Kamis, 19 Juni 2014
Seorang Pria Yang Di Sana
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 00.50 0 komentar
Selasa, 16 Oktober 2012
Menikahlah Bukan Karena Masa Lalu
Banyak orang yang bertanya pada saya, kenapa saya bersedia menikah dengan seorang Ikhsanun Kamil Pratama. Katanya, kenapa saya yang tidak pernah pacaran sama sekali mau menikah dengan orang yang pernah pacaran berkali-kali seperti dia. Katanya, mengecewakan sekali saya yang bisa menjaga diri dari hal yang Allah larang itu, namun mau menikah dengan orang yang justru pernah melakukan hal tersebut. Katanya inilah, itulah. Mereka bertanya kenapa rasanya tidak sekufu atau apalah pandangannya.
Saya hanya tersenyum menanggapinya, kemudian hanya akan berkomentar bahwa saya tak pernah merasa salah menikah dengannya, menikah dengan lelaki paling baik yang pernah saya temui. Rasanya sombong sekali bila menyesalinya, karena hal ini sudah menjadi takdir dan kehendak Allah SWT.
Bagi saya, masa lalu setiap orang tak pernah menjadi patokan yang utama. Setiap orang berhak untuk memiliki masa lalu yang buruk, namun setiap orang juga berhak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Setiap orang berhak memiliki masa kini yang lebih baik dan masa depan yang lebih baik lagi, dibanding masa lalunya, karena memang itu adalah suatu keharusan.
Dari dulu saya paling tidak suka “judgemental” pada orang, apalagi bila saya belum mengenalnya. Maka meskipun dari dulu prinsip saya tidak mau pacaran, saya tidak mau untuk merendahkan orang-orang yang memang berprinsip seperti itu. Bahkan saya dekat dengan mereka, banyak teman saya yang pacaran namun justru sering curhat sama saya perihal hubungan mereka. Lucu memang, orang yang tidak pernah pacaran sama sekali sering jadi tempat konsultasi banyak orang perihal seperti itu. Bagi saya, hanya ada satu Dzat yang berhak menghakimi apakah seseorang shaleh/shalehah, apakah dia lebih baik atau tidak satu sama lain, yaitu Allah SWT. Saya tidak boleh merasa diri saya lebih baik dari orang lain sedikitpun, padahal boleh jadi dosa-dosa saya jauh lebih besar dibanding mereka yang dianggap tidak shaleh/shaleha.
Rasanya predikat shaleh/shaleha yang dicap manusia itu justru menjadikan suatu beban, karena toh predikat itu sebenarnya didapat saat kelak di akhirat, saat kita bisa bertemu dengan Tuhan dan Rasul kita. So, jangan salahkan orang yang pacaran bila kita sendiri hanya berdiam diri, jangan merasa lebih baik dari mereka, karena boleh jadi amalan wajib dan sunnah kita tak pernah lebih baik dari mereka. Boleh jadi kita memiliki banyak lumbung dosa yang lain dibanding mereka. Teman seperti itu perlu dirangkul, bukan untuk dihakimi, karena boleh jadi mereka masih melakukan hal tersebut karena mereka tak tahu, ya karena mereka tak tahu, dan tugas kita sebagai orang terdekat yang mengingatkan.
Menikah itu bukan mempermasalahkan seberapa buruk masa lalu seseorang, namun seberapa banyak ia belajar dari masa lalunya, mengambil hikmah dari masa lalunya, yang menjadikan pribadi masa kini yang lebih baik. Menikah itu masalah seberapa kuat dan yakin seseorang untuk mengukir masa depan yang lebih baik, bersama pasangan yang Tuhan takdirkan untuknya.
Dulu sebelum menikah, suami saya seringkali merasa ia tak pantas dengan saya, katanya : “Kalau dosa beraroma, maka kau tak akan mau menikah denganku.” Kemudian saya juga jawab : “Dan kalau memang dosa beraroma, maka kamu pun lebih tak mau menikah denganku.” Saat itu ia kemudian menitikkan air matanya. No! saya tidak mau merasa bahwa diri saya begitu suci dengan tidak pernah pacaran, bahwa saya harus menikah dengan orang yang tidak pacaran juga. Sungguh terlalu dangkal apabila pemahaman keadilan manusia yang jadi patokan, karena terkadang keadilan Tuhan itu bahkan tak bisa dicapai nalar manusia, bahkan keadilan Tuhan seringkali dianggap suatu ketidakadilan bagi manusia. Nah, boleh jadi mungkin suami saya memiliki dosanya yang pernah pacaran, namun itu telah terhapus dengan segala amalan baiknya, taubat nasuha yang ia lakukan. Boleh jadi juga, meskipun tak pacaran namun dosa saya berlumur dari ranah-ranah lain, yang terkesan tak terlihat, karena hanya diri saya sendiri dan Allah yang mengetahuinya.
Ah, saya hanya terlihat begitu baik karena Allah yang telah menutupi aib-aib saya. Allah yang Maha Baik yang masih menjaga kehormatan dan harga diri saya di depan orang lain. Bila Allah berkenan, sangat mudah baginya untuk membongkar seluruh aib dan dosa saya selama ini. Saya menikah dengan seorang Ikhsanun Kamil Pratama, karena Allah yang memantaskan kami untuk saling menjadi cermin, saling melengkapi untuk memperbaiki diri. Maka, untukmu yang akan menyempurnakan separuh agama, menikahlah bukan karena masa lalu yang jadi patokan utama, namun menikahlah dengan ia yang mampu mengambil hikmah untuk memantaskan diri di hadapan-Nya, menjadi pribadi yang lebih baik, di saat ini dan seterusnya. Menikahlah dengan ia yang mau bergerak bersama menuju perbaikan tanpa henti, hanya demi ridha Illahi rabbi.
Menikahlah bukan karena masa lalu, namun menikahlah karena Allah sang pemilik masa :)
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 09.35 5 komentar
Label: Allah, Ce-I-eN-Te-A, Curhat, Saya serius
Senin, 08 Oktober 2012
A Letter for My Husband, Ayabi :)
Assalamu’alaikum wr wb
Apa kabar Yabi? Tak apa kan bila kutanya kabarmu, sayang? Meski baru dalam hitungan detik, menit dan jam yang belumlah seberapa raga kita tak bersapa. Namun rinduku padamu tak kan pernah sirna; ia siap mengejawantah di hatiku, meski baru kau tinggal dalam hitungan detik saja. Tak kuhantar cinta untukmu, karena ia senantiasa mengalir tanpa henti dari hatiku, tanpa harus diperintah sama sekali. Tak lah apa, bila ia tak sebanding dengan cinta-Nya, yang bahkan setetes saja berwujud nikmat tak hingga, melebihi nikmat kautsar yang belum kita rasa. Tak lah apa, kan sayang? Karena cinta bagiku telah menjelma menjadi semua tentangmu, dalam pendaran cahaya-cahaya yang bertahta di hatiku, karena-Nya, Tuhan kita yang menyeluruh Maha.
