Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2012

Menikahlah Bukan Karena Masa Lalu

Originally created by Fu

Banyak orang yang bertanya pada saya, kenapa saya bersedia menikah dengan seorang Ikhsanun Kamil Pratama. Katanya, kenapa saya yang tidak pernah pacaran sama sekali mau menikah dengan orang yang pernah pacaran berkali-kali seperti dia. Katanya, mengecewakan sekali saya yang bisa menjaga diri dari hal yang Allah larang itu, namun mau menikah dengan orang yang justru pernah melakukan hal tersebut. Katanya inilah, itulah. Mereka bertanya kenapa rasanya tidak sekufu atau apalah pandangannya.

Saya hanya tersenyum menanggapinya, kemudian hanya akan berkomentar bahwa saya tak pernah merasa salah menikah dengannya, menikah dengan lelaki paling baik yang pernah saya temui. Rasanya sombong sekali bila menyesalinya, karena hal ini sudah menjadi takdir dan kehendak Allah SWT.

Bagi saya, masa lalu setiap orang tak pernah menjadi patokan yang utama. Setiap orang berhak untuk memiliki masa lalu yang buruk, namun setiap orang juga berhak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Setiap orang berhak memiliki masa kini yang  lebih baik dan masa depan yang lebih baik lagi, dibanding masa lalunya, karena memang itu adalah suatu keharusan.

Dari dulu saya paling tidak suka “judgemental” pada orang, apalagi bila saya belum mengenalnya. Maka meskipun dari dulu prinsip saya tidak mau pacaran, saya tidak mau untuk merendahkan orang-orang yang memang berprinsip seperti itu. Bahkan saya dekat dengan mereka, banyak teman saya yang pacaran namun justru sering curhat sama saya perihal hubungan mereka. Lucu memang, orang yang tidak pernah pacaran sama sekali sering jadi tempat konsultasi banyak orang perihal seperti itu. Bagi saya, hanya ada satu Dzat yang berhak menghakimi apakah seseorang shaleh/shalehah, apakah dia lebih baik atau tidak satu sama lain, yaitu Allah SWT. Saya tidak boleh merasa diri saya lebih baik dari orang lain sedikitpun, padahal boleh jadi dosa-dosa saya jauh lebih besar dibanding mereka yang dianggap tidak shaleh/shaleha.

Rasanya predikat shaleh/shaleha yang dicap manusia itu justru menjadikan suatu beban, karena toh predikat itu sebenarnya didapat saat kelak di akhirat, saat kita bisa bertemu dengan Tuhan dan Rasul kita. So, jangan salahkan orang yang pacaran bila kita sendiri hanya berdiam diri, jangan merasa lebih baik dari mereka, karena boleh jadi amalan wajib dan sunnah kita tak pernah lebih baik dari mereka. Boleh jadi kita memiliki banyak lumbung dosa yang lain dibanding mereka. Teman seperti itu perlu dirangkul, bukan untuk dihakimi, karena boleh jadi mereka masih melakukan hal tersebut karena mereka tak tahu, ya karena mereka tak tahu, dan tugas kita sebagai orang terdekat yang mengingatkan.

Menikah itu bukan mempermasalahkan seberapa buruk masa lalu seseorang, namun seberapa banyak ia belajar dari masa lalunya, mengambil hikmah dari masa lalunya, yang menjadikan pribadi masa kini yang lebih baik. Menikah itu masalah seberapa kuat dan yakin seseorang untuk mengukir masa depan yang lebih baik, bersama pasangan yang Tuhan takdirkan untuknya.

Dulu sebelum menikah, suami saya seringkali merasa ia tak pantas dengan saya, katanya : “Kalau dosa beraroma, maka kau tak akan mau menikah denganku.” Kemudian saya juga jawab : “Dan kalau memang dosa beraroma, maka kamu pun lebih tak mau menikah denganku.” Saat itu ia kemudian menitikkan air matanya. No! saya tidak mau merasa bahwa diri saya begitu suci dengan tidak pernah pacaran, bahwa saya harus menikah dengan orang yang tidak pacaran juga. Sungguh terlalu dangkal apabila pemahaman keadilan manusia yang jadi patokan, karena terkadang keadilan Tuhan itu bahkan tak bisa dicapai nalar manusia, bahkan keadilan Tuhan seringkali dianggap suatu ketidakadilan bagi manusia. Nah, boleh jadi mungkin suami saya memiliki dosanya yang pernah pacaran, namun itu telah terhapus dengan segala amalan baiknya, taubat nasuha yang ia lakukan. Boleh jadi juga, meskipun tak pacaran namun dosa saya berlumur dari ranah-ranah lain, yang terkesan tak terlihat, karena hanya diri saya sendiri dan Allah yang mengetahuinya.

Ah, saya hanya terlihat begitu baik karena Allah yang telah menutupi aib-aib saya. Allah yang Maha Baik yang masih menjaga kehormatan dan harga diri saya di depan orang lain. Bila Allah berkenan, sangat mudah baginya untuk membongkar seluruh aib dan dosa saya selama ini. Saya menikah dengan seorang Ikhsanun Kamil Pratama, karena Allah yang memantaskan kami untuk saling menjadi cermin, saling melengkapi untuk memperbaiki diri. Maka, untukmu yang akan menyempurnakan separuh agama, menikahlah bukan karena masa lalu yang jadi patokan utama, namun menikahlah dengan ia yang mampu mengambil hikmah untuk memantaskan diri di hadapan-Nya, menjadi pribadi yang lebih baik, di saat ini dan seterusnya. Menikahlah dengan ia yang mau bergerak bersama menuju perbaikan tanpa henti, hanya demi ridha Illahi rabbi.
Masa lalu adalah suatu pembelajaran, masa kini adalah kehidupan, dan masa depan adalah harapan. Nikmati dan syukuri setiap prosesnya. Wallahualam :)

Menikahlah bukan karena masa lalu, namun menikahlah karena Allah sang pemilik masa :) 
Bandung, 16 Oktober 2012

Kamis, 11 Agustus 2011

Mushaf Unguku

Seperti yang udah aku ceritakan kemarin, kalau aku sayang sekali pada mushaf aku yang warna ungu terbitan Al-kamil itu. Secara nyari-nyarinya dulu susah sekali. Saat warna ungu belum menjadi tren untuk desain mushaf. Gak seperti sekarang ini yang lumayan banyak beberapa penerbit mushaf mulai memproduksi cover mushaf Al-Qur’an berbagai warna. Kemarin, ada seseorang yang ngasih aku mushaf Al-qur’an terbitan Al-Burhan berwarna ungu. Warnanya lebih muda dari mushaf aku sebelumnya. Aku suka sekali. Isinya jauh lebih lengkap dibanding yang punya aku.

Aku sempet bingung waktu dikasih itu mushaf, soalnya aku mau kemanakan mushaf ungu punya akunya? Orang yang ngasih bilang pokoknya mushafnya harus dipake dan harus dibaca. Sedangkan yang namanya mushaf Al-qur’an itu kan gak pernah habis. Mau sampai kapanpun ya tetap dibawa, dipake dan dibaca, berulang-ulang. Waktu aku pulang ke klinik, orang klinik ribut saat aku ngeluarin mushaf ungu yang baru dikasih. Ya mereka tahu soalnya yang aku punya bukan yang itu. Banyak yang komentar aneh-aneh. Katanya so sweet sekali dikasih mushaf Al-qur’an. Haduuh menurut aku itu beban justru, soalnya bagaimana aku bisa memanfaatkan mushaf itu dengan sebaik-baik amalan. Bukan hanya membawanya, memakainya, maupun membacanya, tapi agar mengamalkannya. Yang ngasih sangat berharap bahwa dengan mushaf itu aku benar-benar bisa mencapai salah satu mimpiku aku untuk jadi hafidzah, dan dia ingin mushaf ini menjadi saksi perjalanan aku untuk mencapainya. Tuh, kan beuuuuurraaat! Hmm… aku ambil hikmah positifnya aja kalau aku harus lebih semangat untuk tilawah dan menghafal al-qur’annya.

