Senin, 21 Maret 2011

Tentang Taaruf dan Hubungan dengan Ikhwan

Ini share dari salah satu sahabat fu, yang fu sangaaat sayang padanya Insya Allah, meskipun kita gak pernah ketemuuu... >.< Fu tidak sebut nama di sini. Ukh, terima kasih yaaa.... Syukron jiddaan.... ^^,

Tujuan ta’aruf adalah saling mengenal satu sama lain dengan tujuan untuk menikah, namun cara yang dilalui syar’i. Disitulah letak perbedaan ta’aruf dengan pacaran. Ta’aruf harus ditengahi oleh orang ketiga, dan orang ketiga pun hendaknya memang orang orang – orang yang sudah paham, dan sebaiknya juga orang yang sudah menikah. Dalam ta’aruf juga harus ada kejelasan dari kedua belah pihak, bahwa itu hanya ta’aruf, means bisa jadi iya, bisa jadi nggak.

Dengan asumsi bahwa akhwatnya siap menikah, maka bila :

1. Kalau ternyata ikhwannya ingin mencarikan jodoh, maka silakan proses melalui Mrbyah akhwatnya. Kalau Mrbyahnya belum ada, mungkin bisa dicarikan orang yang bisa diwakilkan. Tentunya carilah orang yang sudah paham, sehingga dalam proses nanti bisa membimbing.

2. Kalau ikhwannya yang berniat melamar akhwat tersebut, baiknya ditanyakan apakah hal ini sudah ditanyakan ke Mrb ikhwannya. Dan baiknya juga disampaikan agar ta'aruf itu ditengahi pihak ketiga agar hati lebih terjaga.

Penengah yang paling utama adalah Mrb dan Mrbyah, karena memang Mrb dan Mrbyah punya tanggung jawab untuk mencarikan jodoh terbaik bagi binaannya. Jadi baiknya Mrb ikhwannya dan Mrbyah akhwatnya mulai kontak2an untuk memperjelas langkah selanjutnya.

***

Sedikit tentang proses in general dalam ta’aruf.

1. Komunikasi awal antar Mrb ikhwan dan akhwat atau dari Mrb ke orang penengah.

2. Orang tengah/Murobbi akan menghubungi masing – masing calon, dan memberikan guide tentang proses ta’arufnya seperti apa.

3. Saling kirim “Form Bailtul Muslim” yang biasanya nanti dikasikan. Biasanya setelah itu akan ada tanya jawab mengenai form dulu by email. Tentunya semua komunikasi di tengahi oleh orang ketiga tadi.

Peran orang ketiga ini sangat crucial, bukan hanya sebagai “penjaga” tapi juga pembimbing.

4. Kalau dari form sudah ok, biasanya akan bertemu langsung dengan pendamping masing2 (i.e Mrb) atau orang tengah.

5. Kalau dari pertemuan langsung sudah ok, family visit. Perkenalan dengan keluarga.

6. Kalau dari keluarga sudah ok, then tinggal ditentukan tanggal pernikahan yang sesuai dll.

Gimana? :) sebenarnya prosesnya biasa aja kan ya? Tapi ya itu tadi, dalam ta’aruf sebaiknya semua proses komunikasi diketahui oleh Mrb dan orang tengah, kalau tetap mau sendiri2, buat apa ada orang tengah, apa bedanya dengan orang pacaran. Allahu’alam bishawab.

So, untuk ukhti, silahkan ditanyakan kepada beliau.

Dan terakhir, mungkin sama –sama mulai dari sekarang kita katakan pada diri kita “no male friend or best friend”.. yang ada adalah “saudara laki2”. Seteman – temannya ikhwan, mereka tetap laki – laki, sek-kakak – kakaknya ikhwan, mereka juga tetap laki – laki non muhrim. Kitalah yang harus pandai pandai menjaga diri. Bukan berarti jadi memutus hubungan, tapi kurangi interaksi yang tidak perlu.