Entah mengapa ini menjadi surat tersulit yang pernah kutulis, tak seperti sebelumnya saat aku belum mengetahui siapa keberadaanmu sebenarnya, kata-kata mengalir begitu saja, berbeda dengan sekarang, sayang; karena bahkan aku tak mampu mengatur rima jentik jemari sembari menghapus tetes air mataku yang turut mengiringi. Betapa rangkai aksara tak mampu menampung bertumpah cinta yang mengalir untukmu.
Yabi tersayang, hari ini tepat 6 bulan dari peristiwa dimana kau telah berikrar pada Tuhan kita, bertutur pada semesta hingga mengguncang Arsy-Nya, bahwa kau menjadikanku bidadari bumi yang akan menemanimu; menetapkan atas titah sang Maha bahwa aku adalah pasangan yang memang tertakdir untukmu. Segala puji bagi-Nya, Allah yang Maha suci telah mempermudah proses yang selama ini kita jalani, dalam kesabaran yang seringkali membuat kita melelah keringat dengan haru yang mendalam, dalam ketaatan yang meliputi yakin bahwa Tuhan akan mempersatukan hati kita tepat pada waktunya. Masih terekam hangat dalam memoriku, saat kemarin itu, di mana pertama kalinya kening ini dikecup, oleh seorang pria yang memiliki senyum tersumringah di hari itu, yaitu dirimu.
Mungkin terasa janggal saat orang-orang mengira usia pernikahan kita masihlah ranum, sementara kita berdua sepakat bahwa hitungan 1 bulan seperti 1 tahun rasanya, hitungan 2 bulan seperti 2 tahun rasanya, dan pada bulan ini di hitungan 6 bulan, terasa sudah 6 tahun aku menjadi seorang isteri dari suami terbaik sedunia. Iya Yabi, rasanya tak berlebihan aku berkata begitu, karena memang itulah yang aku rasakan.
Rasanya air mata papa yang menetes saat harus melepas anak perempuan pertamanya tak pernah sia-sia, karena ia telah menitipkanku pada pria yang paling tepat. Tak pernah aku temukan sebelumnya sosok pria yang begitu sabar menghadapi aku, mendengar setiap keluhku, bahkan tak pernah sekalipun kau membentak untuk memarahiku. Tak pernah aku temukan sebelumnya sosok pria yang begitu lembut memperlakukan istrinya, penuh cinta; bahkan itu terlihat hanya dari binar matanya, dari lembut tatapanmu yang merona.
Membayangkan untuk mendapat suami dengan sosok sempurna sepertimu saja aku tak pernah, Yabi; dengan segala kekuranganku yang kau tahu tak mampu dihitung satu persatu. Aku hanya ingat bahwa aku selalu berdoa: “Ya Allah, berilah hamba sosok suami yang bisa membimbing hamba untuk semakin mencintai-Mu.” Kemudian Allah memberiku dirimu, yang sangat melebihi ekspektasiku. Perkenalan kita yang memang tak lah lama menguatkan prinsip kita bersama, bahwa pernikahan merupakan awal dari perkenalan sebenarnya.
Semakin mengenalmu hari-hari ini semakin berwarna ceria, rasanya dunia begitu lebih indah; melalui cerita-ceritamu tentang ilmu sains Sang Maha, melalui buku-buku yang kau rekomendasikan untuk kubaca, melalui kemanjaanmu yang selalu saja membuatku gemas dibuatnya, juga melalui air mata kita yang tumpah bersama selepas kejatuhan sujud kita.
Senja semakin memesona saat setiap sore kita syukuri tak hanya berdua, melainkan bersama calon buah hati kita; yang selalu kau kecup melalui perutku, yang selalu kau ajak berbincang dan tertawa, yang begitu kau khawatirkan keberadaan pertumbuhan dan perkembangannya. Ah, yabi, di usiamu yang masih begitu muda, kau telah menjelma sosok pria yang sempurna; suami yang memperoleh cinta utuh dari isterinya, dan (calon) ayah yang menghantari cinta menyeluruh pada anaknya.
Kata-kata tak cukup mendeskripsikan tentang kita, namun biarlah aku mencoba menyulamnya sedikit saja, agar sejarah setidaknya tahu bahwa pernah ada sulaman cinta yang ikatan benangnya begitu erat, antara seorang aku dengan dirimu, my lovely husband.
6 bulan berlalu rasanya sudah 6 tahun bersamamu, Ayabi.
_Bundami
6Okt'12

Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 22.24 1 komentar
Label: Ce-I-eN-Te-A, Romantis, Saya serius, Surat-surat yang kutululis
Kado Puisi dan Narasi Pernikahan Fu & Canun
Saya menyukai tulisan dan selalu menyukai puisi, prosa, rangkaian kata-kata yang terbentuk menjadi kalimat yang indah, puitis dan romantis. Hal itu pula yang membuat saya juga selalu sangat mengapresiasi sebuah kado ataupun penghargaan dalam bentuk tulisan. Inilah beberapa kado pernikahan yang saya minta buatkan dari teman-teman saya, yang lihai sekali dalam menerjemah dan merangkai sastra. Ada yang memberikan saya dan suami narasi pernikahan, ada pula yang memberikan saya dan suami puisi pernikahan. Meskipun saya juga senang mendapatkan kado-kado dalam bentuk barang, juga doa-doa yang tak ternilai, namun saya menempatkan kado-kado berupa tulisan ini sangat istimewa sekali di hati saya. Terima kasih untuk semuanya, insyaAllah kado ini akan hadir di buku saya selanjutnya, setelah buku "Menikah Itu Mudah". ^_^
Pertama, kado dari Bezie Galih Manggala, sebuah narasi pernikahan yang dibacakan setelah akad berlangsung
***
Narasi
: Cuaca, Kamil
Suatu esok, ada masa di mana setiap sentuh genggam meluruhkan dosa-dosa kita yang menyelaksa; menyepuh setiap bulir air mata yang menjama’ah doa; menggantinya dengan cinta, menyamudera.
Suatu esok, ada masa di mana setiap kerling matamu yang memanja meneduhi jiwa; menangkap binar cinta tanpa rentang lama; memuncakkan setiap bahagia, memesona.
Suatu esok, ada masa di mana pena kita menari menggoreskan tinta berdua; mengisahkan asma-asma memahadaya; merangkum madani akan semesta, mencahaya.
Suatu esok, di teriknya kilau mentari, gelitik rinai hujan, pendaran bias pelangi, hingga pejaman gulita; kaki-kaki kita tetap jenaka melangkahi bayang jejaknya, menuju taman surga, selamanya.
:demi suatu esok itu, bersabarlah cinta.
- Foezi Citra Cuaca Elmart. "Suatu Esok."
Membicarakan narasi, tentulah ia diawali rekam jejak-perkenalan; semacam serapan cahaya rembulan pada punggung malam yang pertama; yang menandai suatu pagi dimana semesta tidak akan pernah lagi menjadi sebagaimana, pengap seperti sebelumnya; tak lagi gelap terlelap, awam temaram; tak lagi selamanya senyap; hingga pagi akhirnya pun datang, menerbitkan terang yang sesekali benderang, meski terkadang masih tampak remang.
