sekali, penuh dengan perhitungan. Hmm…pinter banget lagi, dia itu ingin ke luar negeri, mengikuti jejaknya pak habibie katanya, yaitu ingin ke Jerman. Terlebih katanya memang kalau lulusan Teknik Penerbangan belum terlalu “berkembang” bila di Indonesia. Jadi, calonnya itu lagi ngejar beasiswa buat kesana. Kalau bisa sekalian ingin sambil bekerja juga nantinya. Calonnya itu sebenernya udah ingin segera menikah, hanya Mair masih ragu di masalah financial, apalagi selama kuliah tentunya dia gak akan kerja. Padahal menurut akuu, tinggal ambil saja dulu tawaran kerja dari perusahaan yang ingin ngerekrut calonnya itu. Bahkan katanya dengan gaji kurang lebih 6 juta per bulan. Menurut aku sih udah cukup yaaa, sementara nunggu Mair sampe lulus kuliah tahun depan, yawdah mereka ngontrak rumah aja dulu, “kan katanya mau keluar negeri, yawdah gak usah beli rumah dulu aja, kek Risma pas kuliah dulu aja,” Menurut aku yang lebih utama adalah niat untuk segera menghalalkan hubungan itu, klau soal kedepannya jarak dan waktu untuk mereka ketemu, toh Mair pun meng-iya kan bahwa selama mereka pacaran saja mereka jg kuat untuk sering bertemu, “berperih-perih dulu demi masa depan” katanya. Mair sendiri lebih pada tak mau lagi berdosa dengan hubungan ini, lama-lama juga katanya tidak nyaman. Dia nyeritain semuanya sama aku, dia emang butuh seseroang untuk dia ajak biacara kek gini. Dia emang butuh banget masukan tentang hal itu. Aku bantu ngeyakinin dia buat semakin YAKIN untuk segera menikah. Seperti kata calonnya, “kalau rezeki orang menikah itu urusan Allah, bahkan biasanya lebih mengalir.” Dan akuu setuju sekali dengan itu.

Aku kagum sama mereka, pemikirannya sudah jauh. Calonnya juga baik dan dewasa sekali, melebihi usianya, hehe… Mair malah selalu becandai akuu yang sama2 punya mimpi buat go abroad dari dulu. Dia Jerman, sedangkan aku ingin sekali ke Belanda. “Jerman sama Belanda gak jauh kan fu?” hahha… aku hanya tertawa dan memintanya untuk mendoakanku. Secara si akuu ini belum jelas kedepannya gimana (maksudnya soal pasangan hidup, haha…), hanya berani mengukir mimpi-mimpi dan berusaha serta berdoa agar bisa terwujud. Aku juga bilang sama dia bahwa tetap targetku menikah maksimal tahun depan, meskipun aku tidak tahu sama siapa, bahkan sekarang belum ada calonnya (Haha, lucu sekali, padahal tahun depan ituu sebentar lagi…) Aku hanya percaya bahwa saat kita sudah memiliki niat yang kuat, bukan hal yang sulit bagi Allah untuk mewujudkannya menjadi kenyataan bila memang itu yang dikehendaki-Nya. Mair juga meberi nasehat sama akuu supaya aku menjadi orang yang lebih “terbuka” untuk menerima seseorang yang berniat baik. Ha ha… dia memang tahu bagaimana keukeuhnya aku dalam memegang “prinsip”. Aku hanya bilang, “aku hanya mencoba mempercayakan hati aku yang mengambil alih, Ir”

Dia tahu tentang akuu yang seringkali patah hati, smentara beberapa mengulurkan tangan untuk aku. Meskipun aku tidak terlalu bercerita detil padanya, tapi dia mengerti bagaimana perasaan aku. Aku hanya bisa meminta padanya untuk mendoakan akuu, agar segera diberi yang terbaik sama Allah. Aku cuma bisa bilang bahwa pangeranku adalah tentunya seseorang yang berani, berani untuk mengambil keputusan, berani dalam bersikap, berani yang tak hanya dalam mengungkapkan perasaan, berani untuk bertemu ayahku, dan berani menjemput aku. Dan sayangnya yang berani itu belum ada, ha ha… kebanyakan minder, merasa tidak siap, tak mau mengambil resiko untuk mengalami penolakan (ha ha dasar pria!!! :p), terombang-ambing dalam pilihan, dan banyak hal lain. Ahh, sampai sekrang pun aku tidak mengerti jalan pikiran pria itu seperti apa, he…he…