Perbanyak teman dengan akhwat. Kalau harus ada interaksi dgn ikhwan, usahakan ada orang ketiga yang menenemani. Bahasa dalam komunikas pun hendaknya dijga, cukup yang penting – penting saja, tidak perlu terlalu banyak ekpresi yang mengundang. Mungkin awalnya terasa aneh, tapi lama kelamaan insyaAllah akan terasa lebih nyaman. Saya pun insyaAllah pernah melalui fase ini, fase di mana menjadi lebih sering tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas arahnya atau kepentingannya, fase di mana lebih memilih mendoakan daripada keseringan tanya kabar, dan yang terpenting kalau komuniakasi bisa lewat facebook atau skype, maka akan dimauskkan orang ketiga. Allahu’alam. :) Sometime mungkin ada yang privacy, tapi jujur aja, biasanya jaraaaaaaaaaaaang sekali, so kalau ada yang privacy banget, jagalah bahasa komunikasi.

Saya sayang Foe. InsyaAllah, Allah-lah sebaik – baik tempat bergantung. Ok ;)

*Fu hanya bisa menangis. Astagfirullah.... T_T Let's take a pray.... Allah, lindungi fu selaluuuuu.... ^^,

Masukan dari seorang Ukhti

Sekedar tadzkirah, coba buka QS.Al-a'raaf: 179. di sana dituliskan tentang pentingnya mata telinga dan hatii.
*) Jagalah mata dan telinga karena keduanya akan direct mempengaruhi hati apa yang kita lihat, kita tonton, kita baca...
lagu apa yang kita dengar, suara siapa, dsb akan sangat mempengaruhi.
Ibaratnya bagaimana mau menjaga hati kalau tontonannya sudah bertema cinta dan lagupun lagu cinta. Ditambah, bacaan, juga bacaan cinta.
Awalny mungkin sulit.. cobalah perlah - lahan dan istiqamahlah :) Allah yang akan tolong, insyaAllah.


*) waktu luang kita
untuk apa dipergunakan, ushaakan jangan sampai ada waktu yang kosong
karena disitulah syaitan akan masuk dengan mudah mengalihkan kita ke hal duniawi

*) Tilawah kita Kesibukan dan rutinaitas kita pun bisa menggerogoti iman. So, sempatkan tilawah meski hanya beberapa ayat di waktu senggang. Buat targetan sehari mau berapa. Karena sungguh Allah sudah menjadikan Qur'an juga untuk meneguhkan hati orang beriman.

Intinya, hati kita hanya ada satu, kalau tidak diisi oleh Allah maka iblis dengan sigap akan mengisinya. Na'udzubillahimindzalik.

Hamasah Ukh! :)

*Sometimes, I Loose my self.... T_T

Kampus Bidan - Profesi Bidan - Bidan Day FK UI

O iya, lupaa.... fu belum cerita yaa kalau tanggal 9 Maret kemarin, fu ikutan seminar yang diadain almamater tercinta, alias Kebidanan Poltekkes Kemenkes Bandung (yang kata ICM alias Ikatan Bidan Internasional, paling bagus se-Indonesia, Beuuuuuh gayanyaaaa... PLAK!)

Pas tanggal 8 Maret nya fu temu penulis buku saku dulu, kita bincang-bincang berbagai hal. Ceileeee... ya apalagi kalau bukan mengenai project bikin buku itu. Waahh.. jadi semangat beuuuuddd, apalgi ternyata naskah kita disambut baik dan amat dinanti penerbit, huhu, senangnyaa.... Nah, sesudah itu, fu udah janjian sama Fitria, adiktingkat fu yang udah berbaik hati mau menampung di asrama. Hoho.... fu jadi penyelusup gituuu, PLAK! Kangeeeeen banget tuh ma asrama tercinta yang udah 3 tahun jadi tempat fu berlindung di kota Bandung (geuleuh ih bahasana, PLAK!!!) Tapi aslinya fu mah seneeeeng da bisa ngerasain suasana asrama. Hmmm.... banyak banget yang berbeda di suasana kampus terutama. Gilaaa donk, sekarang fasilitasnya Unyuuuu banget, te-o-pe. Ada lapang tenis, basket, voli, bahkan mpe ada tempat fitneeees, Huwwwooo... itu yang gak ada banget pas fu kuliah. Inget banget da pas fu jadi ketua HIMA dulu,  angkatan fu yang ngaju-ngajuin dan mencoba menuntut pengadaan fasilitas itu, bikin proposal, merancang anggaran dana, namun tak dikabul juga, dan hasilnya baru terrealisasi tepat saat fu keluar kuliaaah... Hohooo...

