Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2012

Kamu, ah aku cinta!

Originally created by Fu

Kamu, berkilau dalam gelap yg menyelimuti hingga ratusan hari. Sementara aku menikmati mentari dengan sembunyi-sembunyi, sedikit enggan menjadikannya puisi lagi.

Kamu, berjelaga dalam ruang sempit sesak udara tak berjendela. Sementara aku menghela banyak udara tanpa makna, tak lagi menjadikannya diksi yang istimewa.

Kamu, bernyanyi dalam desiran bebunyi yg bernadi. Sementara aku mengacuhkan nada cinta yang sulit kumengerti, seringkali menyerah untuk menjadikannya prosa yang memelodi.

Kamu, serumit apapun aku mendefinisikan keberadaanmu yang masih rahasia, kau tetap yang istimewa, seistimewa ayabimu, ikhsanun kamil pratama.

Kamu, ah, aku cinta.

Bandung, 25 Sept 2012

Ah, Cinta lagi!

Originally created by Fu

Berderap aku melangkah dalam setiap tawa yang menjajah dunia, dalam setiap bahagia yang menyayat jiwa, dalam setiap bisik yang terlontar dari bibir-bibir palsu penghantar cinta; katanya, hidup hanyalah setitik elegi yang tak lah sebanding dengan alam baka nanti, sementara kehidupan sendiri yang telah membuatkan mereka berbagai wajah serupa; agar setia mencintanya, terlena dalam api-api berbau surga.

Berderai aku dalam setiap sujud yang penuh pinta khusyu', dalam sedih yang melantun lagu, dalam pasrah yang memaksa diri tak lagi mampu; katanya, mati itu hanya berupa perdebatan sekarat ataukah nikmat, sementara memori tentangnya telah membuat setiap mereka bertopeng melupa dunia; agar terkesan mempersiapkannya, terarah pada jalan-jalan kanan yang menyimpang kiri pada akhirnya.

Tuhan, ajari kami; apa itu tawa dan tangis sesungguhnya, bukan karena mati apalagi dunia!

Ah, keduanya Cinta pada fitrahnya!

Bandung, 13Juli 2012

Secarik Puisi Lisan

Originally created by Fu

Mendulang asa dalam bias-bias purnama yang menjelagakan hati kita pada bahtera yang berdinamika, tak kan mampu kutempuh tanpa Tuhanku yang Maha mencinta

Merangkai mimpi dalam sudut-sudut sabit yang memanjakan kita pada air mata haru dan bahagia, tak kan mampu kutempuh tanpa doa malaikat yang selalu menjaga

Menggenggam dunia dalam rangkaian pahala, tak kan mampu kuraih tanpa bersamamu, Ayabiku tercinta, Ikhsanun Kamil Pratama

Bandung, 13 Mei 2012
*tiba2 Yabi nyuruh bikin puisi tapi lisan, ini dbuat kurg dari 5menit, groginya itu lhooo... :D

Karena Cinta


Originally created by Fu

karena cinta serupa mozaik senja yang memendar warna pada kanvas sang Maha, maka biar ia menjelma darimu yang sederhana...

karena cintaselaik embun pagi yang membulir bening pada kasih sang Maha, maka biar ia menetes darimu yang bersahaja...

karena cinta adalah kamu, biar ia bersanding selalu di pelaminan hatiku, sebagai seorang Ikhsanun Kamil Pratama...

Bandung, 23 April 2012

Demi engkau, sebuah nama yang Tuhan jaga

Originally created by Fu

demi engkau, sebuah nama yang Tuhan jaga…
penantian bukanlah suatu hal yang menyesakkan, melainkan sewujud rindu yang memahkotakan senyuman…

demi engkau, sebuah nama yang Tuhan jaga…
kesabaran bukanlah menantimu untuk menyatakan cinta, melainkan menanti Tuhan meleburkan kau dan aku dalam cinta-Nya…

demi engkau, sebuah nama yang Tuhan jaga…
aku tetaplah utuh sebagai seorang munfarid, hanya hingga restu Tuhan tercipta untuk  berjamaah denganmu…

engkau, sebuah nama yang selama ini Tuhan jaga; yang kurangkai dalam  setiap memori yang terdistorsi selama ini, yang meluputkan sejenak ingatan pertemuan kita sebelum terlahir ke dunia...

engkau, sebuah nama yang selama ini Tuhan jaga, Ikhsanun Kamil Pratama.