Yang pasti, aku sama2 satu paham saat ini sama mair, bahwa bila pun kami sekolah lagi D4, tak akan menghalangi niat kami buat bisa menikah maksimal tahun depan. Toh, menikah sambil kuliah sebenernya bukan menjadi halangan atau hambatan, itu sangat tergantung dari orang yang menyikapi dan menjalaninya. Yang ini kita berdua sepakat. Haha…  Aku juga becandain gini sama dia, “Tapi kalau kamu nikah beberapa bulan kedepan, nanti aku ngekos sendiri doong?” ha ha…. Dasoor!!! Tetep aja yang dipikirinnya diri sendiri. Hmm… aku mah masih tetap bersyukur sama apa yang Allah beri mulai dari perasaan yang ada di hati aku, orang2 yg di samping aku, sampai kondisi aku yang seperti sekarang ini. Aku bersyukur, karena tak ada nikmat Allah yang boleh kita pungkiri, semua harus kita syukuri. So, aku mah simpel aja, jalani yang ada di hadapan, kerjar mimpi dan target akuu, tetap komitmen pada diri sendiri untuk ikhlas dan sabar dalam menjalaninya. Amin. Allah, bimbing hamba-Mu ini…

*hmm… hal beginian emang rumit, gak bisa diprediksi, hihi.. :D

Selasa, 19 Juli 2011

Rindu

Rindu sekali....

Tapi katanya aku harus membiasakan diri untuk :
tidak lagi mendapat pesan motivasi darinya
tidak lagi mendengar suara lucunya
tidak lagi bercanda dengannya
tidak lagi cerewet berceloteh banyak hal dengannya
tidak lagi dibangunkan shalat malam olehnya
tidak lagi diingatkan untuk selalu tersenyum olehnya
tidak lagi berdebat berbagai masalah dengannya
tidak lagi membincangkan rembulan dan bintang yang terindunya
tidak lagi mengharap apa-apa padanya

tidak lagi semuanya, karena aku tahu diri

bahwa aku bukan siapa-siapa
bahwa aku tak berhak apa-apa
bahwa aku tak terpilih hatinya
bahwa aku begitu sangat biasa

bahwa sekarang aku harus lebih mendekatkan diri pada Allah, hingga Allah menjawab segala kesamaran ini, hingga Allah membuat aku lupa akan yang tengah bersemayam di hati ini...

Allah ampuni hamba karena telah merindunya, semoga ia baik-baik saja, dan engkau membuatku segera melupakannya, hingga pangeranku yang sebenarnya yang berhak akan segala di hati ini. Mesi namanya masih kupatri di sini, di hatiku dan mimpiku...

Senin, 18 Juli 2011

Tentang menikah!

Sekarang saya mengerti (padahal dari dulu sebenarnya sudah mengerti) kenapa Allah dan Rasul begitu menganjurkan sebuah pernikahan, jua para murabbi dan kawan sepemikiran yang menganjurkan menikah muda. Karena ada ketentraman di dalamnya, karena bagaimanapun tak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di dunia ini tak bisa sendiri. Menikah juga adalah wujud rasa syukur kita terhadap Allah yang menciptakan setiap makhluk-Nya berpasangan. Setelah menikah, semua halal, semua berpahala. Semua kata-kata mesra dan pujian adalah pahala, bukan dosa seperti yang mengucapkannya sebelum menikah. Rabb, ampuni hamba, karena mungkin hamba begitu egois pada rasionalitas sendiri, dan terlalu cepat mengambil keputusan. Rabb, rasanya sakit sekali, mohon akhiri semua ini... T_T