Waktu ngebahas soal mushaf baru aku itu, ada salah satu karyawan klinik yang nyeletuk ingin sekali punya mushaf al-qur’an yang “efisien” seperti itu. Maksudnya yang ukurannya tidak terlalu besar, ada reseletingnya, isinya lengkap dengan terjemahan, juga ada konten tajwidnya. Aku langsung berpikiran untuk memberikan mushaf itu sama dia. Aku tawarkan sama dia, “Mau nggak?” dan dia langsung antusias sambil berbinar-binar bilang, “Mauuu banget Bubid, beneran ini teh?” Dia bener-bener seneng waktu aku kasih mushaf punyaku yang sudah menemani perjalanan tilawahku kurang lebih tiga tahun itu. Dia bahkan heran kenapa meski udah tiga tahun mushafnya masih bagus, padahal tiap hari selalu aku pakai. Hehe, aku emang awet kalau punya barang. Apalagi itu barang kesayangan, akan aku jaga sebaik-baiknya. Makanya mushaf aku pun kondisinya masih bagus.

Aku terharu sekali setelah serah terima mushaf ungu aku itu, yang sebelumnya aku cium dulu sebelum aku kasih ke tangan karyawan klinik. O iya, namanya Onih usianya baru 19 tahun, dia bekerja dulu soalnya ingin ngumpulin buat bisa kuliah tahun depan. Dia langsung nulis di belakang mushaf itu, “Alhamdulillah dikasih tanggal 10 Agustus 2011 sama Bidan Fu”, lalu setelahnya dia minta aku untuk tanda tangan di sana. Hwaaa… terharuu, ingin nangis. Selain melepas mushaf ungu yang teramat sangat aku sayangi itu, aku juga haru soalnya sebegitu senangnya Onih aku kasih mushaf. Dibawah tanda tangan aku yang kata orang lucu berkarakter (PLAK!) itu aku selipkan kata2, “Semoga bermanfaat dan sering dibaca yaa.. :)”. Dia mengaminkan dan bilang makasih lagi. Alhamdulillah… memang benar kalau ada rasa bahagia yang tidak bisa diukur dan dibeli oleh apapun saat kita memberi sesuatu pada orang lain, sekecil apapun itu.

Aku memang punya kebiasaan seperti itu pada barang yang aku punya. Maksudnya bila barangnya masih bisa dipakai namun aku punya yang lain. Seperti mukena misalnya. Saat aku membeli mukena baru, aku selalu menghibahkan mukena aku yang lama yang memang masih bersih, bagus dan tentunya masih sangat layak pakai. Biasanya aku simpan di mushola kampus kalau dulu mah. Sebenarnya kenapa harus beli yang baru ya kalau yang lama masih bisa dipakai? Aku sih sebenarnya jarang beli, hanya saja tak jarang ada yang ngasih sama aku, apakah itu mama, saudara atau teman aku. Cara aku menghargai pemberian itu ya harus menggunakan dan memanfaatkannya dengan baik. Oleh karena itu, aku lebih senang memakai pemberian dari orang lain, dan yang milik aku sendiri aku berikan. Supaya lebih berkah juga pahalanya double kita dapat. Menghargai pemberian orang lain dengan memanfaatkannya dengan baik, sehingga aku dan yang memberi sama2 dapat pahala. Juga memberikan yang aku miliki pada orang yang lebih membutuhkan, sehingga aku dan yang diberi juga sama2 dapat pahala saat barang itu digunakan dengan baik. Fastabikhul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. ^_^

Aku belum sempat memotret mushaf baru aku yang merupakan pemberian itu. Insya Allah nanti kapan-kapan aku posting yaaa… ^_^
Untuk seseorang yang telah baik hati memberi mushaf ungu itu, terima kasih yaaa... :) Insya Allah akan selalu aku bawa, pakai, dan baca. Semoga harapan dan doanya untuk aku juga terkabul. Amin... semoga berkah dan rahmat Allah juga selalu mengalir untukmu,

Sabtu, 06 Agustus 2011

Love Cooking :D


Waktu aku di rumah, aku sempet masak buat buka puasa. Gak cuma bantu mama ajah, tapi emang bener-bener aku yang masak. Soalnya hari itu, si mama pas sore-sore nganter papa buat ke daerah kota. [Maklum, rumahku agak pelosok, :p] Hwaaa, aku senang sekali. Meskipun aku emang gak terlalu sering masak karena udah jarang ada di rumah, *alasaaaan. Tapi masak memasak selalu menarik hati aku, *cieeee…. PLAK!. Secara aku emang udah bisa ke dapur dari kelas 4 SD, dan aku emang suka sekali. Apalagi bantuin nenek di rumahnya, almarhumah kan pintar sekali memasak, *jadi kangen, nenek beluym sempet ngajarin aku beberapa masakan, :). So, aku selalu excited kalau disuruh masak memasak. Kalau disuruh papa buat ini itu selalu antusias!!!

Aku emang gak pinter masak, yah. Tapii memasak itu selalu menarik hati aku, eciieee… :D Senang pokoknya lah. Nanti kalau misalkan udah jadi isteri, akuu harus lebih rajin di dapur, modif2an makanan. Ih menyenangkan sekali rasanya. Apalagi selain masak, aku juga seneng bikin kue. Aaahh pokoknya Cooking dan Baking selalu menarik hati aku. Aku malah udah bayangin, nanti harus udah pinter cari menu berbeda setiap hari, buat sarapan, buat bikini bekal untuk suami, buat cemilan di rumah, *Eeeccciiieeee hayalannya udah kemana-mana, haha PLAK!!! Haha dasornya akuu, tetep pokoknya ingin jadi Ibu Rumah Tangga! Maksutnya aku gak mau jadi wanita karier kantoran gitu. Kalaupun nanti aku jadi dosen, aku ngajar yaa sebisa mungkin nyari waktu yang gak terlalu ngajeprut dari pagi sampe malem. Pokoknya aku gak suka kerja yang diatur rutinitas atau jadwal, kek PNS gitu, ooh gak banget buat aku. Hehe… Ya, aku rasa jadi penulis, dosen, konsultan kesehatan dan entrepreneur udah cukup deh. [Bukan cukup, kebanyakan kaliii, hehe, biarin aja dooong, asal pinter manage waktunyah, :p]

Back to masak lagi. Aku seneng banget pas mama juga beliin koran SAJI yang isinya MASAKAN SEMUA tentunya. Senang melihatnya. Hehe… Pokoknya nanti kalau aku nikah yah, aku mah mau beli buku-buku masak yang banyak. Soalnya aku mah bisaan kok kalau harus nurutin resep. Intinya yah, aku tuh selalu yakin bahwa setiap hal itu amat sangat bisa untuk dipelajari. Soo, nanti pastinya aku tanya 2 dulu lah makanan kesukaan suami aku ituh apa, kalau bisa belajar sama ibu mertua, *cieeee… plak!. Iya dong harus belajar dan bertanya, soalnya kan bagaimanapun selera suami aku tentunya yang paling tahua dalah ibunya. Ibunya yang menciptakan cita rasa di lidah suami aku itu. Soo, harus nanya entar, *Haduuuh udah deh mulai ngelanturnya kemana-mana, :p

Ini nih, makanan sederhana yang aku buat pas kemariiin. Biasa aja kok. Tapi semua sukaaa, dan habiiis… *cieee fuuu… PLAK!


 Ini sop buahnya bikin sendiri lhooo... Si mama sengaja beli buah-buahannya langsung. Eh, ternyata lebih murah bikin sendiri daripada beli langsung jadi. Puas lagi susunya mau segimana, buahnya sebanyak apa, manisnya segimana. Wuiihhh segeerrr.. :D




Ini ayam penyet yang pedes ituu. Adik aku yang pertama sukaaaaaaa sekali. Secara dia mah amit-amit suka pedesnya. Segitu pedes aja kata dia masih BIASA. hoho....


Kalo ini sih standar, mie telor di goreng, langsung habiiiiss diserbu. Padahal perasaan udah bikin banyak, tapi katanya masih kurang juga. :p

 Nah, ini yang paling disuka semuanya. Sayur sooooppp. Segar sekaliii, apalagi bumbu lada-nya itu kerasa banget. Sayurnya masih fresh lagi. Ini langsung habis jugaaaaa. Itu sayurnya seadanya yang ada di lemari es, si mama stoknya dikit, jadi seadanya. Hihi, meskipun begitu Alhamdulillah semua suka. Terutama si Papa. Dia sampe abis dua mangkok gede. Heuheu...