"Jikalau Muhammad adalah buah kesabaran seorang Khadijah, jikalau Ali adalah buah kesabaran seorang Fathimah, maka tak bolehkah Ikhsanun Kamil Pratama adalah buah kesabaran seorang Foezi Citra Cuaca Elmart.”

this is blog of my husband: ikhsanun.blogspot.com

Kado Puisi dan Narasi Pernikahan Fu & Canun

Originally posted by Fu

Saya menyukai tulisan dan selalu menyukai puisi, prosa, rangkaian kata-kata yang terbentuk menjadi kalimat yang indah, puitis dan romantis. Hal itu pula yang membuat saya juga selalu sangat mengapresiasi sebuah kado ataupun penghargaan dalam bentuk tulisan. Inilah beberapa kado pernikahan yang saya minta buatkan dari teman-teman saya, yang lihai sekali dalam menerjemah dan merangkai sastra. Ada yang memberikan saya dan suami narasi pernikahan, ada pula yang memberikan saya dan suami puisi pernikahan. Meskipun saya juga senang mendapatkan kado-kado dalam bentuk barang, juga doa-doa yang tak ternilai, namun saya menempatkan kado-kado berupa tulisan ini sangat istimewa sekali di hati saya. Terima kasih untuk semuanya, insyaAllah kado ini akan hadir di buku saya selanjutnya, setelah buku "Menikah Itu Mudah". ^_^

Pertama, kado dari Bezie Galih Manggala, sebuah narasi pernikahan yang dibacakan setelah akad berlangsung
***
Narasi
: Cuaca, Kamil

Suatu esok, ada masa di mana setiap sentuh genggam meluruhkan dosa-dosa kita yang menyelaksa; menyepuh setiap bulir air mata yang menjama’ah doa; menggantinya dengan cinta, menyamudera.

Suatu esok, ada masa di mana setiap kerling matamu yang memanja meneduhi jiwa; menangkap binar cinta tanpa rentang lama; memuncakkan setiap bahagia, memesona.

Suatu esok, ada masa di mana pena kita menari menggoreskan tinta berdua; mengisahkan asma-asma memahadaya; merangkum madani akan semesta, mencahaya.

Suatu esok, di teriknya kilau mentari, gelitik rinai hujan, pendaran bias pelangi, hingga pejaman gulita; kaki-kaki kita tetap jenaka melangkahi bayang jejaknya, menuju taman surga, selamanya.

:demi suatu esok itu, bersabarlah cinta.

- Foezi Citra Cuaca Elmart. "Suatu Esok."

Membicarakan narasi, tentulah ia diawali rekam jejak-perkenalan; semacam serapan cahaya rembulan pada punggung malam yang pertama; yang menandai suatu pagi dimana semesta tidak akan pernah lagi menjadi sebagaimana, pengap seperti sebelumnya; tak lagi gelap terlelap, awam temaram; tak lagi selamanya senyap; hingga pagi akhirnya pun datang, menerbitkan terang yang sesekali benderang, meski terkadang masih tampak remang.

Bagi Fu dan Canun, mungkin pagi pada narasi mereka, lahir pada suatu hari itu; pada sebuah ruang dimana ilmu beredar mencipta benang-benang takdir, sebuah seminar dan training, yang tanpa disadari menghubungkan kedua mempelai kita hari ini. Takdir yang selalu berbisik pelan-pelan, perlahan menautkan, memperkenalkan; berawal dari sebuah pertemuan sederhana; yang berlanjut pada bincang-bincang tanpa rencana; tanpa disengaja membuka tabir tentang kesamaan visi dan cita-cita.

Entahlah, malaikat manapun tak pernah menyangka; dua insan yang berbeda sifat dan rupa; telah secara rahasia dipertautkan oleh yang maha Berencana.

Sang Ksatria, Ikhsanun Kamil Pratama, adalah sesosok pemuda yang menyembunyikan potensi luar biasa; meski dirinya memiliki ide-ide yang, dalam bahasa anak muda hari ini, "ide-ide gila"; tidak biasanya ia berbicara, apalagi membaginya kepada orang yang baru saja dikenalnya.

Tapi bidadari ini berbeda, mungkin begitu adanya; nyatanya impian-impian yang membuat 'canun' luar biasa, terlantun begitu saja; menyapa lembut pendengaran Fu, Foezi Citra Cuaca Elmart lengkapnya, dan terasa sebagaimana mimpi yang selama ini pula terpendam dalam benak terdalamnya.