Bagi Fu dan Canun, mungkin pagi pada narasi mereka, lahir pada suatu hari itu; pada sebuah ruang dimana ilmu beredar mencipta benang-benang takdir, sebuah seminar dan training, yang tanpa disadari menghubungkan kedua mempelai kita hari ini. Takdir yang selalu berbisik pelan-pelan, perlahan menautkan, memperkenalkan; berawal dari sebuah pertemuan sederhana; yang berlanjut pada bincang-bincang tanpa rencana; tanpa disengaja membuka tabir tentang kesamaan visi dan cita-cita.
Entahlah, malaikat manapun tak pernah menyangka; dua insan yang berbeda sifat dan rupa; telah secara rahasia dipertautkan oleh yang maha Berencana.
Sang Ksatria, Ikhsanun Kamil Pratama, adalah sesosok pemuda yang menyembunyikan potensi luar biasa; meski dirinya memiliki ide-ide yang, dalam bahasa anak muda hari ini, "ide-ide gila"; tidak biasanya ia berbicara, apalagi membaginya kepada orang yang baru saja dikenalnya.
Tapi bidadari ini berbeda, mungkin begitu adanya; nyatanya impian-impian yang membuat 'canun' luar biasa, terlantun begitu saja; menyapa lembut pendengaran Fu, Foezi Citra Cuaca Elmart lengkapnya, dan terasa sebagaimana mimpi yang selama ini pula terpendam dalam benak terdalamnya.
Ya, ternyata keduanya memiliki kesamaan; sama-sama merasakan bahwa, mengabdi kepadaNya berarti menjaga dari hal-hal yang tak diridhai; yang juga berarti menjaga diri, dan menikah muda!
Adalah mimpi, yang perlahan tumbuh menjadi, pondasi-pondasi niat dalam hati; pada sepasang muda-mudi, yang telah lama mencari, makna dari terciptanya diri.
Adalah mimpi, yang terucap sebagai janji, bahwa hidup ini bukanlah sekedar untuk dinikmati; hidup berarti mengabdi, kepada Tuhannya semesta dan diri.
Hingga tak lama akhirnya, Fu dan Canun memutuskan untuk menautkan dua mimpi yang saling menopang, bergenggaman; melangkah bersama berdua menantang, bersamaan. Tak mau berlama-lama menjaga rasa yang tak semestinya, mereka akhirnya sama-sama berani berkata; "halalkan saja!"
Meski barang tentu, sebagaimana seharusnya; mimpi tak bisa seenaknya saja meracau, menabrak-nabrak kenyataan yang ada; mana bayarannya? Ada perjuangan yang harus ditempuh. Berbulan-bulan do'a dan air mata, yang tak lepas dari cibiran dan prasangka yang tak sedap menderap telinga, menyesaki hati dengan luka-luka yang tak kasat mata.
Ada pula coba dan dera; masalah yang tak diduga-duga; tidaklah mudah meninggikannya, sebuah menara cahaya ditengah terpaan arus dan samudera.
Namun keduanya tegar, berjuang agar pesan mereka tersebar; bahwa niat mereka paripurna, bahwa langkah yang mereka ambil matang dan dewasa; bahwa keputusan ini adalah tentangNya! Tentang Dia yang mencipta dengan cinta. Tentang narasi cintaNya!
Hingga akhirnya semesta tunduk, atas titahNya.
Narasi ini tak sempurna; ya, tak seperti kisah mereka yang begitu lengkap dan bahagia. Perlu lebih dari ribuan malam membicarakan langkah-langkah juang mereka berdua; semesta turut berbicara, ribuan kekata; tapi cukuplah hari ini kita sama-sama berdo'a; "Barakallahu lakuma, wa baraka alaikuma, wa jama'a bainakuma, bikhair."
- Bandung, 5 April 2012.
Dibacakan di Majalengka, 6 April 2012
Kedua, puisi dari Teh Henny Hasan dan Teh Hesty Wahyuningsih, dua sahabat maya saya yang sangat saya sayang karena Allah...
***
Kata-kata menyempurnakan dirinya menjadi kalimat
: puisi cinta.
Pada kesederhanaan hati semua bermula. Sebuah ruang yang akhirnya memiliki penghuninya sendiri.
Selamat pagi, pengantin.
Ada embun dan ranting-ranting basah yg turut mendoakan, semoga keberkahan melimpah di setiap langkah. Dari hari ketika kalian memilih jalan sama yg searah, hingga kalian tak lagi mengenali apakah waktu masih menyertai dunia ataukah musnah.
Selamat siang, pengantin.
Semoga kalian tak lekas lelah ketika terik memenuhi hari. Kami berharap, kisah yg kalian tuliskan adalah tentang sepasang sayap yg tetap gagah mengepak.
Selamat malam, pengantin.
Datangnya gelap akan menutupi benda dari pandangan mata. Begitu pun dengan kalian, akan menjadi penjaga rahasia satu sama lain.
Selamat bagi kalian, pengantin.
Selamat menikmati cinta.
Semoga kelak lahir kebaikan-kebaikan dari keduanya dan bahagia selamanya.
***
Ketiga, dari sahabat saya, seorang dokter muda lulusan UGM, yang anomali dan penyuka sastra dan puisi, Aditya Putra Priyahita
***
barisan puisi tertunduk takzim pagi ini
menyambut hangat mentari selepas deras malam tadi
merasakan gemulai embun merengkuh daun-daun
teriring kicauan langit buncahkan rasa lama terpingit
dan kuncup asa bermekaran jadi bunga
pagi ini adalah mitsaqan ghaliza
tempat dua anak manusia berikrar setia
bukan pada cinta, hanya Pencipta saja
satu kayuh berdua satu layar bersama
bukan untuk dunia, tapi menuju ridha-Nya
hari ini sebuah janji menjelma prasasti
dan mimpi sedari dini telah disulap hakiki
lunas jua berjuta doa berbumbu air mata
yang dieja cakrawala setiap langit beranjak senja
maka pada haru yang menderu
tak henti dzikir mengalun merdu
maka untuk tangis manis tak lagi mengiris
cinta untuk-Nya tak kan berkurang walau seiris
maka dari syukur pengantar simpuh terpekur
ketaatan berdua kian nian bertambah subur
karena bahagia tak bisa dikata seribu bunga
maka biar lelah dalam dakwah yang melukiskannya
pagi ini sebuah tulang rusuk kembali ke tempatnya
lalu aku dan kamu dibelai cinta menjadi kita
maka bertamhid seluruh penjuru dunia
karena langkah perjuangan kan meraksasa
dan bersama kita hela tiap detik wangi surga
selamat berjuang tuan dan nyonya...
Pacitan, 8 April 2012
***
Terima kasih untuk semuanya, yang telah mengirimi kami dengan doa tulusnya. semoga Allah yang Maha Segala membalas yang terbaik untuk semuanya. semoga kami juga tetap istiqamah di jalan sunnah para Nabi ini. Membangun peradaban, beralih dari munfarid menjadi berjamaah. Amin...