Haha, inginnya aku bisa jadi Chef. Tapi karena udah kebanyakan banget talent akooh, PLAK!!! so aku milih jadi chef buat keluarga aku aja deh, hihi.. PLAK!!!!

Meracau lagiii… :D

Be a glasses girl again, :D


Waktu tanggal 3 Agustus. H plus satu ba’da pengumuman unpad itu, aku masih keliatan gak bergairah, kata orang rumah. Si Mama berinisiatip buat ngajak aku jalan-jalan, sambil nyari kacamata. Secara emang si Akuu udah bener-bener rabun, burem kalo ngeliat yang jauh. Inih kerasa banget apalagi pas aku naek motor. (Yang pagi-pagi tereak-tereak gak jelas sambil nyanyi-nyanyi, dengan kecepatan yang tak bisa dikira, LEBAY! Haha, soalnya saking ngebutnya, *premannya keluar lagiii, ;p) So, pas siang-siang gituu, kita sekeluarga pergi ke Cirebon doong. Pas di sana, nyari-nyari di optic gak nemu model yang aku mau, secara si Akuu menetapkan standar bahwa itu kacamata haruslah lucu, pantes dipake aku, dan terutama FRAME-nya UNGU. Angger! Keukeuh! Teuteup! Haha…

Ternyata eh, ternyata, di optik tuh kagak ada yang bagus. Dengan harga yang amit-amit mahil Cuma buat kacamata doang, modelnya jelek-jelek, warnanya gak ada yang bagus pula (ungu maksudmu, fu? Haha…) Malah nemu di kek tempat kacamata yanga da di GRAGE MALL Cirebon, tapi bukan optik. Naon nya namina? Ah pokokna mah jual kacamata deh, :p Aku nemuu, malah lucu sekalii. Aku pengen beli dua pula, warnanya ungu semuaaah, tapii, aku harus teuteup pilih salah satu. Yawdah, pilihan terpilih deh ke kacamata full frame warna ungu (LUCU SEKALI, aselinya, haha, loe aja yang bilang itu mah fuu!!!, :p) Namun, ternyata eh ternyata, di tempat ituu gak bisa ganti lensa, teuteup harus ke optic! Hwaaa… berhubung harga ganti lensa di optic Mall itu lebay, makanya kata mama entar aja we di Majalengka nyari optiknya.

Besoknya, aku sama mama dianter sama papa pergi deh ke salah satu optik di kota kecil aku yang tercintah itu. Pas di sana, aku malah JATUH CINTA sama kacamata model lain. Kalian bisa tebak kan warna apa? Ya UNGU laaaah, haha… Itu kacamata tanpa frame, dan kata mama lucu dan pas dipake aku. Nah, berhubung di sana kalau ganti lensa doang itu lebih mahal, makanya kata mama mending beli aja satu lagi kacamata-nya. Asyiiiiiiiiiiiikkk… Mama emang the BEST, ih, hug mama deh pokoknya, hheu… So, yang kacamata yang aku beli di Cirebon itu, digantinya nanti di salah satu kenalan mama, biar lebih murah juga katanya [harga temaan, hoho, ibuku memang cerdas, nurun ke anaknya juga, ;p huhuu PLAK!!!)

Sebelum kacamata itu dibeli , aku di tes dulu kan yah. Nah, di optic sana juga bisa diukur minus berapa-berapanya. Jadi, kagak usah ke dokter mata dulu. Pas di tes, ternyata aku emang RABUN! Rabun Jauh tepatnya. Burem aselinya. Nah, baru jelas ngeliat tuh deretan huruf-huruf ituu pas udah pake lensa ¾ untuk dextra dan minus ½ untuk sinistra. Hmm… ternyata memang lebih nyaman pake kacamata, jadi lebih JELAS! [haha, ya eya lah, kamu kan rabun, fu! Harus dibantu kaca mata] Nah, jadii aku pulang ke Bandung dengan kacamata yang aku beli di optic itu. Kacamata tanpa frame dnegan tangkai warna ungu muda.

Awal-awalnya, aku ngerasa gak pantes beuut. Ya begimanapun, kok aku ngerasa yang pake kacamata itu suka terlihat lebih tua. Tapi kali ini nggak kok, banyak orang yang bilang aku lucu pake kacamata itu. Adik-adik akuu (sambil diancem gak akan dikasih THR kalo bilang gak lucu, haha, :p), orang-orang klinik (yang ini beneraaan hamper semua bilang LUCU, hoho, GUE gituuu) dan juga beberapa teman di facebook. Hmm.. pesona aku tetaplah ada, mau pake kacamata atau nggak. PLAK!!! Amit-amit narsisnya kagak ketulungan. Hoho…

Dan, inilah saudarah saudarah, wajah LUCU aku yang pake kacamata. Maaf kalau so imutnya amit-amit, efek sampingnya mungkin anda akan pusing atau muntah berhari-hari. *Haha, PLAK!


Pake kacamata ajah udah lucu ginih, apalagi pake softlens yah? *Heut ungu lagi lensanya? Hwaaaaa...tapi masih sieun ah, berkacamata dulu SAJAH!!


Yang atas, itu kacamata yg dibeli di cirebon, yang bawah yang dibeli di optik Majalengka. Haha, aku jadi gadis berkacamata lagi, I'm a glasses girl again, *Cieeeeeeeee... :D

Meracau lagiii… :D

Selasa, 02 Agustus 2011

Menunggu

Menunggu itu kata orang hal yang menjemukan. Tapi, kenapa aku adalah tipe orang yang tidak bisa marah pada orang yang membuatku menunggu begitu lama. Pada jenis apapun kondisinya. Apalagi itu adalah temenku sendiri. Seperti malam ini. Aku menunggu semalaman. Menunggu seseorang yang sudah mengiyakan untuk aku ajak diskusi. Hmmm... tapi Allah baik hati, Allah beri teman-teman lain yang bisa memberiku pendapat. Sudah, aku offline saja. Lagipula ini sudah larut sekali. Mungkin dia sudah lupa. Ah, fu kamu jangan ketergantungan pada manusia. Tapi gantungkanlah segalanya pada Allah... ^_^

*mungkin benar, Ramadhan ini untuk melepas perlahan...

Senin, 01 Agustus 2011

Bidan dan Perjodohan

Tuh kan, bahasannya gak jauh-jauh dari begini lagi. Entah kenapa banyak sekali orang yang ingin bahas masalah jodoh, nikah dan something like that lah sama aku. Ceritanya gini, waktu aku mau pulang ke Majalengka, selama di perjalanan, tiba-tiba dihubungi sama salah satu kakak tingkat aku dua tahun di atas. Dia udah menikah, sekarang tinggal di Jakarta. Pas bulan Mei kemarin, waktu aku ikut seminar di FK UI, aku ketemu beliau. Dan tiba-tiba nanya aku soal calonlah, ada yang sedang cari isterilah, yaa ujung-ujungnya nawarin aku untuk berkenalan dengan seseorang. Cuma si Teteh sepertiny amengerti “jalan pikiran” aku, ditambah aku emang gak tertarik jodoh-jodohan, dikenalin, atau cara-cara seperti itu. Hehe… (lalu maunya apaaa? :p ya maunya yang udah kenal aja, hehe…) Padahal kualifikasi calonnya itu lumayan OK, si Teteh promosi dengan begitu menggebu-gebu.