Ya, ternyata keduanya memiliki kesamaan; sama-sama merasakan bahwa, mengabdi kepadaNya berarti menjaga dari hal-hal yang tak diridhai; yang juga berarti menjaga diri, dan menikah muda!

Adalah mimpi, yang perlahan tumbuh menjadi, pondasi-pondasi niat dalam hati; pada sepasang muda-mudi, yang telah lama mencari, makna dari terciptanya diri.

Adalah mimpi, yang terucap sebagai janji, bahwa hidup ini bukanlah sekedar untuk dinikmati; hidup berarti mengabdi, kepada Tuhannya semesta dan diri.

Hingga tak lama akhirnya, Fu dan Canun memutuskan untuk menautkan dua mimpi yang saling menopang, bergenggaman; melangkah bersama berdua menantang, bersamaan. Tak mau berlama-lama menjaga rasa yang tak semestinya, mereka akhirnya sama-sama berani berkata; "halalkan saja!"

Meski barang tentu, sebagaimana seharusnya; mimpi tak bisa seenaknya saja meracau, menabrak-nabrak kenyataan yang ada; mana bayarannya? Ada perjuangan yang harus ditempuh. Berbulan-bulan do'a dan air mata, yang tak lepas dari cibiran dan prasangka yang tak sedap menderap telinga, menyesaki hati dengan luka-luka yang tak kasat mata.
Ada pula coba dan dera; masalah yang tak diduga-duga; tidaklah mudah meninggikannya, sebuah menara cahaya ditengah terpaan arus dan samudera.

Namun keduanya tegar, berjuang agar pesan mereka tersebar; bahwa niat mereka paripurna, bahwa langkah yang mereka ambil matang dan dewasa; bahwa keputusan ini adalah tentangNya! Tentang Dia yang mencipta dengan cinta. Tentang narasi cintaNya!

Hingga akhirnya semesta tunduk, atas titahNya.
Narasi ini tak sempurna; ya, tak seperti kisah mereka yang begitu lengkap dan bahagia. Perlu lebih dari ribuan malam membicarakan langkah-langkah juang mereka berdua; semesta turut berbicara, ribuan kekata; tapi cukuplah hari ini kita sama-sama berdo'a; "Barakallahu lakuma, wa baraka alaikuma, wa jama'a bainakuma, bikhair."

- Bandung, 5 April 2012.
Dibacakan di Majalengka, 6 April 2012


Kedua, puisi dari Teh Henny Hasan dan Teh Hesty Wahyuningsih, dua sahabat maya saya yang sangat saya sayang karena Allah...
***
Kata-kata menyempurnakan dirinya menjadi kalimat
: puisi cinta.

Pada kesederhanaan hati semua bermula. Sebuah ruang yang akhirnya memiliki penghuninya sendiri.

Selamat pagi, pengantin.
Ada embun dan ranting-ranting basah yg turut mendoakan, semoga keberkahan melimpah di setiap langkah. Dari hari ketika kalian memilih jalan sama yg searah, hingga kalian tak lagi mengenali apakah waktu masih menyertai dunia ataukah musnah.

Selamat siang, pengantin.
Semoga kalian tak lekas lelah ketika terik memenuhi hari. Kami berharap, kisah yg kalian tuliskan adalah tentang sepasang sayap yg tetap gagah mengepak.

Selamat malam, pengantin.
Datangnya gelap akan menutupi benda dari pandangan mata. Begitu pun dengan kalian, akan menjadi penjaga rahasia satu sama lain.

Selamat bagi kalian, pengantin.
Selamat menikmati cinta.
Semoga kelak lahir kebaikan-kebaikan dari keduanya dan bahagia selamanya.

***

Ketiga, dari sahabat saya, seorang dokter muda lulusan UGM, yang anomali dan penyuka sastra dan puisi, Aditya Putra Priyahita
***

barisan puisi tertunduk takzim pagi ini
menyambut hangat mentari selepas deras malam tadi
merasakan gemulai embun merengkuh daun-daun
teriring kicauan langit buncahkan rasa lama terpingit
dan kuncup asa bermekaran jadi bunga


pagi ini adalah mitsaqan ghaliza
tempat dua anak manusia berikrar setia
bukan pada cinta, hanya Pencipta saja
satu kayuh berdua satu layar bersama
bukan untuk dunia, tapi menuju ridha-Nya