Mohon doanya juga ada beberapa buku yang sebentar lagi terbit, juga beberapa yang sedang kami garap bersama lagi. InsyaAllah target 10 buku dari kami berdua terbit tahun ini. :)
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 22.15 4 komentar
Label: Allah, Ce-I-eN-Te-A, Puisi, Romantis, Saya serius
Rabu, 13 Juli 2011
Antara Sekolah dan Menikah
1. Biaya relatif lebih mahal, soalnya sekolahnya lama, (tapi kata mama, rezeki itu di tangan Allah!!!)
Weell, setelah dipikir2 dan dikomentarin, alasan aku gak mau S1 itu LEMAH SEKALI. Alasan yang pertama klise sekali, apalagi ditambah dengan pemikiran akuu yang mau sambil nyambi bisnis pas kuliah nanti, Sooo... Rezeki itu diikhtiarkan dan minta sama Allah. Alasan yang ketiga, hellow dellow mellow, ituu rasanya gak masuk akal banget, secaraaa yaah, kalau reziko begituan harus diambil demi mimpi dan kesuksesan. Klise banget klu fu takut kangen rumah n gak betah, juga takut item gara2 kepanasan di sanaa, (T_T tapi katanya emang gak banget hawa nyaaa..). Alasan yang kedua, nah itu yang penting. Karena Apaaaaa??? Karena Terlalu lamaaaaaaaaaa, helooooww fu umur berapa tuh baru LULUS nya, umur 24 mau 25. T_T lalu kenapaaa??? NIKAH-nya kapaaaaaaaaaaann??? Dan semua yang fu bilangin gitu malah ingin ngejitak dan marahin fuuu.... haha, soalnya :
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 09.37 0 komentar
Label: Ce-I-eN-Te-A, Celoteh, Curhat, Saya serius
Jumat, 01 Juli 2011
Setiap sempat
Setiap sempat, aku tak pernah segan bertanya “Apakah politik itu, Kak?” Bahasan yang selalu kau tawarkan untuk kita perdebatkan bersama. Politik yang belum mau kau pelajari lebih hanya karena tak mau tergolong ahli, yang mungkin akan memaksamu menelan kemunafikan yang dulu-dulu sangat kau hindari. Sudah cukup ia hanya berjejal dengan selai dalam setangkup roti pagimu, yang sisanya bisa kau jilati tanpa malu. Setidaknya rasanya manis di ujung lidahmu, meski kau muntahkan kembali pada koran pagimu. Melulu itu, Jemu!
Setiap sempat, aku tak pernah segan bertanya “Apakah politik itu, Kak?” Ocehan yang tak pernah ketinggalan saat kau bertemu kawan sepermainan. Politik yang sudah menghambarkan apa itu risalah, alkisah, ceramah, musyawarah, hingga menghablurkan apa itu sembah menyembah dan sesembah disembah. Sudah cukup ia menggelayuti tetesan keringat pada makan siangmu, yang jatuhnya bisa kau sepuh dengan pungung tanganmu. Setidaknya lelahnya terasa nikmat, tak seperti sajian televisimu yang penuh hujat. Melulu itu, penat!
Setiap sempat, aku tak pernah segan bertanya “Apakah politik itu, Kak?”. Racauan yang bahkan tak pernah terlewat muncul dalam igauan tidurmu. Politik yang dikoar-koarkan sesiapa tak hanya aparat negara, mulai dari mahasiswa, pengusaha, pemuka agama, hingga ibu rumah tangga, yang gaungannya telah lama menyumpali telinga pengemis tua, tukang becak, hingga penjaga kuburan usia senja. Sudah cukup ia merecoki waktu istirahat malammu, yang detiknya bisa kau hitung hingga embun fajar membangunkanmu. Setidaknya kau masih sadar akan kewajibanmu memperbaiki hari, tak seperti mereka yang mungkin tengah lupa harga diri. Melulu itu, basi!
Setiap sempat, aku tak akan pernah segan bertanya “Apakah politik itu, Kak?”. Sampai kau bosan. Sampai kau tak lagi punya jawaban, kemudian kau bertutur enggan, “Jadilah bagian di dalamnya, kau akan mengerti segalanya, dan tak lagi bertanya!”
-ceracau pagi menjelang siang-
Majalengka, 15 Juni 2011
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 06.30 0 komentar
Label: Ce-I-eN-Te-A, Puisi, Saya serius
Senin, 30 Mei 2011
What's life?
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 10.57 0 komentar
Label: Ce-I-eN-Te-A, Hikmah, Saya serius
Minggu, 17 April 2011
Malam
Dahulu, malam disambut angin dengan sapa hangatnya, yang menghantarkan tarian anak-anak bersarung dalam canda tawa. Malam tak nampak gelap dalam sorot mata mereka yang bening, tak seperti pabrik-pabrik yang terus saja berdesing, atau juga lolongan pojok kota yang semakin melengking. Tak ada sejenak, meski sekejap.
Dahulu, malam disambut awan dengan senyum manisnya, meski membuatnya kasat mata dari tatapan anak-anak yang berdoa. Malam bukanlah teror yang menakutkan tubuh mereka yang mungil, tak seperti kertas warta berhuruf arab yang dijadikan fosil, atau juga pengerat jalanan yang merajuk dibuatkan kastil. Tak ada maaf, apalagi hak.
Kini, malam tak lagi sama. Dinginnya tak bermakna, hangatnya tak dirasa, bahkan kehadirannya tak dicinta. Dinikmat dalam selintas hambar, bahkan hingga ditelan fajar. Tanpa doa, apalagi ikhtiar.
Boleh jadi nanti, malam semakin tak sama. Laiknya sabit yang tak seistimewa purnama. Karena malam telah terbuang, mengalah terkuras siang. Karena malam telah tersingkirkan, dirindunya hanya kala ada seribu rembulan.
17 April, 2011
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 10.53 0 komentar
Label: Allah, Ce-I-eN-Te-A, Hikmah, Puisi, Saya serius
Jumat, 08 April 2011
Tanpa Kecuali
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 23.51 0 komentar
Label: Allah, Ce-I-eN-Te-A, Curhat, Saya serius
Kamis, 07 April 2011
Ruang
Ruang memenjarakan sebatang lilin di pojoknya sendirian, terbalut pekat yang siap membunuh sekejap meski perlahan. Bila saja ia tahu bahwa malaikat tak punya catatan tentangnya yang seringkali kehilangan nyawa, mungkin tak akan ada ketulusan untuk hilangnya ketakutan, jauhnya kegelapan atau sepoles kehangatan tak tertata. Untuk apa mataku terbelalak, karena tubuhku terkapar tak bergerak, dengan gigi yang gemeretak. Untuk apa lilin berpendar, karena akhirnya menagih ikrar, padaku yang tengah terlantar.