“Dia ganteng lho, anak satu-satunya, ibunya bidan, makanya cari menantu bidan buat jadi penerus, dia lulusan polman, sekarang udah kerja di perusahaan Biogas. Mau gak fuu?” haha.. sayangnya si aku gak bisa dirayu dengan hal-hal berbau materi seperti itu, terlalu duniawi. Hehe… (idealism fuu…fuu…) Waktu itu aku cuma mesem-mesem doang. Aku kira, tuh orang udah dapet jodoh ya, soalnya gak ada yg pernah hubungin aku buat kenalan, si Teteh sempet minta izin sama aku buat ngasih nomor hape aku sama dia. Ya sudah terlupakanlah…

Namun ternyata si Teteh hubungin aku lagi, tapi bukan buat ngejodohinnya sama akuu. Tapi si Teteh minta bantuan buat nyariin adik kelas yang aku kenal buat dijodohin sama salah satu temannya suaminya itu. Aku bilang kalau angkatan aku hampir udah punya calon semua, (kecuali eyke kek-nya, haha..)Tapi katanya ingin cari yang lebih muda, gak mau seumuran kek aku (lha, dulu kenapa mau dijodohin sama aku ya? Haha…) Aku sampe bingung nyari kira siapa adik kelas yang bisa aku rekomendasikan. Secara hampir semuanya udah punya calon semua, bidan poltek gituu, haha…  banyak yang suka, calon menantu idaman, calon isteri yang bisa diandalkan, PLAK! Cuma di Gue aja yg anomaly, sampe sekarang kagak punya calon juga. Haha, dasor! Biarin ah, menikmati jadi jomblo sejati karena Allah ituuu ternyata menyenangkan, Hhe… (sembari ngelus dada, plak!!! :p)

Akhirnya dapet juga, aku kasih tahu dua nama adik kelas aku. Si teteh minta nama fb-nya, soalnya katanya mau lihat orangnya dulu. Aku sempet keteteran, bingung dan milih2, soalnya kriterianya itu lho, “Cantik dan sholehah”, itu kan beurat. Aku menafsirkannya yaa harus “Cantik fisiknya” alias menarik secara fisik, jadii yaa aku jg ngerekomeninnya jg agak bingung. Cantik itu kan relatif. Coba kalau bilangnya sholehah aja, mungkin itu akan lebih mudah. Hmm… dasar yaah, yaa bagaimanapun fisik itu juga memang penting dan menentukan juga. Rasul pun tidak pernah melarangnya. Bahkan katanya isteri-isteri Rasul saja cantik jelita semua. Mulai dari bunda khadijah, Aisyah, Maria Al-Qibthya, Hafsah, dan isteri yang lain. Ya, ya… pria juga berhak menentukan standar. Hanya bagi akuu, inner beauty tentunya lebih penting. Hehe… yaiya laaah, fuu kan perempuan, tentunya membela hak perempuan, naon sih fuu? :p

Hmm… kek-nya aku bener-bener harus buka biro konsultasi deh entar, haha… secara di inbox akuu ajah banyak yang konsul mengenai banyak hal, mulai dari kesehatan reproduksi, masalah pernikahan, masalah cinta, haduuuh kek yang aku ahli dan berpengalaman dalam hal itu. Tapi, mereka semua selalu puas dengan jawaban semampu aku, padahal aku cuma berusaha jawab dari yg aku tahu ajah. Aneh ya? Dan lebih anehnya lagi, mereka selalu bertanya lagi kalau punya masalah lain. Yuppi, aku akan concern buat merubah kekurangan aku yang CEREWET dan BAWEL ini menjadi bermanfaat, yaitu bisa setidaknya memberi pendapat atau sedikit solusi untuk permasalahan orang lain. Ah, akuu memang sudah tertarik dengan dunia curhat2an, konsul2an, dan pengembangan wawasan something like that. Hehe… hadeeeuuh mulai deh ngelantuuur. Udah ah, nanti makin kemana-mana. Yang pasti,kenapa bahasan ttg jodoh, cinta, menikah tak pernah lepas dari hidupku yah? Kata orang sih, “Segerakan” haha… si Gue Cuma bisa ketawa dan bilang, “SETEPATNYA!!!” *jurus paling ampuuuh, :p

Yaah, meracau lagih, sudah ahh… :p
Wassalam wr wb

Ngomongin Nikah (Lagi!)

Kemaren waktu ketemu Mair, aku seneeeenng beut. Udah lama banget gak  curhat-curhatan sama dia. Dulu kalau ada apa-apa, aku selalu cerita sama dia, secara kita tinggal satu kamar dan seasrama. Kemaren, aku cerita banyak sama dia, banyak hal, terutama setelah 10 bulan kita berpisah. Sama dia emang paling enak cerita soal mimpi-mimpi, ngehayal ngalor ngidul, dan something like that. Hmm… gak akan jauh-jauh bahasannya, apalagi kalau soal MENIKAH. Haha… dasar wanita!!! :p

Dulu, aku ingeeet beut kalau diantara temen kamar, cuma Mair yang ingin menikah di usia 25. Yang lain sepakat bahwa usia 25 adalah batas maksimal kita-kita untuk menikah. Kata Mair fine-fine aja, biar lebih siap dan matang. Namun, itu duluu, aku agak kaget waktu dia menceritakan bahwa dia sudah ingin segera menikah, kalau bisa maksimal tahun depan. Ya setiap orang tentunya bisa berubah tergantung kondisi yang ia hadapi. Itu juga dikarenakan dari calonnya Mair serta keinginan kuat dari Mair sendiri yang memang sudah ingin segera mengakhiri masa pacarannya itu, lama-lama malah banyak dosa, itu katanya. Aku dan mair punya satu kesamaan, bahwa kita bukan orang yang mau terlalu fanatik serta menilai orang hanya dengan status pacaran atau tidaknya. Meskipun di beberapa prinsip kita berbeda, kita saling menghormati satu sama lainnya.

Aku kagum banget sama mereka berdua (Mair dan calonnya), secara aku tahu gimana kisah mereka dari awal. Gimana mereka memperjuangkan hubungan mereka, mulai dari calonnya yang ternyata dijodohkan orang tuanya, menjelaskan pada banyak orang tentang hubungan mereka, sampai akhirnya bisa mengenalkan Mair pada dua orang tua calonnya. Sampai berhasil, dan mereka berdua direstui, bahkan didorong untuk menikah. Sebenarnya kedua orang tua mereka sudah menyetujui mereka berdua untuk segera menikah, hanya saja tinggal menunggu kepastian mereka berdua saja. Mair dan calonnya sedang memikirkan untuk persiapan financial kedapannya. Terlebih Mair juga yang mau sekolah lagi D4 tahun ini. (amin…)

Kemarin itu aku sempet ngomongin soal nge-kos bareng lagi  kalau kita berdua keterima di D4 unpad. Kita merencanakan banyak hal, kek mau membiasakan masak sendiri, biar sama-sama belajar untuk kehidupan rumah tangga nanti. Ceileeee… gaya yah bahasannya, haha… Aku juga sempat memberi masukan sama Mair soal kebingungannya untuk menikah. Aku nyaranin dia sih untuk disegerakan saja, toh calonnya juga sudah lulus bulan kemarin. Oh iya, calonnya Mair itu seumur sama dia, lulusan ITB, temen dia waktu SMP, jodoh emang bener2 gak keduga yah? Hehe…

Yang bikin aku kagum lagi adalah pola pikir mereka melihat masa depan. Calonnya Mair itu yah orangnya optimis sekali, penuh dengan perhitungan. Hmm…pinter banget lagi, dia itu ingin ke luar negeri, mengikuti jejaknya pak habibie katanya, yaitu ingin ke Jerman. Terlebih katanya memang kalau lulusan Teknik Penerbangan belum terlalu “berkembang” bila di Indonesia. Jadi, calonnya itu lagi ngejar beasiswa buat kesana. Kalau bisa sekalian ingin sambil bekerja juga nantinya. Calonnya itu sebenernya udah ingin segera menikah, hanya Mair masih ragu di masalah financial, apalagi selama kuliah tentunya dia gak akan kerja. Padahal menurut akuu, tinggal ambil saja dulu tawaran kerja dari perusahaan yang ingin ngerekrut calonnya itu. Bahkan katanya dengan gaji kurang lebih 6 juta per bulan. Menurut aku sih udah cukup yaaa, sementara nunggu Mair sampe lulus kuliah tahun depan, yawdah mereka ngontrak rumah aja dulu, “kan katanya mau keluar negeri, yawdah gak usah beli rumah dulu aja, kek Risma pas kuliah dulu aja,” Menurut aku yang lebih utama adalah niat untuk segera menghalalkan hubungan itu, klau soal kedepannya jarak dan waktu untuk mereka ketemu, toh Mair pun meng-iya kan bahwa selama mereka pacaran saja mereka jg kuat untuk sering bertemu, “berperih-perih dulu demi masa depan” katanya. Mair sendiri lebih pada tak mau lagi berdosa dengan hubungan ini, lama-lama juga katanya tidak nyaman. Dia nyeritain semuanya sama aku, dia emang butuh seseroang untuk dia ajak biacara kek gini. Dia emang butuh banget masukan tentang hal itu. Aku bantu ngeyakinin dia buat semakin YAKIN untuk segera menikah. Seperti kata calonnya, “kalau rezeki orang menikah itu urusan Allah, bahkan biasanya lebih mengalir.” Dan akuu setuju sekali dengan itu.