Sekarang saya akan meyakini, bahwa Allah pasti akan memberi rasa yang ajaib untuk ia yang Allah takdirkan untuk saya. Bahkan yang lebih dari apa yang sebelumnya telah saya rasakan. Meski saya sendiri tidak tahu entah itu kapan. T_T

*di saat orang-orang telah jauh melangkah, dan saya hanya berkutat dengan keegoisan pemikiran saya! Astagfirullah... T_T

Perpisahan

Kenapa harus ada perpisahan? Karena selalu ada pertemuan!

Kenapa harus ada pertemuan? Karena selalu ada pembelajaran!

Kenapa harus ada pembelajaran? Karena ada kehidupan!


Jangan tanya kenapa ada kehidupan? Karena itu tandanya kau sudah musyrik terhadap adanya Allah. Yang telah menciptamu, menyayangimu, mencintaimu...

Allah, kalau setelah perpisahan, ada pertemuan lagi kan?

Semoga gelas baru itu yang terakhir, bukan lagi yang membuat hatiku remuk berkeping-keping...

Kamis, 14 Juli 2011

Hati Wanita

Assalamu'alaykum wr wb...

Hanya sedang ingin meracau, tak apa-apalah kalau pun kacau. karena ini memang meracau... :p

Bila mungkin sebagian besar wanita memiliki hati yang begitu mudah diketuk, disentuh dan diluluh. ternyata itu tidak terjadi pada aku. Aku sangat susah sekali untuk menyukai sesorang, namun bila sekalinya suka sangat sulit sekali untuk lupa. Namun, aku selalu percaya bahwa hati ini digenggam oleh Allah, oleh karena itu sangatlah mudah bagi Allah untuk membolak-balik sekehendak-Nya.

Tapi ternyata bagaimanapun hati wanita (seperti aku : red) bisa ditaklukan seiring berjalannya waktu. Hmm... lebih tepatnya seperti mainan layangan, alias tarik ulur. Hati wanita itu tidak terlalu suka pada keagresifan yang ingin memasukinya, tapi ia juga tidak mau pada keacuhan yang berlebihan. Jadilah seperti layangan, tarik ulur, namun jangan terus menerus seperti itu juga. Karena suatu saat ia akan bosan dan memilih angin pergi membawanya, putus dari benangnya.

Hmm...aku juga tak mengerti seperti apa hati pria itu dibuat. terkadang mereka seenaknya menaruh rasa pada kita tanpa mempertanggungjawabkannya. Sementara di lain sisi, ada hati yang lain yang dengan tulus menanti uluran tanganku, merapalku, setia menanti, dengan segala keacuhanku. Tapi, kata Allah yang namanya kesabaran itu selalu berbuah manis. Ah, entahlah... aku tidak pernah mengerti masalah seperti ini.

Bilapun suatu saat ada yang mampu menggamit hatiku, lalu tak ada lagi halangan, rintangan, alasan, ketakutan, kekhawatiran, atau apapun, maka aku rasa hanya ia lah yang berani yang berhak untukku. Ia yang tidak membuatku berada dalam kebimbangan yang teramat menyesakkan.

Yang pasti aku  selalu percaya bahwa Allah itu sangat baik hati. Takdir Allah itu memang samar, tapi bukan berarti ia dipasrahkan tanpa diusahkan. Begitu juga hati wanita, hanya bisa dipertahankan dengan kesungguhan dan kepercayaan serta tindakan yang konsisten, bila berkurang sedikit saja, boleh jadi ia bisa berubah sedikit dei sedikit. Allah, aku serahkan ini perlahan...

*dengan leleahan air mata, rasa ini menyesakkanku, sungguh!!!