Ruang masih memamerkan kepahlawanannya, pada lilin yang tersipu dalam cahaya. Padaku ia berkata : -Nikmatilah semburatnya, meski ia terletak dua senti dari kelopak. Cumbuilah udaranya, meski ia menelusuk pori tengkuk hingga pelupuk. Gemetarkan hati, meski bibir tak mampu bergumam lagi. Ke sana, Tuhan masih bisa masuk untuk menakwil, telepati hati kalian yang saling memanggil.
Ruang pun tahu doaku, “Aku menunggu lilin mati, untuk kemilaumu yang membuka pintu.”
galaksi doa, April 2011
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 22.57 0 komentar
Label: Ce-I-eN-Te-A, Puisi, Romantis, Saya serius
Celoteh Malam
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 00.52 0 komentar
Label: Allah, Ce-I-eN-Te-A, Celoteh, Curhat, Hikmah, Saya serius
Selasa, 05 April 2011
Mama said
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 22.24 0 komentar
Label: Ce-I-eN-Te-A, Curhat, Saya serius
Siapa Yang Salah?
Rujuk merujuk pasien sudah barang tentu menjadi hal yang lumrah terjadi dalam mekanisme pelayanan kesehatan. Tentunya hal ini telah menjadi rutinitas yang dianggap "biasa" bahkan "seharusnya" dilakukan, bila memang suatu instansi pelayanan kesehatan tidak mampu menangani, hingga menyerahkannya pada instansi pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dan dianggap "mampu" menangani. Namun, dibalik dianggap "biasa"-nya rutinitas ini, telah menjadi rahasia umum bahwa rujuk merujuk ini juga menyimpan sekelumit kisah sampai banyak kontroversi.
Sebagai salah satu pelayan kesehatan masyarakat, profesi saya tentunya ikut ambil bagian dalam lingkaran sistem rujukan ini. Apalagi profesi bidan ini ditentukan sebagai elemen dasar pelayan kesehatan pertama, yang menjangkau masyarakat secara langsung, khususnya dibidang kesehatan ibu dan anak tentunya. Suatu kehormatan sekaligus beban tersendiri sebenarnya bila mengingat akan kewajiban dan tuntutan yang harus dipenuhi.
Menjadi sebuah prestasi bila kasus normal dapat tertangani dengan baik, namun menjadi aib serta problema berkelanjutan bila ada kasus yang tak dapat tertangani. Hal tersebut disebabkan beragam kemungkinan mulai dari ketidakmampuan deteksi dini, ketidakpatuhan melakukan tindakan sesuai SOP, keterlambatan merujuk, dan berbagai alasan lain. Disinilah sebenarnya sistem kolaborasi itu berfungsi. Dimana harus ada kerjasama yang baik dengan petugas kesehatan lain juga instansi pelayanan kesehatan lain. Pada kolaborasi rujukan berbagai kasus terkadang tak lepas dari ketidaksesuaian dan kesalahpahaman. Acap kali fenomena "saling menyalahkan" terjadi baik itu antara pasien dan petugas kesehatan maupun antar sesama petugas kesehatan itu sendiri.
Serba salah rasanya bila keputusan merujuk itu harus ditetapkan. Kesan ketidakmampuan dalam penanganan seringkali terlontar dari pihak pasien terhadap petugas kesehatan pertama yang menanganinya. Belum cukup sampai disitu, terkadang sindiran dan kesan “menyalahkan” oleh petugas kesehatan tempat rujukan kerap kali harus diterima oleh pihak yang merujuk pasien. Apalagi bila kegawatdaruratan obstetri dan neonatal itu menimbulkan sesuatu yang fatal. Faktanya memang instansi pelayanan kesehatan yang menyumbang AKI dan AKB paling tinggi adalah rumah sakit, dan sebagian besar penyebabnya didapat dari banyaknya kasus rujukan. Dan fenomena saling menyalahkan memang tak dapat dihindarkan, berlangsung sekaligus dengan tindakan saling menutupi kesalahan bila Audit Maternal Perinatal dilakukan.
Kalau terus bertanya siapa yang salah, akan terjadi tuding menuding yang tidak akan pernah berujung sampai kapanpun. Petugas kesehatan tempat rujukan menyalahkan petugas yang merujuk, petugas yang merujuk angkat tangan menyalahkan pasien, pasien sendiri berkilah pada keterbatasan biaya dan pengetahuan atau bahkan kembali menyalahkan petugas yang merujuk. Tak akan berakhir karena membentuk lingkaran bahkan siklus tak berkesudahan yang itu-itu saja.
Kalau terus bertanya siapa yang salah, pasien sebagai rakyat biasa sebenarnya bisa menuntut bidan atau petugas kesehatan lain atas MAL praktek di saat kegawatdaruratan terjadi. Karena faktanya, memang masih ada saja petugas kesehatan yang memanfaatkan "kebodohan" pasien akan hal medis sebagai alas melindungi diri dari ketidaksesuaian hukum dan etika profesi. Pasien juga tak bisa disalahkan sepenuhnya saat ia lebih memilih ahli pengobatan alternatif, paraji, atau bahkan dukun untuk kesembuhannya. Karena faktanya, biaya kesehatan di negara ini dianggap sudah mulai tidak masuk akal lagi.
Ironis memang, karena sering kali keharusan malah berbanding terbalik dengan kemampuan. Seperti dalam hal bersalin misalnya, masyarakat "menengah ke bawah" mati-matian berusaha ingin bisa melahirkan normal karena ketidakmampuan biaya operasi, sementara di sisi lain masyarakat "menengah ke atas" malah bersikeras ingin operasi caesar padahal masih bisa melahirkan normal. Di lain hal, saat petugas instansi pelayanan kesehatan pemerintah bekerja keras menangani pasien yang melebihi daya tampung, banyak" instansi swasta malah bersikukuh mengutamakan kepuasan pelanggan yang ditebus sesuai dengan perlembar materi yang tersanggupi.
Kalau terus bertanya siapa yang salah, petugas kesehatan sebagai abdi negara wajar menuntut akan ketidaksejahteraan dirinya. Karena bagaimanapun tenaga dan jasa harus berbanding lurus pada penghargaan yang didapat. Dimana tuntutan akan "target pencapaian" dan “berkas pelaporan” yang menumpuk, tumpang tindih dengan keharusan terlaksananya pelayanan yang memuaskan sekaligus. Sementara itu, harga yang didapat tidaklah sebanding dengan kerja yang dilakukan. Ditambah lagi aturan perundang-undangan yang dibuat se-"ideal" mungkin nyatanya tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sebenarnya. Seperti halnya permenkes terbaru tentang wewenang praktek bidan misalnya, di sana tertuang beberapa aturan yang terkesan "maksa" tanpa mempertimbangkan kondisi yang ada. Bagaimana tidak, bila beberapa wewenang bidan akhirnya dibatasi dengan dilatarbelakangi berbagai kasus melenceng yang terlapor dilakukan bidan. Aneh memang bila pembuat kebijakan tidaklah termasuk profesi yang menjalankan kebijakan itu sendiri, karena buktinya tidak ada seorang pun "bidan" yang menjadi bagian dari pembuat kebijakan tersebut. Sementara di sisi lain program yang masih diusahakan adalah "bidan desa", tidak diimbangi oleh keberadaan “obgyn desa” misalnya. Jadi pantaslah bila kasus kegawatdaruratan yang seringkali terjadi di daerah terpencil, masih menyumbang AKI dan AKB dikarenakan ketidakterjangkauan tempat pelayanan kesehatan juga ketidakmampuan petugas dalam penanganan.