Aku kagum sama mereka, pemikirannya sudah jauh. Calonnya juga baik dan dewasa sekali, melebihi usianya, hehe… Mair malah selalu becandai akuu yang sama2 punya mimpi buat go abroad dari dulu. Dia Jerman, sedangkan aku ingin sekali ke Belanda. “Jerman sama Belanda gak jauh kan fu?” hahha… aku hanya tertawa dan memintanya untuk mendoakanku. Secara si akuu ini belum jelas kedepannya gimana (maksudnya soal pasangan hidup, haha…), hanya berani mengukir mimpi-mimpi dan berusaha serta berdoa agar bisa terwujud. Aku juga bilang sama dia bahwa tetap targetku menikah maksimal tahun depan, meskipun aku tidak tahu sama siapa, bahkan sekarang belum ada calonnya (Haha, lucu sekali, padahal tahun depan ituu sebentar lagi…) Aku hanya percaya bahwa saat kita sudah memiliki niat yang kuat, bukan hal yang sulit bagi Allah untuk mewujudkannya menjadi kenyataan bila memang itu yang dikehendaki-Nya. Mair juga meberi nasehat sama akuu supaya aku menjadi orang yang lebih “terbuka” untuk menerima seseorang yang berniat baik. Ha ha… dia memang tahu bagaimana keukeuhnya aku dalam memegang “prinsip”. Aku hanya bilang, “aku hanya mencoba mempercayakan hati aku yang mengambil alih, Ir”

Dia tahu tentang akuu yang seringkali patah hati, smentara beberapa mengulurkan tangan untuk aku. Meskipun aku tidak terlalu bercerita detil padanya, tapi dia mengerti bagaimana perasaan aku. Aku hanya bisa meminta padanya untuk mendoakan akuu, agar segera diberi yang terbaik sama Allah. Aku cuma bisa bilang bahwa pangeranku adalah tentunya seseorang yang berani, berani untuk mengambil keputusan, berani dalam bersikap, berani yang tak hanya dalam mengungkapkan perasaan, berani untuk bertemu ayahku, dan berani menjemput aku. Dan sayangnya yang berani itu belum ada, ha ha… kebanyakan minder, merasa tidak siap, tak mau mengambil resiko untuk mengalami penolakan (ha ha dasar pria!!! :p), terombang-ambing dalam pilihan, dan banyak hal lain. Ahh, sampai sekrang pun aku tidak mengerti jalan pikiran pria itu seperti apa, he…he…

Yang pasti, aku sama2 satu paham saat ini sama mair, bahwa bila pun kami sekolah lagi D4, tak akan menghalangi niat kami buat bisa menikah maksimal tahun depan. Toh, menikah sambil kuliah sebenernya bukan menjadi halangan atau hambatan, itu sangat tergantung dari orang yang menyikapi dan menjalaninya. Yang ini kita berdua sepakat. Haha…  Aku juga becandain gini sama dia, “Tapi kalau kamu nikah beberapa bulan kedepan, nanti aku ngekos sendiri doong?” ha ha…. Dasoor!!! Tetep aja yang dipikirinnya diri sendiri. Hmm… aku mah masih tetap bersyukur sama apa yang Allah beri mulai dari perasaan yang ada di hati aku, orang2 yg di samping aku, sampai kondisi aku yang seperti sekarang ini. Aku bersyukur, karena tak ada nikmat Allah yang boleh kita pungkiri, semua harus kita syukuri. So, aku mah simpel aja, jalani yang ada di hadapan, kerjar mimpi dan target akuu, tetap komitmen pada diri sendiri untuk ikhlas dan sabar dalam menjalaninya. Amin. Allah, bimbing hamba-Mu ini…

*hmm… hal beginian emang rumit, gak bisa diprediksi, hihi.. :D

Selasa, 19 Juli 2011

Khatam Qur'an

Dia bilang, hari ini baru selesai khatam Qur'an. dan aku yakin dia memang bisa melakukannya. sebisa dia yang harus teguh pada prinsipnya. aku hanya ingin berucap :

"Selamat ya, semoga apa yang dibaca berbuah pahala, dan menambah kecintaanmu pada Al-Qur'an. semoga Allah istiqomahkan di jalan-Nya"

sudah itu saja. :)

Rindu

Rindu sekali....

Tapi katanya aku harus membiasakan diri untuk :
tidak lagi mendapat pesan motivasi darinya
tidak lagi mendengar suara lucunya
tidak lagi bercanda dengannya
tidak lagi cerewet berceloteh banyak hal dengannya
tidak lagi dibangunkan shalat malam olehnya
tidak lagi diingatkan untuk selalu tersenyum olehnya
tidak lagi berdebat berbagai masalah dengannya
tidak lagi membincangkan rembulan dan bintang yang terindunya
tidak lagi mengharap apa-apa padanya

tidak lagi semuanya, karena aku tahu diri

bahwa aku bukan siapa-siapa
bahwa aku tak berhak apa-apa
bahwa aku tak terpilih hatinya
bahwa aku begitu sangat biasa

bahwa sekarang aku harus lebih mendekatkan diri pada Allah, hingga Allah menjawab segala kesamaran ini, hingga Allah membuat aku lupa akan yang tengah bersemayam di hati ini...

Allah ampuni hamba karena telah merindunya, semoga ia baik-baik saja, dan engkau membuatku segera melupakannya, hingga pangeranku yang sebenarnya yang berhak akan segala di hati ini. Mesi namanya masih kupatri di sini, di hatiku dan mimpiku...

Senin, 18 Juli 2011

Tentang menikah!

Sekarang saya mengerti (padahal dari dulu sebenarnya sudah mengerti) kenapa Allah dan Rasul begitu menganjurkan sebuah pernikahan, jua para murabbi dan kawan sepemikiran yang menganjurkan menikah muda. Karena ada ketentraman di dalamnya, karena bagaimanapun tak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di dunia ini tak bisa sendiri. Menikah juga adalah wujud rasa syukur kita terhadap Allah yang menciptakan setiap makhluk-Nya berpasangan. Setelah menikah, semua halal, semua berpahala. Semua kata-kata mesra dan pujian adalah pahala, bukan dosa seperti yang mengucapkannya sebelum menikah. Rabb, ampuni hamba, karena mungkin hamba begitu egois pada rasionalitas sendiri, dan terlalu cepat mengambil keputusan. Rabb, rasanya sakit sekali, mohon akhiri semua ini... T_T

Sekarang saya akan meyakini, bahwa Allah pasti akan memberi rasa yang ajaib untuk ia yang Allah takdirkan untuk saya. Bahkan yang lebih dari apa yang sebelumnya telah saya rasakan. Meski saya sendiri tidak tahu entah itu kapan. T_T

*di saat orang-orang telah jauh melangkah, dan saya hanya berkutat dengan keegoisan pemikiran saya! Astagfirullah... T_T

Perpisahan

Kenapa harus ada perpisahan? Karena selalu ada pertemuan!

Kenapa harus ada pertemuan? Karena selalu ada pembelajaran!

Kenapa harus ada pembelajaran? Karena ada kehidupan!


Jangan tanya kenapa ada kehidupan? Karena itu tandanya kau sudah musyrik terhadap adanya Allah. Yang telah menciptamu, menyayangimu, mencintaimu...

Allah, kalau setelah perpisahan, ada pertemuan lagi kan?

Semoga gelas baru itu yang terakhir, bukan lagi yang membuat hatiku remuk berkeping-keping...

Kamis, 14 Juli 2011

Hati Wanita

Assalamu'alaykum wr wb...

Hanya sedang ingin meracau, tak apa-apalah kalau pun kacau. karena ini memang meracau... :p

Bila mungkin sebagian besar wanita memiliki hati yang begitu mudah diketuk, disentuh dan diluluh. ternyata itu tidak terjadi pada aku. Aku sangat susah sekali untuk menyukai sesorang, namun bila sekalinya suka sangat sulit sekali untuk lupa. Namun, aku selalu percaya bahwa hati ini digenggam oleh Allah, oleh karena itu sangatlah mudah bagi Allah untuk membolak-balik sekehendak-Nya.