Kamis, 07 Juli 2011

Senyum

"katanya, senyum adalah jawaban cinta paling sederhana"

dan aku selalu berharap. pangeranku adalah ia yang mampu membuatku tersenyum setiap hari. pangeranku adalah ia yang tak pernah lelah menyuruhku untuk tersenyum setiap hari. karena ingatanku payah. aku selalu lupa untuk senyum. bahkan terkadang tak tahu sewujud apa senyum itu. hatiku terlalu sering merasa sakit hati. hingga aku selalu merasa samar apakah makna bahagia sebenarnya. aku bahkan tak bisa membedakannya dengan rasa sedih yang kurasa. katanya aku terlalu baik. tapi yang aku tahu orang baik tentunya tak akan merasa sakit. orang baik pastilah orang yang rela. orang yang sabar. orang yang ikhlas. sedangkan aku sendiri sampai sekarang tak pernah mengerti bagaimana bentuk dari sabar dan ikhlas itu sendiri. aku hanya ingin suatu waktu itu. dimana senyumku bukan karena untuk orang lain. tapi untuk diri sendiri. Allah, aku lupa seperti apa senyum itu, ingatkanlah aku!

Jumat, 01 Juli 2011

Teruntuk sebuah nama

Originally created by Fu

rindu..
satu dua hadir itu biasa, menyapa
tanpa permisi, mencari-cari kunci
pada kerah baju, saku, sepatu hingga peci,
sejak fajar, pagi, siang, senja, juga sampai malam menghampiri.
lalu kuhanya mampu berbisik, “satu datang untuk pergi.”

dan kamu
merapalku dalam setiap aksara, tengah lama
melabuh di dermaga yang tersamar peta, merangkum cahaya
memantul tak hanya tujuh warna dan sketsa,
untuk sama yang beda jua beda yang sama.

masih kamu
merangkaiku sempurna, pada seutas elegi
tanpa sajak, lagu atau melodi
meski pekak sudah telingamu untuk berlari
menggegas langkah dalam galau yang bertaut mimpi,
dengan teriak nanar yang tak terdengar, “Nanti!”

rindu..
sejatinya aku tengah amnesia
sejak kemarin aku memejam semua indera, menyublim seganjil asa,
meski paruh waktu yang menggerogoti logika, pada luka
yang menghimpun puing memori terserak masa, untuk hanya
memastikan lidahku masih bisa mengeja yang dua.

aku cinta.

…teruntuk sebuah nama yang Tuhan jaga…

Majalengka, 13 Juni 2011

Sabtu, 11 Juni 2011

Racau

Originally created by Fu

I
Tuhan,
ada yang melesap
di jauh hari
.
dua sayap dalam
setumpuk kertas
menuju langit
.
Tuhan,
ada yang menelusup
di dekat hari
.
dua cahaya dalam
seberkas tinta
menuju kalbu
.
cukup kutahu
bahwa Kau tahu
.
yang di sini
hanya namaMu.

II
di balik titian awan pagi,
kutoleh Engkau yang memaling
muka menggengam jemari

adakah Engkau tengah cemburu?
padaku yang (mungkin) palsu
merinduMu

Bandung, 9 Juni 2011

Yang pasti Allah sayang sama saya. atas suka yang terselip duka. atau duka yang menyelip suka.

fuu, "syafakillah syifaan ajilan, syifaan laa yughadir ba'dahu saqoman." --> sugesti diri sendiri.

Belum Ada Judul

Originally created by Fu

Patah

ada yang merayap perlahan dalam bahagia menerbang tinggi, menggusur cakrawala langit untuk sejenak melirik bumi. ada yang meneriak samar dalam senja tanpa restu, memasung telinga untuk sekejap menelisik banyu. ada yang menatap tumpul dalam riang bersandar duka, meniduri kelopak untuk sebentar membelai udara. tak ada yang mengekal senyum, atas detik yang tak mungkin diam. seperti tak kan ada yang utuh, untuk Dia yang tak pernah patah.