Ironis memang, karena seringkali ketidaksesuaian terbantah oleh kelumrahan. Tidaklah heran bila ekspresi datar bahkan tidak mengenakkan muncul dari petugas kesehatan dalam menyaksikan kegawatdaruratan bahkan kematian. Meskipun hal itu telah menjadi "kewajaran", tetapi sebenarnya hal tersebut menjadi ketakutan dan kegetiran tersendiri bagi mereka. Karena bila tidak dengan sikap seperti itu, siapa lagi yang rela hati menangani pasien dengan sekejap melupakan materi, ditengah tekanan akan tuntutan profesi dan penghidupan sekaligus.
Kalau terus bertanya siapa yang salah, pemerintah mungkin menjadi pangkal dari segala problematika ini. Segala aspek di luar kesehatan pun pastilah menuduh tersangka utama dari berbagai tumpahan kesalahan itu adalah pemerintah. Disamping berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dengan memunculkan banyaknya program kesehatan, entah itu mulai dari jaminan kesehatan masyarakat kurang mampu, pemerataan tenaga kesehatan, pengadaan tunjangan kesehatan, dan berbagai program serta kebijakan lain. Namun hal itu tidak lantas menjadikan derajat kesehatan bangsa ini segera membaik, atau setidaknya bisa disejajarkan dengan negara-negara tetangga terdekat minimalnya. Selain itu, hal tersebut juga tak membuat status korupsi bidang kesehatan yang ada di peringkat ketiga (setelah pendidikan dan agama) menjadi menurun jua.
Ironis memang, di saat upaya perbaikan yang diimpikan tak bisa lepas dari ketidaksesuaian tindakan nyata. Dimana kita tak bisa menutup mata bahwa pelayanan yang berkualitas harus didukung pula oleh petugas kesehatan dan fasilitas kesehatan yang berkualitas. Untuk memenuhi itu semua, diperlukan dana yang tidak sedikit tentunya. Ya, bagaimanapun semuanya berujung pada ketersediaan biaya. Parahnya lagi, bukanlah karena pengadaan obat atau alat kesehatan yang harganya mahal semua ini terhambat, tapi justru proses pengadaan turunnya dana yang biasanya terlipat di berbagai tingkat.
Kalau terus bertanya siapa yang salah, semuanya tidak bisa dinyatakan mutlak bersalah atau tidak bersalah. Namun satu hal yang pasti, bahwa semuanya ikut bertanggungjawab dalam kelancaran pelayanan kesehatan, baik itu masyarakat, petugas kesehatan, juga pemerintah. Tidaklah hanya cukup puas dengan pencapaian 380/100.000 pada AKI dan 29/1000 pada AKB (Data tahun 2010). Meskipun faktanya memang terjadi penurunan per tahunnya, tapi seharusnya kegagalan visi Indonesia Sehat 2010 menjadi tamparan yang cukup dahsyat, sebagai bahan refleksi dan introspeksi seluruh elemen kesehatan di negara ini. Ya, setidaknya target MDG’s masih 4 tahun lagi kan?
Seharusnya kita semua tak perlu lagi berkutat pada pertanyaan "Siapa yang salah?". Lebih baik beralih pada pertanyaan "Siapa yang bergerak memperbaiki?".
Kalau bukan kita, siapa lagi?
*ah fu, kau masih kecil, beraninya kau bicara!
1 April 2011
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 16.10 0 komentar
Label: Bidan, Curhat, Hikmah, Saya serius
Baca Notes Orang Tentang Jodoh
Seperti halnya rizki yang harus kita cari di siang hari atau malam hari, dengan sepenuh jiwa melalui tetesan keringat juga doa. Begitu pula jodoh, Allah menghendaki kita agar berusaha mencari dan menemukan jodoh terbaik kita masing-masing.
“Jodoh adalah takdir atau ketentuan yang sekaligus berkaitan dengan peran Allah dan ikhtiar manusia”
”Jika kamu tidak berniat menikahi seseorang maka jangan main-main dengan hubungan”. Persiapkan diri untuk menjemput jodoh yang baik. Dengan kata Ali, jadilah ALI JIKA INGIN MENDAPATKAN FATIMAH
“Diam! Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang cukup cintai ia dalam diam, karna diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya. Kau ingin memuliakan dia dengan tidak mengajak menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya. Karna diammu bukti setiamu padanya. Karna mungkin saja dia telah Allah pilihkan untukmu. Dan jika memang cinta dalam diammu tidak memiliki kesempatan berbicara di dunia nyata maka biarkan ia tetap diam, karna Allah lebih tahu yang terbaik untukmu dan semoga rahmat Allah tercurah untukmu”
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 16.08 2 komentar
Label: Allah, Ce-I-eN-Te-A, Hikmah, Romantis, Saya serius
Senin, 21 Maret 2011
Tentang Taaruf dan Hubungan dengan Ikhwan
Tujuan ta’aruf adalah saling mengenal satu sama lain dengan tujuan untuk menikah, namun cara yang dilalui syar’i. Disitulah letak perbedaan ta’aruf dengan pacaran. Ta’aruf harus ditengahi oleh orang ketiga, dan orang ketiga pun hendaknya memang orang orang – orang yang sudah paham, dan sebaiknya juga orang yang sudah menikah. Dalam ta’aruf juga harus ada kejelasan dari kedua belah pihak, bahwa itu hanya ta’aruf, means bisa jadi iya, bisa jadi nggak.
Dengan asumsi bahwa akhwatnya siap menikah, maka bila :
1. Kalau ternyata ikhwannya ingin mencarikan jodoh, maka silakan proses melalui Mrbyah akhwatnya. Kalau Mrbyahnya belum ada, mungkin bisa dicarikan orang yang bisa diwakilkan. Tentunya carilah orang yang sudah paham, sehingga dalam proses nanti bisa membimbing.
2. Kalau ikhwannya yang berniat melamar akhwat tersebut, baiknya ditanyakan apakah hal ini sudah ditanyakan ke Mrb ikhwannya. Dan baiknya juga disampaikan agar ta'aruf itu ditengahi pihak ketiga agar hati lebih terjaga.
Penengah yang paling utama adalah Mrb dan Mrbyah, karena memang Mrb dan Mrbyah punya tanggung jawab untuk mencarikan jodoh terbaik bagi binaannya. Jadi baiknya Mrb ikhwannya dan Mrbyah akhwatnya mulai kontak2an untuk memperjelas langkah selanjutnya.
***
Sedikit tentang proses in general dalam ta’aruf.
1. Komunikasi awal antar Mrb ikhwan dan akhwat atau dari Mrb ke orang penengah.
2. Orang tengah/Murobbi akan menghubungi masing – masing calon, dan memberikan guide tentang proses ta’arufnya seperti apa.