Tapi ternyata bagaimanapun hati wanita (seperti aku : red) bisa ditaklukan seiring berjalannya waktu. Hmm... lebih tepatnya seperti mainan layangan, alias tarik ulur. Hati wanita itu tidak terlalu suka pada keagresifan yang ingin memasukinya, tapi ia juga tidak mau pada keacuhan yang berlebihan. Jadilah seperti layangan, tarik ulur, namun jangan terus menerus seperti itu juga. Karena suatu saat ia akan bosan dan memilih angin pergi membawanya, putus dari benangnya.

Hmm...aku juga tak mengerti seperti apa hati pria itu dibuat. terkadang mereka seenaknya menaruh rasa pada kita tanpa mempertanggungjawabkannya. Sementara di lain sisi, ada hati yang lain yang dengan tulus menanti uluran tanganku, merapalku, setia menanti, dengan segala keacuhanku. Tapi, kata Allah yang namanya kesabaran itu selalu berbuah manis. Ah, entahlah... aku tidak pernah mengerti masalah seperti ini.

Bilapun suatu saat ada yang mampu menggamit hatiku, lalu tak ada lagi halangan, rintangan, alasan, ketakutan, kekhawatiran, atau apapun, maka aku rasa hanya ia lah yang berani yang berhak untukku. Ia yang tidak membuatku berada dalam kebimbangan yang teramat menyesakkan.

Yang pasti aku  selalu percaya bahwa Allah itu sangat baik hati. Takdir Allah itu memang samar, tapi bukan berarti ia dipasrahkan tanpa diusahkan. Begitu juga hati wanita, hanya bisa dipertahankan dengan kesungguhan dan kepercayaan serta tindakan yang konsisten, bila berkurang sedikit saja, boleh jadi ia bisa berubah sedikit dei sedikit. Allah, aku serahkan ini perlahan...

*dengan leleahan air mata, rasa ini menyesakkanku, sungguh!!!

Rabu, 13 Juli 2011

Antara Sekolah dan Menikah

Assalamu'alaykum wr wb

Heloow dellow mellow Aa, Alohaa... apa kabar? Hmm... udah berapa hari nih gak nulis di sini. Hehe... :D. Eh, sekalinya nulis, judulnya beuuuurraaat gituuh. Ya Allaaaahh... fu... fu... yaps... fu memang sedang diserang kebimbangan yang tiadaaaaaaaa terkira. (lebay mode : on). Bulan seakrang ini adalah bulan-bulannya ikutan tes buat masuk kuliah lagi. Dan memang seperti rencana fu di tahun ini, fu sangat ingin untuk meneruskan sekolah lagi. Seperti rencana awal, tadinya fu sangat teramat ingin bisa sekolah lagi dengan biaya sendiri. Hari gini kalau nyari beasiswa buat jurusan kebidanan mah susah, secaraaaa justru lagi in-in-nya tuh mengenai perkembangan pendidikannya. 

Tadinya fu sempat ragu dan minder, soalnya ternyata hingga detik ini, tabungan fu rasanya gak cukup untuk bayar sekolah lagi. Terlebih project2 buku fuu banyak yang tertunda. (T_T nangis bombay, mudah2an dimudahkan dan selekasnya ya Raaabbbb... amin...) Tadinya rencananya memang akan dari uang itu untuk tambahannya. Hmm... weellll akhirnya fu mencritakan permasalahan ini sama mama papa, soal fu yang ingin berkembang, soal idealis fu yang gak mau masuk pns, soal mimpi mimpi fuu dan lain-lain. Seperti kata Bung Ippho Santosa, kalau kita punya hajat atau mimpi, harus detil dan spesifik ngasih tahu ke ortu.Supaya turut didoakan, karena DOA ORTU itu mustajab. Ortu adalah perpanjangan tangan TUHAN.

Setelah ngobrol panjang lebar. Fu ndak nyangkaaaaaa ternyata mama papa malah nyuruh fuu untuk MAJU!!! Kamu, punya mimpi? Maju!!! Urusan rezeki itu di tangan Allah, masalah biaya, mama papa berani nanggung!!! asal kamu yang bener ajah sekolahnya. Ya Allaahh... itu rasanya terharuuuuuuu sekali.... :D

Nah, setelah kebimbangan ituuu, ada kebimbangan lain, yaitu soal milih nerusin D4 atau S1. Kalau D4 di UNPAD. Kalau S1 di UNAIR alias Surabaya. 

Tadinya fuu positif untuk ngambil D4 Unpad, dengan alasan :
1. Biaya lebih ringan, secara kuliah nya cuma 1 tahun alias 2 semester
2. Jarak lebih dekat. Di bandung bo, kota yang aku cintaiiii sekali saat ini
3. Lebih sebentar, 1 tahun kuliah, dan rencananya nanti aku ingin ngejar scholarship ke luar buat nerusin S2 apkah itu master midwifery, atau master public health. :D

Namuuuun, setelah fu ngobrol-ngobrol dengan para dosen kemarin, fu dinasehatin buat ikut S1 saja. Sayang katanya. Soalnya prospek ke depannya lebih bagus, lebih menjamin bila perkembangan pendidikan bidan yang gak cuma sekadar D3 atau dipandang rendah teruuus. Para lulusan S1 ituu katanya nantinya yang diambil sbeagai para pembuat kebijakan, ngedosenin pun bisa, mau langsung lanjut S2 juga bisaaaaa. Apalgi kata para dosen, fu punya kemampuan dan kesempatan. Masih singel pula. Ho ho ho. Naaah.. justru ituu, perrtimbangan untuk gak S1 adalah karena :

1. Biaya relatif lebih mahal, soalnya sekolahnya lama, (tapi kata mama, rezeki itu di tangan Allah!!!)
2. Masa sekolahnya lamaaaaaa, 5 semester boooo, alias 2 tahun setengaaah (Lalu kenapa?)
3. Jraknya jauuuuuuuhh, dan udaranyaaaa panaass bangeeeet (Ini alasan yg gak masuk akal katanya, haha..)

 Weell, setelah dipikir2 dan dikomentarin, alasan aku gak mau S1 itu LEMAH SEKALI. Alasan yang pertama klise sekali, apalagi ditambah dengan pemikiran akuu yang mau sambil nyambi bisnis pas kuliah nanti, Sooo... Rezeki itu diikhtiarkan dan minta sama Allah. Alasan yang ketiga, hellow dellow mellow, ituu rasanya gak masuk akal banget, secaraaa yaah, kalau reziko begituan harus diambil demi mimpi dan kesuksesan. Klise banget klu fu takut kangen rumah n gak betah, juga takut item gara2 kepanasan di sanaa, (T_T tapi katanya emang gak banget hawa nyaaa..). Alasan yang kedua, nah itu yang penting. Karena Apaaaaa??? Karena Terlalu lamaaaaaaaaaa, helooooww fu umur berapa tuh baru LULUS nya, umur 24 mau 25. T_T lalu kenapaaa??? NIKAH-nya kapaaaaaaaaaaann??? Dan semua yang fu bilangin gitu malah ingin ngejitak dan marahin fuuu.... haha, soalnya :

1. PLis deh fuuu, masalah jodoh itu gak bisa di "pengen2in" dan gak bisa "dinggak2in", kalau mamah bilangnya, teu tiasa dihoyong2an, teu tiasa dialim2an, baik itu dari segi waktu dan orangnya. Kalau kamu sekrang ngerasa jodoh sama si Fulan, tapi bukan jodohnya yaaaa ditunggu2 juga gak bakal jadi. Sebaliknya kalau memang ternyata jodoh, mau kamu kemanaa duluu, mau pisah berapa lama, bakal Allah pertemukan dalam kondisi yang memang tepat untuk bertemu. Lagian, klu kmu llus umur 24, itu mesi mudaaa kali fuuu, mama juga nikah umur 26. Hiiikssssss tapi aku keukeuh mesi ingin nikah muda, mah.... T_T Iyaaaaah tapi kan gak menutup kemungkinan kamuu nikah pas lagi kuliah? mama gak akan ngelarang, toh yang penting dapet suaminya yg mau mengertii dan mau mendukung segala mimpi kamuu. HIkzzz... bener jugaaa...