Lelah

kepada pagi yang menyebar asa, aku titip gairah untuk detik tak terencana. mewarna kertas merela batas. kepada siang yang merangkul tawa, aku gerai sabar untuk menit tak menyapa. menyepuh alasan merangkai balasan. kepada sore yang memanja pilu, aku tawar galau untuk jam tak bertalu. menghitung amal menilai kawal. dan kepada malam yang menghimpun memori, aku lelang pasrah untuk hari tak terbagi. mengharap Lilllah mengganti lelah.

Asah

 kita tengah terperangkap pada tempurung tak berlubang, yang memaksa kita memasuki kaum terbuang. dimana cita yang menggelora tak lantas menepi pelangi. di saat rindu yang lepas landas tak jua menoreh drama. pada langit yang menggamit suka. pada bumi yang menyeleksi mimpi. untuk kita, untuk dunia. karena kita dan dunia adalah dua cipta tak terpisah, seperti tak boleh dilerainya pisau dengan asah.

Sudah

dimana? dimana? dimana kau sembunyikan hujan yang tengah kunanti berhari-hari? Saat ranting tengah mengering beringsut pada pucuk, sekarat tak lagi berselimut. Saat kawah tengah bergolak membuncah alasan, gelegar tak jua memadam. Saat dagingku terasap dunia, kasat, koyak, kalap, tak menyudah.
dimana? dimana? dimana kau taruh mentari yang tengah kucari berhari-hari? Saat samudera tak henti menggeliat muram, jengah merindui tenunan awan. Saat tanah tak jua merangkai pahat, pucat memasi dalam gelap. Saat kulitku terguyur dunia, kalut, kecamuk, kuyup, tak menyudah.
dimana? dimana? dimana Kamu?

"dihatimu, sudah."

[]
Bandung, 8 Juni 2011
*terima kasih untuk yg telah menginspirasi... :)

Televisiku

Originally created by Fu

televisiku, tunggulah dulu
ibu yang sejenak ke dapur
menyeduh kopi dan mematikan tungku,
bukan untuk drama tak beretika
atau aib yang menebal muka
atau citra yang tersamar kata
juga dusta yang menyulut sengketa

televisiku, diamlah dulu
ayah yang sejenak ke teras
membetulkan antena yang membalik arah,
bukan untuk negara yang berelegi
atau komentator yang bersuci
atau minoritas yang terintimidasi
juga aparat yang tumpang kaki

televisiku, istirahatlah dulu
aku yang sejenak ke kamar
meramu kata pada lidah yang hambar,
bukan untuk moral yang terbelenggu
atau emansipasi yang menggerutu
atau polemik yang melulu
juga pariwara  yang menipu

televisiku, rusaklah dulu
demi layarmu yang tersamar
pada koran pagi yang mengabar
televisiku, matilah dulu
demi anak kami yang beranjak
padamu yang mengajar akhlak

Juni, 2011

*another side...

Cinta Imagologi

Originally created by Fu

Cinta kini berimagologi. Pada klinik juga kosmetik. Suntik hidung, dagu hingga dada. Menipiskan bibir juga menghilangkan kerut tua. Memutihkan kulit hingga melukis tato di tubuhnya. Merubah yang ini, merubah yang itu. Meski menyakiti raga. Tak pernah ada puasnya.

Cinta kini berimagologi. Pada salon hingga butik. Mengarah model domestik hingga manca Negara. Mewarnai dan memangkas rambut sebagai mahkota. Mengenakan pakaian untuk sengitnya lomba. Meniru yang ini, meniru yang itu. Meski melelah jiwa. Tak pernah ada puasnya.

Cantik kini tak lagi karena cinta, sebab cinta kini karena cantik. Yang menggantung kosmetik hingga butik.
Cinta kini tak lagi cantik, sebab cantik kini tak lagi karena cinta. Yang terbungkus manipulasi jua imagologi.

dan cintaku bukanlah imagologi, karena ku tak mau cintaku teramputasi
tak kusanggup berimagologi cinta, melainkan sekadar telanjang kata
: untukmu yang memesona

Juni, 2011

*another side...