3. Saling kirim “Form Bailtul Muslim” yang biasanya nanti dikasikan. Biasanya setelah itu akan ada tanya jawab mengenai form dulu by email. Tentunya semua komunikasi di tengahi oleh orang ketiga tadi.
Peran orang ketiga ini sangat crucial, bukan hanya sebagai “penjaga” tapi juga pembimbing.
4. Kalau dari form sudah ok, biasanya akan bertemu langsung dengan pendamping masing2 (i.e Mrb) atau orang tengah.
5. Kalau dari pertemuan langsung sudah ok, family visit. Perkenalan dengan keluarga.
6. Kalau dari keluarga sudah ok, then tinggal ditentukan tanggal pernikahan yang sesuai dll.
Gimana? :) sebenarnya prosesnya biasa aja kan ya? Tapi ya itu tadi, dalam ta’aruf sebaiknya semua proses komunikasi diketahui oleh Mrb dan orang tengah, kalau tetap mau sendiri2, buat apa ada orang tengah, apa bedanya dengan orang pacaran. Allahu’alam bishawab.
So, untuk ukhti, silahkan ditanyakan kepada beliau.
Dan terakhir, mungkin sama –sama mulai dari sekarang kita katakan pada diri kita “no male friend or best friend”.. yang ada adalah “saudara laki2”. Seteman – temannya ikhwan, mereka tetap laki – laki, sek-kakak – kakaknya ikhwan, mereka juga tetap laki – laki non muhrim. Kitalah yang harus pandai pandai menjaga diri. Bukan berarti jadi memutus hubungan, tapi kurangi interaksi yang tidak perlu.
Perbanyak teman dengan akhwat. Kalau harus ada interaksi dgn ikhwan, usahakan ada orang ketiga yang menenemani. Bahasa dalam komunikas pun hendaknya dijga, cukup yang penting – penting saja, tidak perlu terlalu banyak ekpresi yang mengundang. Mungkin awalnya terasa aneh, tapi lama kelamaan insyaAllah akan terasa lebih nyaman. Saya pun insyaAllah pernah melalui fase ini, fase di mana menjadi lebih sering tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas arahnya atau kepentingannya, fase di mana lebih memilih mendoakan daripada keseringan tanya kabar, dan yang terpenting kalau komuniakasi bisa lewat facebook atau skype, maka akan dimauskkan orang ketiga. Allahu’alam. :) Sometime mungkin ada yang privacy, tapi jujur aja, biasanya jaraaaaaaaaaaaang sekali, so kalau ada yang privacy banget, jagalah bahasa komunikasi.
Saya sayang Foe. InsyaAllah, Allah-lah sebaik – baik tempat bergantung. Ok ;)
*Fu hanya bisa menangis. Astagfirullah.... T_T Let's take a pray.... Allah, lindungi fu selaluuuuu.... ^^,
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 08.03 0 komentar
Label: Allah, Ce-I-eN-Te-A, Curhat, Hikmah, Saya serius
Masukan dari seorang Ukhti
*) Jagalah mata dan telinga karena keduanya akan direct mempengaruhi hati apa yang kita lihat, kita tonton, kita baca...
lagu apa yang kita dengar, suara siapa, dsb akan sangat mempengaruhi.
Ibaratnya bagaimana mau menjaga hati kalau tontonannya sudah bertema cinta dan lagupun lagu cinta. Ditambah, bacaan, juga bacaan cinta.
Awalny mungkin sulit.. cobalah perlah - lahan dan istiqamahlah :) Allah yang akan tolong, insyaAllah.
*) waktu luang kita
untuk apa dipergunakan, ushaakan jangan sampai ada waktu yang kosong
karena disitulah syaitan akan masuk dengan mudah mengalihkan kita ke hal duniawi
*) Tilawah kita Kesibukan dan rutinaitas kita pun bisa menggerogoti iman. So, sempatkan tilawah meski hanya beberapa ayat di waktu senggang. Buat targetan sehari mau berapa. Karena sungguh Allah sudah menjadikan Qur'an juga untuk meneguhkan hati orang beriman.
Intinya, hati kita hanya ada satu, kalau tidak diisi oleh Allah maka iblis dengan sigap akan mengisinya. Na'udzubillahimindzalik.
Hamasah Ukh! :)
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 07.52 0 komentar
Label: Allah, Curhat, Hikmah, Saya serius
Kampus Bidan - Profesi Bidan - Bidan Day FK UI
Pas tanggal 8 Maret nya fu temu penulis buku saku dulu, kita bincang-bincang berbagai hal. Ceileeee... ya apalagi kalau bukan mengenai project bikin buku itu. Waahh.. jadi semangat beuuuuddd, apalgi ternyata naskah kita disambut baik dan amat dinanti penerbit, huhu, senangnyaa.... Nah, sesudah itu, fu udah janjian sama Fitria, adiktingkat fu yang udah berbaik hati mau menampung di asrama. Hoho.... fu jadi penyelusup gituuu, PLAK! Kangeeeeen banget tuh ma asrama tercinta yang udah 3 tahun jadi tempat fu berlindung di kota Bandung (geuleuh ih bahasana, PLAK!!!) Tapi aslinya fu mah seneeeeng da bisa ngerasain suasana asrama. Hmmm.... banyak banget yang berbeda di suasana kampus terutama. Gilaaa donk, sekarang fasilitasnya Unyuuuu banget, te-o-pe. Ada lapang tenis, basket, voli, bahkan mpe ada tempat fitneeees, Huwwwooo... itu yang gak ada banget pas fu kuliah. Inget banget da pas fu jadi ketua HIMA dulu, angkatan fu yang ngaju-ngajuin dan mencoba menuntut pengadaan fasilitas itu, bikin proposal, merancang anggaran dana, namun tak dikabul juga, dan hasilnya baru terrealisasi tepat saat fu keluar kuliaaah... Hohooo...
Btw, ada yang tetep sama kok di asrama. Yaitu suasana berantakannya kamar anak-anak asrama. Keknya emang turun temurun kali yaaa... Itu tuh ngangenin bangeeet da, apalagi kalau udah banyak tugas teu puguh, semua barang berceceran dimana-mana, PABALATAK... heu.... Dan satu hal lagi yaitu GAK ADA AER. Gilaaa dooonnnkk, fu merasakan kembali mandi di aula kampus, soalnya di kamar mandi kamar, di mushola dan tempat penampungan aer gaka da semuaaa... Hwaaa... asa jadi anak asrma lagiiih, Heuuu... Tapi ndak apa-apa laaah, kan jadi nostalgiaaa, huhu...
Pas mau seminar, fu berangkat bareng anak-anak asrama. Nyarter angkot bareng-bareng. Jadi inget lagi waktu dulu, kalau kemana-mana pasti rombongan nyarter angkot, apalagi kalau acara-acara dan kegiatan semacem NGAMPUS banget gini, pasti rombongaan hheu...