hari ini sebuah janji menjelma prasasti
dan mimpi sedari dini telah disulap hakiki
lunas jua berjuta doa berbumbu air mata
yang dieja cakrawala setiap langit beranjak senja


maka pada haru yang menderu
tak henti dzikir mengalun merdu
maka untuk tangis manis tak lagi mengiris
cinta untuk-Nya tak kan berkurang walau seiris
maka dari syukur pengantar simpuh terpekur
ketaatan berdua kian nian bertambah subur
karena bahagia tak bisa dikata seribu bunga
maka biar lelah dalam dakwah yang melukiskannya


pagi ini sebuah tulang rusuk kembali ke tempatnya
lalu aku dan kamu dibelai cinta menjadi kita
maka bertamhid seluruh penjuru dunia
karena langkah perjuangan kan meraksasa
dan bersama kita hela tiap detik wangi surga

selamat berjuang tuan dan nyonya...
Pacitan, 8 April 2012

***

Terima kasih untuk semuanya, yang telah mengirimi kami dengan doa tulusnya. semoga Allah yang Maha Segala membalas yang terbaik untuk semuanya. semoga kami juga tetap istiqamah di jalan sunnah para Nabi ini. Membangun peradaban, beralih dari munfarid menjadi berjamaah. Amin...
Mohon doanya juga ada beberapa buku yang sebentar lagi terbit, juga beberapa yang sedang kami garap bersama lagi. InsyaAllah target 10 buku dari kami berdua terbit tahun ini. :)

Menantimu, cinta!

Originally created by Fu

Rintik-rintik manja, berderma setiap sore; mengisahkan tentang kau dan aku yang merindu dalam rentang kota, menyelaksa...

Rintik-rintik manja, berbincang setiap petang; menghangatkan mimpi kau dan aku yang semakin hari kian buncah, menumpah...

Rintik-rintik manja, menjejak langkah; hantarkan bisik tak beraksara, bahwa aku masih di sini, menantimu, cinta.

Bandung, Februari 2012

Dalam dua purnama

Originally created by Fu

: untukmu, semesta

Dalam dua purnama dan sabit yang bergantian aku memandangimu seksama, dengan pendar cahaya yang mengamini tentangmu pada setiap doa. menangkap nebula-nebula cinta yang membadai mesra, berkelebat dalam asma-Nya, mengangkasa.

Dalam dua purnama dan sabit yang bergantian aku mendengarkanmu teliti, dengan sajak-sajak aksi yang kau rapal tanpa sepatah aksara yang membentuk puisi. menghembuskan elektron-elektron cinta yang mengelilingi inti hati, bergumul setia pada-Nya dalam janji, beretiolasi.

Dalam dua purnama dan sabit yang bergantian aku mengeja senyum dan peluhmu perlahan, dengan embun-embun yang membulirkan kita dalam semai impian. menjelagakan tirai-tirai cinta yang membersamai hujan, berderma keagungan Tuhan, kesempurnaan.

Dalam dua purnama dan sabit yang bergantian kita berdua menunggu, hingga saat itu; ketika purnama tenggelam dan sabit pun terdiam, ketika luas jiwamu menyemestai galaksiku, ketika dua pucuk rindu berbunga satu.

setelah dua purnama dan sabit yang bergantian saat itu kan datang; ketika para malaikat bertandang dan Arsy pun berguncang.

Majalengka, 24 Januari 2012

Jikalau Cinta

Jikalau cinta adalah jarum-jarum cahaya yang membelai benang-benang udara, maka kamu adalah mentarinya; yang tak kan lelah menyulamkan jarum dan benang itu di hatiku.

Jikalau cinta adalah rintik-rintik senja yang menjejakkan tarian kupu-kupu, maka kamu adalah hujannya; yang tak kan jengah mendermakan kisah yang memetamorfosa jiwaku.

Jikalau cinta adalah bias-bias merona yang memadu sempurna keagungan Tuhan, maka kamu adalah pelanginya; yang tak kan menyudah melengkung indah dalam naluriku.

Jikalau cinta adalah surga, biarkan Tuhan menjadikanku bidadarimu.

Bandung, 18 Januari 2012

Bersabarlah, cinta!