2. Hampir sama kek penjabaran ke dua, dosen fuu juga bilang kalau gak menutup kemungkinan kan dapet jodoh di sana? Hwaaaaaaaa orang surabaya? hmmm.... orang jawa dong? agak kasar pula, heu..... Tapiii kan gak semua orang nya seperti ituuu. Siapa tahu dapetnya yg ganteng, sholeh, tuturnya baik, dan seperti kriteriamu yg laen2 itu. Hmmm... yang penting lurusin niat, antara sekolah dan nikah. Kalau bisa dijalanin dua2nya kenapa nggak? hahhaha... Maksuttnyaa suami aku ta' bawa ke surabaya gituuu? haduuuuuuuh tapi siapaaa coba hari giniiii, hheu....

Weell... bener juga sbenernya pendapat para orang2 yg tentunya lebih berpengalaman dan lebih daewasa dalam pemikirannya dibanding akuu. Lagian niat aku untuk nikah muda juga belum dapet sinyal dari Allah. Hheu.. maksutnyaaaa??? yaa kta orang klu udah punya target nikah, seenggaknya udah punya calonnya, lha gueeeee???? siapaaa??? haha... Kalau fans sih banyaaak, (PLAK!!!!) kalau calon suami? Belum ada yang beraniii, gkgkgkkgkg... Terlebih hati si GUE ini belum bisa dipaksa2, hadeeeuuuuuh PATAH HATI mulu sih kamu fuuuu... Haha... Gak apa-apa, kata semua org terdekat fuu, fu bakal jauh lebih STRONG dibanding orang-orang yang gak pernah ngerasaain gimana sakitnya, huhu... Allah sayang sama fuu, makanya sampai saat ini masih menjaga hati untuk satu orang sajaaaa... :)

Soo kesimpulanyaaaa??? yaaa sekarang mah ttep aja jalanin dulu yg dihadapan, yaituuu fu ikutan tes UNPAD, kalau memang tidak berhasiiil, ikut tes UNAIR yang pendaftarannya nanti pas akhir juliiii... :) Hmm... udah positiP, mauuu sekolah lagiiiiiiii... :D Urusan JODOH???? kalau kamu memang jodoh fuu, YAKIN bakal ALLAH pertemukan, dengan cara ajaibnya!!! Urusan waktu dan tempat yg berlainan dan berjauhan??? BUKAN MENJADI MASALAH bagi ALLAH yang punya SEMESTA luas beginiiii...

Bismillaaaaaaaah.... Semoga Allah beri yang terbaik!!! SemangkA, Allah fu sayang Allah... :)

Aa, mohon doanya untuk diberi yang terbaik yaaaaaa... kapanpun ituu, fu tahu akan bertemu denganmu di saat yang tepat... :)

Minggu, 10 Juli 2011

Sakit lagi

Assalamu'alaykum wr wb

Hai... Aa... pagiii... :D Apa kabar? Hwaa... kemaren fu sakit. Padahal yah kemaren ituu fu dari pagi biasa aja. Nah, hampir seharian fu nulis. Di selang waktu kalau ada pasien tentunya. Iyah, fu lagi di klinik, bagian jaga, A :D. Waktu pas agak menjelang sore, udah mulai kerasa badan anget-anget gimnaaaa gituu, terus kakinya sakiit banget, kek cenat-cenut gituuh si kaki teh, kek lagi di sedooot seluruh tenaganya, #halah lebay, analogi yg aneh PLAK!!! Nah, tadinya sudah disugestikan untuk gak mauuu minum obat. Tapi ternyata eh ternyata, demamnya makin naik, dari 38 derajat jadi 38,5 derajat. Udah gitu fu mintain salah satu mahasswa yg lagi prktek di klinik buat ngitungin nadi, dan hasilnyaaaa 105 kali/per menit. Hwadduuuuhh ini gaswat, mana semua badan juga jadi sakit, berawal dari kaki doang jadi menjalar ke seluruh tubuh. >.<

Lalu fuu berpikir ada apa ini yaaah? kenapa? kok bisaaa??? dan hasil perenungan selama fu terkapar di sofa dan tempat tidur klinik, mencoba merunut kegiatan d klinik seminggu ini seperti apa, daaaannn I gottaaa the answer, yang paling utama adalah fu baru sadar kalau seminggu ini gak makan BUAH sama sekali, juga makan sayurnya kurang, tidur malem terus, jam 12 tidur jam 3-4 bangun lagi, dan hampir seharian depan leppi soalnya harus NULIS, *dikejar deadline dot com, ALASAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNN!!! GEdebuuukk!!! Awww sakkkiiit.. :p.

Ditambah lagii, seharian kemareeen, fu baru inget kalo fu gaaak banyak minum aer putih. Malah luppa minum, haha... itu kebiasaan jelek fuuu!!! Lupaa minum aer putih, lupa segala (untung gak pernah lupa sholat klu adzan :p) kalau udah punya keasyikan depan leppi... :p Waaahhh... pokoknya fu tuh emang amit-amit deh pelupanya, harus diingetin muluuu, aplagi klu buat diri sendiri, hiihiihi... Dan tahukah, Aa.. gara-gara demam kemaren, muka fuu katanya meranuuun sekalii, pipinya kek jeng keliin, memerah, bukan tersipuu tapi gara-gara demamnyaa, hheu... Udah gituu puceeet.. Yang biasanya fu ketawa tiwi, cerewet ke sana sini, hanya bisa lemas terkapar tak berdaya, hheu.. 

Astagifirullah... gini nih, fu kurang bersyukur akan kesehatan yang udah Allah kasih, gak bisa menjaganya, nahh Allah ngasih deh peringatan lewat sakit yg meskipun bentar inii tapii lumayan membuat fuu sangat tak berdayaa, heuheuu... ini nih  muka fuu yg gak jelas waktu terkapar kemaren, (teuteuuup narsis meessii bisa fotooo :p)


Ini muka gak banget, lemes, memerah, pucat, tapi messii aja bisa poto narsis!! wkwkkwkwwkk

Setelah wudhu dan sholat maghrib, lalu tilawah, keadaan belum membaik juga. hnaya turun sedikit temperaturnya, jadi 38 derajat, yang lebih gak mengenakan adalah sakit kaki dan badannya ituu, lemeeeeeessss banggggeeeeettt... akhirnya fuu inget, karena kurangmakan buah n sayur, beratii fu kekurangan vitamiin,,, TRING!!!! Hwaaa I see, akhirnya fu minum vitamin B Kompleekss. Secara itu adalah vitamin yang esensial bangeeett buat tubuh, makanya ke saraf dehhh, pegel pegel, sararakiiit... ya Allaaahh... pokoknya lemaas sekali. sampe diem ajah, dan bukan Fu bangeet. orang klinik ajah menyayangkan sekaliii... :D

Aa, doakan fuuu yaaah.. mudah-mudahan sehat selaluuu, bisa menjaga kesehatan ini dengan baiiiikk.. :D
kangen Aa sekaliii... ^^, Supaya bisa tersenyum ceria, dan narsis lagi sperti iniiii... :p

Minggu, 03 Juli 2011

Doa di Milad

Originally posted by Fu

Pertama

bangun tidur dicium pipi kanan kiri serta kening sama mama dan papa :"semoga selalu mendapat yang terbaik dan sukses selalu"

*singkat tapi padet, dan bikin meleleh T_T Amin ya Rabb

Kedua
doa dari teman-teman facebook, yang rata-rata dapat disimpulkan mendoakan :
"kesuksesan, keberkahan, yang terbaik, harapan tercapai dan kemudahan dari Allah"

*terima kasiiiih sekali, khususnya untuk yang belum pernah bertemu saya sama sekali. saya terharu. T_T

Ketiga
waktu ngasih kue ke tante dan saudara saya :"mohon doa diberikan yang terbaik, niat yang terdekat terpenuhi, dan *tiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt (sensor)"

Keempat
sms dari orang-orang klinik, yang rata-rata dapat disimpulkan :"semoga segera mendapat gelas baru, agar cepat menikah."