Seminarnya bagus si yaa, meski sempet kecewa soalnya Ketua PP IBI nya digantikan. Hikss.... pengen beud ketemu sama Bu Harnikoesno, secara waktu pas semnas ISMAKES juga nyatanya beliau diwakilkan juga dan berhalangan hadir.. Huhu... >.< Nah, intinya di seminar itu menjawab segala isu mengenai uji kompetensi, yang bisa disimpulkan bahwa itu masih hanyalah “MENYONGSONG” meski anehnya si UU dan permenkesnya udah keluar tahun 2010 kemaren. Aneh yaaa??? Fu serius banget ngikutin seminar, masalahnya kek merasa turut prihatin pada profesi ini. Ya eyalah... sekarang ini fu udah jadi bidan, bagaimanapun harus ikut memikirkan kelangsungan eni PROFESI. Hmmm... asyik juga, jadi bersemangat buat sekolah lagi terusin S1 bahkan S2, yang BIDAN banget. Secara sekarang eni banyaknya ngambil D4, Kesmas atau yang lain. Nah, ternyata nanti mah mau ad aperaturan baru, bahkan yang ngajar juga harus BIDAN banget, alias llusan S1 Bidan. Sooo... prospek ke depannya baguuus, harus bisa sekolah lagi, biar nanti bermanfaat buat kemajuan bangsa (Ceileeee... bahasana, PLAK!) Katanya bidan juga gak boleh kalah sama profesi lain, meskipun cewek semua tapi jug harus bisa majuuuu... meskipun sering Labil, tapi tetep harus ada perubahan.
Heran sebenarnya sama sistem pendidikan bidan yang beda-beda. Secara yah di LN itu yang namanya bidan bergelar B. Mid alias S1 Bidan itu cuma tiga tahun lhooo sekolahnya. Lha, Indonesia? 3 tahun itu cuma bergelar Am.Keb, dan bila meneruskan S1 yang sekarang ini sudah dibuka di UNAIR, UNIBRAW, UNAN, dan (lupa satu lagi), harus mengenyam kuliah selama 2,5 tahun lagi. Hwaaaa... udah kek kedokteran ajah yaaa? Aneh yaa... Padahal yang fu tahu kek di Belanda, Aussie, New Zealand ajah, pendidikan bidan itu yg sekarang cuma 3 tahun, itu dari SMA lhoo, langsung S1, dan nerusin S2 lagi Cuma 2 tahun. Nah, karena ketidaksamaan ini, makanya kemajuan profesi kebidanan Indonesia itu sangat suliiiiiiiittt... apalgi kalau udah nyari-nyari tentang sholarship, pasti susaaah beeeuuud, soalnya latar belakang sistem pendidikan yang cukup berbeda JAUH, jangankan scholarship, fellowship ajah susah beeeuuuddd dicarinya, karena pasti ajah kriterianya teh aada yang gak pas. Hmm... emang sih yaa, profesi kebidanan di Indonesia khususnya itu sedang berkembang, masih bangkit, masih mencoba berdiri lagi, setelah 10 tahun sempat vakum gara-gara membludaknya lulusan, tapi TIDAK MENURUNKAN AKI DAN AKB. Gak kaya NZ yang AKI nya NOL dong, NOL BESAR. Dan AKB nya Cuma 4 pertahun. Hwaaa... itu sangat jauh berbeda dengan Indonesia, yang masih tinggi di angkat 228 per seribu kelahiran. (bener gak yaaah? Lupaa sayah! PLAK!!)
Ini sebenarnya tantangan bagi para bidan di Indonesia yang masih muda-muda, para generasi mudanya buat terus berkembang dan berkembang lagi. Harus bekerja sama bahu membahu, tnapa lupa berkolaborasi dengan profesi lainnya. Hmmm... (beuuurat yaaah?? Hehe...)
O iya, herannya, ditenga menjamurnya sekolah kebidanan, dan yang pengen jadi bidan (gak kek fu sebelumnya) di Indonesia, katanya justru pemerintah Belanda mah kesulitan buat nyari yang mau jadi BIDAN. Katanya orang-orang sana udah pada gak tertarik, bahkan Bidan tuh sangat diperlukan di sana. Hmm... miris yaaa, gak kek Indonesi yang justru maaf-maaf saja ya seenaknya merealisasikan didirikannya sekolah-sekolah bidan baru yang GAK SESUAI STANDAR banget, bahkan menghasilkan lulusan yang bahkan katanya ada YANG GAK PERNAH NOLONG PERSALINAN sama sekali selama kuliah. Lha, terus ngapain ajah tuh, Buuuuu???
Makanya, seminar kemarin aselinya bikin fu semangat dan membuka lebar-lebar mata untuk liat kondisi saat ini. Ayooo kamu harus bisa sekolah lagi fuuu!!! Di Indonesia atau luar negeri (huuu maunyaaaa itu maaah, Amin... ^^,) Sebenernya gak aneh sih bahwa di seminar kemarin dipenuhi lautan para cewek-cewek, yaeyaaalaaaaahh secara bidan dan mahasiswa bidan semua. Yang di Indonesia gak ada bidan COWOK, Hhaaa....
Seneng ketemu banyak dosen dan beberapa temen fu juga. Ada yang pangling katanya fu “langsingan”.Hohohoho.. sambil tersipu maluuuu.... >.< Nah, pas ketemu T’Ulek yang sekrang dapet kerja di salah satu RB di Jakarta, katanya ada seminar and workshop gitu yang diadain FKUI. Hwaaa.... langsunglah fu berbinar-binar. Secara fu ini penggila seminar dan paling hobi ngumpulin berbagai sertifikat. PLAK! Aseeelinya, fu paling suka da hadir di seminar, meski fu jarang nanya, tapi ilmunya itu lhooo... ^^, Nah, katanya acaranya bertajuk “BIDAN DAY”. Waaahhh.. dari judul ajah udah BIDAN BANGET. And jarang juga yaaa ada fakultas kedokteran yang ngadain acara yang pesertanya fokus pada satu profesi kesehatan aja, biasanya kan global. Secara univ yang ada di Bdg ajah mana ada yg bkin acara Bidan banget kalau gak sekolah kebidanan sndiri. >.<
Pas fu cba liat di fb terus meng-add nya, fu benar-benar langsung tertarik dan BERMINAT sekaliiiiii pada acara seminar dan workshop itu. Pokoknya harus bisa ngeluangin waktu tanggal 14-15 Mei buat pergi ke Jakarta. Insya Allah fu usahakan pas awal bulan April ndaptar ke sana. Karena dua hari, kek nya fu nginep di sana, meski masih belum pasti juga sih mau nginep dimana. Tapi T’Ulek udah berbaik hati akan menampung katanya kalau fu emang mau ikut itu seminar, dan juga ada saudara fu juga kok di daerah sana, katanya kalau dari rumahnya ke daerah Salemba itu Cuma 45 menit. Heuheu...
Segitu ajaaa kalii yaaa... Nani fu cerita lagi deeh.... ^^,
Diposting oleh Foezi Citra Cuaca Elmart di 03.11 1 komentar
Label: Bidan, Celoteh, Curhat, Saya serius