Karena Doa

Originally created by Fu

Tak perlu waktu lama bagi Tuhan menjawab segala yang berjejal pada atap tanya yang mengakar bahkan menjadi belukar. Seperti ragu yang mengukur palung logika dan hati sekaligus, mematangkan yang tak terjamah pada jurang tanah tak terbungkus. Mengaduh, menyeringai, meneriak atau menumpah sedu sedan. Menghujung penyesalan.

Tak perlu banyak tanya untuk Tuhan mengganti segala yang bertumpuk pada jendela kudeta yang meriak bahkan menjadi arak. Seperti debar yang menguji curamnya akal dan perasaan bersamaan, menggores yang tak terkira pada ruam berdampingan. Menganga, menyungging, menggetar atau membuncah keharuan. Menghujung kesyukuran.

Tak perlu lagi menerka seberapa lama Tuhan menjawab doa, atas harap ataupun tanya. Tak perlu lagi mendebat seberapa pantas Tuhan mengabul doa, atas lelah ataupun luka.

Karena doa, untuk yang rela

Majalengka, Juni 2011

Minggu, 29 Mei 2011

Tentang Jodoh

Originally created by Fu

Jodoh itu misteri. Itu yang saya yakini. Orang mungkin hanya bisa memprediksikan bahwa seseorang adalah jodohnya. Ada yang memilih melakukan pencarian bahkan petualangan, namun juga ada yang lebih memilih penantian dalam kesabaran dan keyakinan. Tapi ujung pangkalnya tetap saja berada di tangan Tuhan. Banyak orang yang telah lama menjalin hubungan namun berakhir begitu saja. Tak jarang pula yang sepertinya telah dirasa pasti berjodoh bahkan mendekati hari H, namun harus terputus ditengah jalan juga. Yang pasti manusia itu hanya bisa merencana, menduga, dan berusaha menemukan jawaban atas segala tanya yang mungkin tengah bertahun-tahun memundakinya. Selebihnya Tuhanlah yang berhak membuka pintu misteri-Nya. Berikut kapan, siapa dan dimana.

Jodoh itu rahasia. Itu yang banyak orang bilang pada saya. Boleh jadi ia adalah orang yang memang telah kita kenal dekat, namun bisa pula yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Waktu "perkenalan" bukanlah menjadi ukuran peluang orang sekitar menjadi jodoh kita. Karena kenyataannya, tak ada yang bisa menyangka akan cara Tuhan mempersatukan dua hati manusia. Tidak terbatas pada sebuah perjumpaan atau sekadar percakapan dua mata. Tuhan juga bisa bermain untuk menghadirkan dan mengalirkan cinta pada hati yang bahkan tak pernah saling bersua. Karena Tuhan itu punya Kuasa.

Karena jodoh itu istimewa, maka dalam perjalanan menemukannya tentulah harus istimewa pula. Wajarlah bila ada asa yang mengangkasa, ragu yang menderu, bahkan luka yang menganga untuk menemukannya. Kita tidak boleh menyesali sebuah pertemuan yang berakhir menyakitkan, karena tidak pernah ada yang namanya kesalahan takdir. Semua telah Tuhan atur secara rinci. Boleh jadi kita memang harus bertemu dengan orang yang salah terlebih dahulu, sebelum akhirnya Tuhan pertemukan dengan orang yang tepat.

Selalu ada jawaban atas alasan Tuhan menjadikan pertemuan sesungguhnya terasa lama dan penuh tanda tanya.

Mungkin Tuhan ingin menunjukkan bahwa tak selamanya apa yang kita harap dapat mewujud nyata. Tuhan mengajarkan kita untuk belajar semakin memahami-Nya. Melalui doa-doa yang Tuhan tangguhkan ataupun Ia ganti, Tuhan selipkan cinta dalam berjuta hikmah yang seringkali kita ingkari bahkan lupa untuk disyukuri.

Mungkin juga Tuhan ingin menunjukkan bahwa kita tengah berada diantara kefuturan. Tuhan mengingatkan kita kembali bahwa Dialah Sang Maha Segalanya. Melalui keterpurukan, kejenuhan, juga kesedihan, Tuhan sadarkan kita dari kesombongan akan keyakinan yang berlebihan dan tak beralas iman. Karena boleh jadi tanpa sadar kita terkadang angkuh pada penerimaan akan ketetapan Tuhan.