Originally created by Fu

suatu esok, ada masa di mana setiap sentuh genggam meluruhkan dosa-dosa kita yang menyelaksa; menyepuh setiap bulir air mata yang menjama'ah doa; menggantinya dengan cinta, menyamudera.

suatu esok, ada masa di mana setiap kerling matamu yang memanja meneduhi jiwa; menangkap binar cinta tanpa rentang lama; memuncakkan setiap bahagia, memesona.

suatu esok, ada masa di mana pena kita menari menggoreskan tinta berdua; mengisahkan asma-asma yang memahadaya; merangkum madani akan semesta, mencahaya.

suatu esok, di teriknya kilau mentari, gelitik rinai hujan, pendaran bias pelangi, hingga pejaman gulita; kaki-kaki kita tetap jenaka melangkahi bayang jejaknya, menuju taman surga, selamanya.

: demi suatu esok itu, bersabarlah cinta.

Bandung, 09012012

Duhai Engkau

untukmu;

Duhai engkau kuas bahagia, pemilik lembar-lembar cahaya; yang tak kan pernah jemu menulis makna hidup, yang lah meletup; membersamaiku dengan sabar mengeja, belajar pada lembar cahayamu yang tak sirna.

Duhai engkau kanvas ceria, pemilik senyuman manis menjelaga; yang tak lelah menjemput keindahan pagi, oleh sebaik prasangka dalam hati; menciumiku dengan doa-doa, mengasap di relung jiwa.

Duhai engkau lukisan cinta, pemilik rindu yang merahasia; yang tak segan memeluk hujan dengan senyuman, mengunci air muka kesedihan; membelaiku dengan cinta, meski jarak entah seberapa.

Duhai engkau bidadari tercantik di dunia, pemilik harum dan nikmat surga; yang mensyukuriku melalui maaf-maaf tak menyudah, atas khilaf dan dosaku yang mengejawantah; mencandai pintu dan jendela, hanya tuk melihat aku bahagia.

Duhai engkau ibu; pemilik tangan Tuhan dalam restu,

: "jangan pernah jemu, memenjarakanku dalam cinta dan doamu selalu."

Bandung, 22 Desember 2011
*smsin ini ke mama pagi2, tapi baru posting ^_^

didekasikan untuk semua ibu dan calon ibu

Apabila Rindu

Originally created by Fu
: untuk,

Apabila rindu adalah kisi dunia saat menanti berjejak rahmat dalam semburat islam; perbolehkan aku memfitrahkanmu dalam fiqih-fiqih yang bernyala; menggegas ibadah sepenuh khusyu', hingga saat itu; nikmat jama'aah terdiksi denganmu.

Apabila rindu adalah genggam hati yang merahasia rahman pada selaksa iman; biarkanlah aku menyulammu dalam tauhid yang mencahaya; menyeketsa aqidah sebenar pasrah, hingga nanti; kaffahnya senyum terwujud untukmu.

Apabila rindu adalah pelukan umat yang mengkhalifahi qalbu untuk jelmaan ihsan; izinkanlah aku menyetia dalam tasawuf yang berpendar, hingga kelak; rendaan akhlak tersempurna bersamamu.

karena kamu mencipta rindu; menelisik dalam larik-larik tersembunyi yang membuat malaikat tersenyum mengamini.

dan kamu tetap menyulam rindu; menyabarlah kita atas yakin seindah islam, semurni iman, sesempurna ihsan menjemput sejati Rindu.

: maka kamu adalah rindu, hingga terkabul ikrarmu pada Tuhanku.
Majalengka, 16 Desember 2011

*terinspirasi materi pangejian kemarin, tentang islam, iman dan ihsan :)