*saya tersenyum, diaminkan saja deh yaa... :)

Terakhir
dari yang pertama memberikan saya ucapan selamat di hari kemarin,
Doa dalam bentuk puisi yang saya dapat di milad saya kemarin :

hatiku meniupkan selamat untuk sebuah hati di sana,
yang pemiliknya menyemangatiku di susahku,
yang memberi kelembutan di kebencianku,
yang memberi kehangatan dalam kakuku,

kepada Yang Maha Pengasih,
jagalah dalam naunganMu
sang pemilik hati ini.
semakin bertambah usianya
semakin dekat denganMu
semakin sayang dan menyayangi diriMu
semakin diwariskan asmaMu

"alhamdulillah telah menginjak usia 22, insya Allah menjadi wanita yang lebih disayang oleh Allah Ya Rahman. kadonya berupa doa tak menyudah yang selalu mengharapkan yang terbaik yang senantiasa engkau dapatkan. semoga senantiasa semakin dekat dengan-Nya."

ucapan termanis dan melelehkan hati saya : "Aku sayang kamu karena Allah"

Selesai

Sebenarnya, harapan saya selain doa tentunya, saya ingiiin sekali pada hari kemarin ada yang membuatkan saya puisi, alhamdullillah terpenuhi, terima kasih ya Allah. dan yang paling utama mudah-mudahan mimpi-mimpi saya yang tertempel di dinding kamar dapat terealisasi. Amin. saya menyuruh adik dan orang tua saya membacanya juga setiap hari, dan mengamini. terutama bila saya tidak ada di rumah. Bismillah...


Majalengka, 3 Juli 2011

*terima kasih untuk semua yang telah mendoakan saya... ^_^ Alhamdulillah...

Jumat, 01 Juli 2011

Tas Gendong, Dong!

Originally created by Fu

Kisah pertama :

"Teteh, gimana sih, Bu Bidan kok tas-nya masih tas gendong. Mulai beli atuh tas perempuan, supaya terlihat lebih dewasa!"
"Lha, ini kan ladies series juga, Mah."

Percakapan itu terjadi kurang lebih beberapa bulan yang lalu, saat saya baru lulus kuliah. Mama saya sering mengingatkan saya untuk membeli tas "ala cewek", yang bertali satu, yang dikaitkan pada sebelah bahu, yang terlihat feminim (menurut sebagian orang), dengan beragam model dan warna. Tapi, dari dulu saya lebih suka tas gendong, bahkan saya sudah punya merk favorit setiap kali saya akan beli, seperti E***RT, E***R, O****N, P*****TI dan B******CK. Hal itu karena saya suka modelnya, warnanya, harganya, juga keawetannya. Namun, perkataan mama saya sempat mengusik pikiran saya juga. Meskipun sempat ragu, akhirnya saya menuruti juga perkataan mama saya itu, dengan mencoba membeli satu tas "ala cewek" berwarna putih. Karena baru percobaan untuk tingkat kenyamanan saya memakai tas itu, maka saya membeli yang harga standar (mungkin kwalitas kw 5, haha...). Sekali dua kali pakai, masih bisa dinyaman-nyamankan. Tapi selanjutnya saya sudah tak merasa nyaman sekali, apalagi bila bawaan saya penuh bahkan tak muat di tas itu. Selain berat, tidak nyaman, dan cepat rusak pula, dan sekarang sudah tidak saya pakai lagi. (Haha...)

Sejak kecil saya memang sudah terbiasa membeli dan memakai tas gendong untuk pergi kemana-mana. Entah itu sekolah ataupun kegiatan lain. Untuk hal ini, saya termasuk apik dalam menjaga barang, termasuk tas. Papa saya mendidik saya agar selalu memperhatikan kualitas bila membeli barang apapun. Prinsipnya adalah "Bagaimanapun harga tidak akan menipu, selagi masih mampu membeli yang berkualitas baik dan tahan lama, kenapa harus ada alasan membeli yang kualitasnya rendah dan cepat rusak." Termasuk soal tas pun saya lebih senang membeli satu yang kualitasnya baik dan bisa bertahan dipakai bertahun-tahun. Oleh karena itu dari dulu saya lebih senang membeli dan memakai tas gendong, tentunya dengan merk dan kualitas yang baik, sehingga awet sampai bertahun-tahun. Mungkin bila saya harus membeli tas "ala cewek", saya harus membeli agak banyak agar bisa matching dengan penampilan saya, karena biasanya juga tas tersebut cenderung membosankan untuk dipakai.

Jadi daripada seperti itu, rasanya saya lebih baik memakai tas gendong saja. Selain awet, nyaman pula saya memakainya.

Kisah kedua

"Bubid, mau kemana? Ke sekolah?”

Komentar itu sering kali saya terima dari karyawan klinik. Aktivitas rutin saya memang sebatas Majalengka-Bandung, alias rumah-klinik. Oleh karena itu setiap saya mau pulang dari klinik, tas yang saya pakai tentunya tas yang sama dengan saat saya datang ke klinik. Tas gendong yang berisi perlengkapan saya, yang saya kira penting dan harus saya bawa. Yang tentunya menurut saya tidak akan cukup dimasukkan pada tas "ala cewek". Bila pun ukurannya lebih besar, bagi saya tas yang talinya satu itu membuat saya tidak nyaman, dan mengganggu keseimbangan bahu. (kalau orang sunda bilang : bilih dengdek sabeulah :p)

Saat kuliah pun saya memang lebih menyukai tas gendong, meskipun saya harus rela dibilang mirip anak kecil bahkan anak TK. (Bayangkan fu sedang lari2 kecil bertas gendong sambil menyanyi, PLAK!) Ah, saya husnudzon saja bahwa itu salah satu bentuk kepedulian dan perhatian teman saya atas saya yang memang imut sekali. (PLAK!) Tas gendong lebih nyaman bagi saya, apalagi bila jadwal untuk praktek di rumah sakit. Tentunya saya harus membawa banyak barang mulai dari alat pemfis, buku laporan yang seabrek, sandal, handuk, jaket, pakaian ganti (bila perlu) dan lain-lain, yang menurut saya hanya akan muat dan lebih nyaman ditaruh dalam tas gendong.

Sampai sekarang pun saya masih lebih nyaman memakai tas gendong. Untuk orang seperti saya yang senang membawa ini itu rasanya itu tidak aneh. Apalagi kalau saya bepergian, ada benda wajib yang harus selalu saya bawa seperti netbook, mushaf, buku bacaan apapun itu, dan beberapa benda lain, yang tentunya tidak muat bila dimasukkan tas “ala cewek”.

Jadi daripada saya harus ribet membawa barang saya yang tidak muat di tas “ala cewek”, rasanya saya lebih baik memakai tas gendong saja. Selain nyaman, efektif pula.

Kisah ketiga :

"Neng, SMP atau SMA?"
"Sudah lulus, pak."
"Oh, kuliah atau nggak, dimana?"
"Sudah lulus kuliah maksudnya, pak!"
"Oh begitu, udah kerja?"
"Alhamdulillah…"

Kejadian ini baru saya alami tadi siang, tepatnya di halte Trans Metro Bandung. Saya tidak mengerti kenapa seorang bapak-bapak bahkan menganggap saya masih berkisaran SMP atau SMA. Padahal tadi saya rasa sudah tampil “sewanita” mungkin, dengan gamis bermotif bunga warna hitam-abu, kerudung hitam, sepatu putih, dan tas gendong. Ah, ya! Mungkin salah satunya karena itu, karena tas gendong yang saya pakai. Meskipun saya sebenarnya lebih husnudzon bahwa wajah saya memang imut dan awet muda (PLAK!), di luar kemungkinan dari anak SMP dan SMA zaman sekarang yang kebanyakan sudah pada boros, bergaya ala seleb (PLAK!).

Ternyata tas gendong juga dimasukkan salah satu kategori penilaian kedewasaan seseorang. Bahkan itu pula yang sering disebut beberapa teman saya saat kuliah, yang menyarankan saya untuk setidaknya mempunyai tas formal “ala cewek”, supaya terlihat lebih dewasa. Ah, menurut saya, kedewasaan seseorang (terutama wanita, red) tidak bisa dilihat dari apa yang ia pakai, seperti tas misalnya. Dewasa itu sebagian besar merangkum pola pikir, yang tentunya letaknya ada dalam isi kepala. Di sini! (meletakkan jari telunjuk di kepala!)

Tas “ala cewek”? Ah, nanti bila saya berubah pikiran! Kalau sekarang? Tas gendong, dong! :p
Meracau di elf perjalanan Bandung-Majalengka
26 Juni 2011

*saat saya sepertinya harus beli tas gendong baru karena tas gendong ungu kesayangan saya diminta paksa adik saya (katanya supaya matching dengan laptopnya yang warna ungu, hufftt…!)