Mungkin juga Tuhan ingin menunjukkan bahwa Dia tengah cemburu pada kita yang menduakan bahkan me-multipelkan diri-Nya. Tuhan menegur kita yang seringkali terlena pada kefanaan cinta dunia, namun menghempaskan cinta kasih-Nya. Tuhan membangkitkan kita untuk kembali bergerak, berjalan juga berlari pada rute dan lintasan-Nya. Karena boleh jadi, kepalsuan niat tak jua lepas dan telah melekat erat pada diri kita. Menyamarkan sejatinya tujuan, yaitu Ridha Tuhan.

Selalu ada jawaban atas alasan Tuhan menjadikan pertemuan sesungguhnya terasa lama dan penuh tanda tanya.

Jika kita dipertemukan dengan orang yang salah, maka bersyukurlah bahwa Tuhan memberikan kita kesempatan memperbaiki diri untuk kemudian mendapatkan yang jauh lebih baik tentunya. Jika belum dipertemukan juga, maka bersyukurlah bahwa Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menikmati bentuk lain dari cinta-Nya yang tersebar pada setiap udara sekitar kita. Kemudian jika akhirnya Tuhan pertemukan, maka bersyukurlah bahwa Tuhan tak membiarkanmu sendirian untuk mencapai Ridha-Nya. Dan berbahagialah karena kau telah membuktikan dirimu istimewa, dengan perjalanan istimewa, mendapatkan orang teristimewa, dari Sang Maha Istimewa. 

Bukankah menuju Ridha Tuhan berdampingan lebih mulia dibanding sendirian?


24 Mei 2011

lagi! kontroversi, ;p maaf bila tak sependapat... :) semoga bermanfaat...

*notes by request,
Untuk yang pernah terluka, bangkitlah... Yakinlah Allah sangat menyayangimu...
Untuk yang tengah berproses, tersenyumlah... Semoga Allah permudah segalanya...
Untuk yang telah menemukan, berbahagialah... Semoga Allah tak akan pernah melepas rahmatNya...

Langkah

Originally created by fu

langkah yang membayang, perlahan memudar di telan petang. manakala gelap tak perlu khawatir, sebab ikrar kemarin kembali terukir. laiknya angin darat yang selalu menepati, pada nelayan yang beranjak pergi. meski awan telah disembunyikan, oleh langit yang mengusir biasan. dalam senyap, juga dingin meratap.

rasanya tak perlu menjumlah langkah kita sendiri, entah itu ragu, terperosok, hingga bimbang yang berapa kali. kita hanya perlu menyimpan, semisal batu dalam ukiran. menggagas, dalam membekas. tentang janji tak terraih, tak ada yg perlu ditagih. kita hanya butuh cermin, meneliti janji mana yang harus dipilin. jika semua tentang mencinta, maka semua tentang diri kita.

biarlah tak usah menilai seberapa langkah yang menjejak, atau juga membekas, memudar, bahkan hanya melayang ombak. sebab ini bukan tentang jumlah yang menyudah, atau nilai yang tertuai. karena kita tak pernah paham bentuk nilai sebenarnya, yang mewujud angka serupa matematika, ataukah puji dan cela yang menggantung paradigma.

 langkah ini tentang diri kita, mengajari rela lalu meraba bahagia. dimana tulus yang terbentang, meluas tak berhingga rasa lapang. meski rindu yang tertahan, tak jua tahu terjawab kapan.

 semua tentang diri kita, kau dan aku, dan arah yang kita tuju. masihkah niat yang melagu, melangkah padaNya dengan terberat rindu?


klinik, 14 April, 2011
*ini bikinnya dibantuin T'hesty (pa bales-bales sms) tapi fu modif lagi, biasaaaa pecinta rimaaa, hehe.... ;p