Selasa, 09 Agustus 2011

Di atas permadani ini

Originally created by Fu

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku menebarkannya. Butir-butir pasir yang kita ambil di suatu pantai tanpa cerita, dalam senja yang selalu kau rindu untuk direguk jingganya. Berharap satu persatu menemukan kisahnya, mengganti keterhempasan dengan bahagia yang diramu Tuhan. Kau yang selalu mengingatkanku bahwa senyum bukan hanya sewujud simbol simestris sungging di bibir, melainkan wakil dari perbincangan hati yang liris. Tersenyumlah, katamu. Meski tak beralasan, ia kan menghantarkanmu pada kebaikan. Meski tak berbalas, ia tercatat Tuhan sebagai pahala yang menderas. Dan pasir putih itu jua memahamkanku akan kekerdilan, yang tak pun menjadikannya hina tanpa kerelaan.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku memandanginya. Lekuk-lekuk bumi yang telah tergurat, yang kita bedakan dalam beberapa warna pada kanvas tak beralas. Aku yang membuatkannya sajak dan prosa, sementara kau melukisnya dengan polesan tinta yang menjadikannya beraneka. Berpadu kita pada ayat yang mengindahkan bumi tak hingga. Tentang padi yang merunduk bumi, ilalang yang menantang alam, beringin yang menyetia usia, jua kaktus yang menyabar gurun. Kau yang memahamkanku akan kesempurnaan, ia yang mesti dipandangi dari tuas Tuhan. Seperti bumi yang tak pernah iri pada langit yang dihormati dengan tengadah, sementara ia dihargai dengan seberapa mahal injakan tanah.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku merangkainya. Rasi-rasi bintang yang selalu menarik hati kita bertautan saling sapa, dalam keindahan rembulan yang utuh pada purnamanya dan meruncing pada sabitnya. Menunggu pola-pola yang kuat kita rajut menghias langit dalam poros, meski tak kan seindah yang telah Tuhan ukir jauh hari. Kau yang selalu merindukanku dalam celoteh malam yang mendetik lekas. Tentang galaksi kita yang terasing dengan mentari menyingsing, tentang perdebatan kita dalam kotak kecil tanpa cahaya yang merahasia. Tuhan tidak hanya di Arasy-Nya, katamu. Dia melampaui ketidakterjangkauan rasional akal kita. Dalam air matamu, sayatan lukamu, bahkan melebihi itu, Dia bersemayam di kalbumu. Dan rasi bintang itu mematriku akan kemanfaatan, yang tak pun menjadikannya sia-sia meski hanya setitik cahaya.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku menenunnya. Buntalan awan  yang sekilas rapuh, namun memadati doa-doa kita dalam peluh. Membiarkannya tergiring angin, sebelum berhenti dan menemukan tempat berlabuhnya untuk menumpah. Jangan membenci hujan, pesanmu. Karena ia yang menumbuh suburkan benih cintamu, sebab ia yang menghidupi impianmu. Akan indahnya pelangi, yang membukti bahwa Tuhan memang tidak tidur sama sekali. Kau yang memahamkanku bahwa kemarau, mentari, hujan dan pelangi tak kan mengubah gairah pagimu, seperti Tuhan yang tak pernah bosan memelihara awan-awan di hatimu.

Masihkah kita bergumul pada pertengkaran kita yang menelusuri semesta dengan jalan berbeda? Ketika permadani kita tak sama, rajutannya yang tak serupa, atau juga panjangnya yang berbeda. Sementara yang kupahami bahwa tinggi rendah kemampuannya mengangkasa, bergantung pada keyakinan hatimu mengendarainya.

Haruskah kita memberhentikan permadani kita yang masih menikmati hembusan udara? Di saat langit kita masih berdiri tegak, samudera masing menoleransi ombak, gunung-gunung masih berdamai, jua pepohonan masih membenih dalam semai. Haruskah kau dan aku hanya berjalan tanpa jelasnya tujuan, sementara di hadapan menanti tangis yang sebenar pecah dan membuncah.

"Idzaa waqo'atil waaqi'ah."

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian. Surga tak kan mampu kumasuki tanpamu dan Ridha Tuhan.

Bandung, 9 Ramadhan 1432 H

*Tak akan ada yang bisa menghentikanku menulis, baik itu sakit hati sekalipun. And, he always inspiring me... :)

Sabtu, 06 Agustus 2011

Anyaman

Originally created by Fu

Sudah aku lakukan berulang-ulang namun tak pernah berhasil jua. Mencoba memutus simpul yang semakin hari begitu erat kau ikat. Aku meragu, tak pernah tahu tiang mana yang akan menjadi pengait tali yang telah terlampau panjang dirangkai. Tali yang sama sekali tak pernah kita mengerti, namun baunya seperti telah sama-sama kita kenal; dari sebuah masa yang sepertinya pernah kita lalui bersama.  Harumnya saling mewangi, busuknya saling menutupi.

Sudah aku buraikan berkali-kali namun selalu tersusun lagi. Menghabiskan seluruh air muka yang selalu kita renungkan bersama. Tak jua menepikan tanya karena selalu mengakhir dengan senyuman manis, yang begitu mudahnya kau terbitkan di bibirku.

“Bersabarlah, aku menganyammu di sini!”

Kemudian aku, hanya bisa terdiam kembali.

Bandung, 6 Agustus 2011

*di saat menyerah bukanlah sebuah penyelesaian...

Senin, 01 Agustus 2011

Peluh

Originally created by Fu

Puisi untukmu (lagi!)

untukmu yang istimewa, yang selalu saja menunjukkan rindumu pada puisi yang kurangkai. biar aku tuturkan tentang bulir yang menerobos porimu, yang selalu kau keluh pada setiap lelahmu.


tetes demi tetes bulir itu jatuh, mengguyur tubuh
mengubah perkasamu, lemah tak berdaya
senyum yang menggamit, memudar perlahan
oleh ungkap yang menggema :
“Tuhan, aku lelah!”

yang fana itu dunia, sayang
dimana kau harus terus berlari
menjemput mulia tanpa spasi
sampai napasmu berhenti
lalu kau mati

tanya demi tanya itu menggumul, membentuk simpul
mengubah mahirmu, pasrah tak kuasa
kilau mata yang memahat, redup perlahan
oleh ungkap yang menggema :
“Tuhan, aku jengah!”

yang abadi itu akhirat, sayang
dimana kau hanya menanti
segala tebusan diri
terpilih kanan atau kiri

sayang, bulir itu memang asin rasanya
perubahannya kelak tergantung dirimu
manisnya di surga oleh sabarmu
pahitnya di neraka oleh hujatmu
dan kau tinggal memilih itu

sayang,
masih tak relakah kau menukar keringat
dengan senyum Tuhanmu yang memekat
?


Majalengka,
1 Agustus 2011 / 1 Ramadhan 1432 H


*sebagai pengingat untuk diri juga, yang tak pernah lepas dari keluh kesah. ^^,

Selasa, 19 Juli 2011

Semenjak

Originally created by Fu

semenjak kata membingkai sajak dalam rindu yang memekat hati bersenandung kejujuran yang memikat, hingga beresonansi pada kesyukuran Illahi yang memahat segala tanpa alasan tersangkal. semenjak pandang bersitatap dalam tunduk yang mengulum senyum berharmoni air muka yang meranum merah, hingga bermelodi pada lantunan Illahi yang membenih segala tanpa buruk prasangka. semenjak mimpi mengudara, menggasing dalam setiap laju cahaya.

semenjak itu pula ketetapan atas kita. bersua untuk saling berbagi, merangkai diorama dalam sketsa yang tak kunjung pernah usai, melantun puji dalam harap yang menumpah air mata, hingga berpisah untuk saling memaknai. semenjak Tuhan menghimpun dalam cinta-Nya, meminta hati untuk menjanji. semenjak kita memalu pasi, lantas tak bertanya lagi.

Bandung, 19 Juli 2011

*puisi ini untuknya, yang selalu mencari kebaikan sempurna...

Senin, 18 Juli 2011

Rahasia

Originally created by Fu

ada yang melekat di memoriku, yang tak jua hendak lepas dalam benak yang mulai menipis. tentang kita yang akhir-akhir ini meramu malam bersama. tentangmu yang selalu mengejaku pada setiap bintang yang kau hitung mesra, bukan satu dua tiga juga atau nyala dan redupnya, melainkan setiap sabarnya yang berpendar, setiap ikhlasnya yang menyebentar, serta senyumnya yang menyinar. tentangmu yang selalu merangkaiku pada setiap rembulan yang membulat indahnya, tak hanya ia yang merela terbelah pada suatu zaman yang hanya dapat kita runut dalam sejarah, tak hanya ia yang mengindah pada setiap aksara yang menjelma puisi dalam malam yang menggema, tak hanya ia melainkan kita.

ada yang menggetar di relungku, yang tak jua melamban detakannya pada puncak dan lembah yang perlahan terhapus. tergerus keyakinan pada harap yang tak pernah putus. tentang kita yang baru saja mencoba menghimpun segala di masa lalu yang sepertinya pernah kita sapa. tentangku yang selalu saja merecoki telingamu dengan igauan tak berkesudahan, “dari apa takdir itu dibuat?”. sedangkan aku tak pernah paham akanmu yang menganggap jalan takdir seperti mesin penghitung, yang telah terinci hasil dan angka, hanya menunggu tangan-tangan tak terlihat menekannya, tak hanya kita melainkan Ia.

ada yang menggasing di hatiku, yang tak jua beranjak memutar porosnya yang mulai hilang kendalinya. tentang kita yang merapal wujud syukur dalam rahasia. rahasia yang tengah Tuhan simpan. sementara kita kembali memaknai semua rahasia dalam kesamaran, yang satu per satu berkesudahan mewujud jawaban.

perlukah kuberitahu salah satu rahasia itu?
ia itu kehadiran senyummu.

Bandung, Juli 2011
_Fu_

Minggu, 10 Juli 2011

Tentang Hitam

Puisi untukmu (lagi!)

Originally created by Fu

untukmu yang istimewa, yang selalu saja menunjukkan rindumu pada puisi yang kurangkai. biar aku tuturkan tentang semburat yang tak mengindah warna, yang kau analogikan sebagai wujud rupamu.

adakah kau tahu tentang gelapnya langit di malam hari, ia yang legam dan telah menyembunyikan mentari. agar kau tahu tentang cerianya di kala luka, atas cemooh alam yang jarang merindukannya. ia rela akan gemintang yang merajut indahnya, pun pada rembulan yang memendar cumbunya. malam yang hitam. menganyam rindu dalam diam, mengenang kasih dalam bayang, merenda cinta dalam rahasia. ia yang hitam, mensyukuri cinta Tuhan dengan memaknai ketaatan.

adakah kau tahu tentang pendaran warna tersebut pelangi, ia yang banyak terangkai dalam bait puisi. agar kau tahu bahwa indahnya tak kan ada tanpa hitam yang membias, menerima uluran putih yang rela menggegas. ia tak kecewa kala perannya tak pernah disebut-sebut pada celotehan ringan, ilmu alam, jua metamorfosa warna. pendaran hitam. menitipkan rindu akan pesonanya yang sendu, mengirimkan kasih akan dzikirnya yang lirih, menghantarkan cinta akan nikmatnya cahaya. ia yang hitam, mensyukuri cinta Tuhan dengan memaknai kebersahajaan.

adakah kau tahu tentang borgol keburukan detik-detik pilu, ia yang menggamit duka dan kenang yang tersebut masa lalu. agar kau tahu pada keberanian hitam yang bertanggungjawab, merangkum ikhlas pada sebentuk takdir yang menjerembab. ia yang memahamkan akan adanya kebaikan, kekuatan, dan keniscayaan yang tersembunyi, tak melulu persoalan buruk, lemah, dan penyesalan tanpa henti. detik hitam. mengeja rindu atas sesal tak terulang, mengungkap kasih atas sia-sia yang membayang, menutur cinta atas harap yang menyilang. ia yang hitam, mensyukuri cinta Tuhan dengan memaknai kesadaran.

tak juakah kau pahami tentang hitam yang mewarna kebaikan Tuhan? tentangnya yang pun menyimpan keterpesonaan. tentangnya yang pun salah satu anugerah Tuhan. tentangnya yang pun tercipta untuk menebar kebermanfaatan.

kemudian tak juakah kau mengerti akan keterpesonaanku padamu?
karena hitammu memenjarakanku pada cinta Tuhan yang tak berkesudahan.

Bandung, 10 Juli 2011

*Teruntuuuukk... ^_^

Jumat, 08 Juli 2011

Tak Seperti

Originally created by fu

tak seperti dalam buku, yang selalu membutuhkan pengantar di setiap pengawalannya. tak seperti pada kacamata, yang selalu membutuhkan lensa dan bingkai secara bersama. tak seperti dalam media digital, yang  selalu membutuhkan nol dan satu untuk hidup dan matinya.

maka seperti itu pula hatiku memandang kejujuranmu, tanpa perlu banyak alasan akan dirimu yang lalu. biarlah Tuhan himpun segalanya tanpa sisa, agar tak meradang hati kita yang luka.

dan seperti itu pula rinduku memeluk kerinduanmu, tanpa perlu banyak perbandingan seberapa kau dan aku. biarlah Tuhan tautkan keduanya, seperti galaksi yang ternaung semesta.

kemudian lalu?
cukup Tuhan kita yang tahu

Bandung, 8 Juli 2011

Jumat, 01 Juli 2011

Aku Ingin

Originally created by Fu

aku ingin yang mempesona, tapi aku buruk rupa
aku ingin bangsawan, tapi aku gelandangan
aku ingin yang pintar, tapi aku bukanlah pakar
aku ingin yang baik, tapi aku sendiri munafik
aku ingin pujangga, tapi aku miskin kata

aku ingin begini, bunda kata pahamilah cinta
aku ingin begitu, ayah kata aku harus berkaca

sementara Tuhan kata, cerminku sudahlah ada

Majalengka, 28 Juni 2011

*Puisi ini saya buat karena saya merasa tidak punya apa-apa dan bukan sesiapa....