Btw, ada yang tetep sama kok di asrama. Yaitu suasana berantakannya kamar anak-anak asrama. Keknya emang turun temurun kali yaaa... Itu tuh ngangenin bangeeet da, apalagi kalau udah banyak tugas teu puguh, semua barang berceceran dimana-mana, PABALATAK... heu.... Dan satu hal lagi yaitu GAK ADA AER. Gilaaa dooonnnkk, fu merasakan kembali mandi di aula kampus, soalnya di kamar mandi kamar, di mushola dan tempat penampungan aer gaka da semuaaa... Hwaaa... asa jadi anak asrma lagiiih, Heuuu... Tapi ndak apa-apa laaah, kan jadi nostalgiaaa, huhu...

Pas mau seminar, fu berangkat bareng anak-anak asrama. Nyarter angkot bareng-bareng. Jadi inget lagi waktu dulu, kalau kemana-mana pasti rombongan nyarter angkot, apalagi kalau acara-acara dan kegiatan semacem NGAMPUS banget gini, pasti rombongaan hheu...

Seminarnya bagus si yaa, meski sempet kecewa soalnya Ketua PP IBI nya digantikan. Hikss.... pengen beud ketemu sama Bu Harnikoesno, secara waktu pas semnas ISMAKES juga nyatanya beliau diwakilkan juga dan berhalangan hadir.. Huhu... >.< Nah, intinya di seminar itu menjawab segala isu mengenai uji kompetensi, yang bisa disimpulkan bahwa itu masih hanyalah “MENYONGSONG” meski anehnya si UU dan permenkesnya udah keluar tahun 2010 kemaren. Aneh yaaa??? Fu serius banget ngikutin seminar, masalahnya kek merasa turut prihatin pada profesi ini. Ya eyalah... sekarang ini fu udah jadi bidan, bagaimanapun harus ikut memikirkan kelangsungan eni PROFESI. Hmmm... asyik juga, jadi bersemangat buat sekolah lagi terusin S1 bahkan S2, yang BIDAN banget. Secara sekarang eni banyaknya ngambil D4, Kesmas atau yang lain. Nah, ternyata nanti mah mau ad aperaturan baru, bahkan yang ngajar juga harus BIDAN banget, alias llusan S1 Bidan. Sooo... prospek ke depannya baguuus, harus bisa sekolah lagi, biar nanti bermanfaat buat kemajuan bangsa (Ceileeee... bahasana, PLAK!) Katanya bidan juga gak boleh kalah sama profesi lain, meskipun cewek semua tapi jug harus bisa majuuuu... meskipun sering Labil, tapi tetep harus ada perubahan.

Heran sebenarnya sama sistem pendidikan bidan yang beda-beda. Secara yah di LN itu yang namanya bidan bergelar B. Mid alias S1 Bidan itu cuma tiga tahun lhooo sekolahnya. Lha, Indonesia? 3 tahun itu cuma bergelar Am.Keb, dan bila meneruskan S1 yang sekarang ini sudah dibuka di UNAIR, UNIBRAW, UNAN, dan (lupa satu lagi), harus mengenyam kuliah selama 2,5 tahun lagi. Hwaaaa... udah kek kedokteran ajah yaaa? Aneh yaa... Padahal yang fu tahu kek di Belanda, Aussie, New Zealand ajah, pendidikan bidan itu yg sekarang cuma 3 tahun, itu dari SMA lhoo, langsung S1, dan nerusin S2 lagi Cuma 2 tahun. Nah, karena ketidaksamaan ini, makanya kemajuan profesi kebidanan Indonesia itu sangat suliiiiiiiittt... apalgi kalau udah nyari-nyari tentang sholarship, pasti susaaah beeeuuud, soalnya latar belakang sistem pendidikan yang cukup berbeda JAUH, jangankan scholarship, fellowship ajah susah beeeuuuddd dicarinya, karena pasti ajah kriterianya teh aada yang gak pas. Hmm... emang sih yaa, profesi kebidanan di Indonesia khususnya itu sedang berkembang, masih bangkit, masih mencoba berdiri lagi, setelah 10 tahun sempat vakum gara-gara membludaknya lulusan, tapi TIDAK MENURUNKAN AKI DAN AKB. Gak kaya NZ yang AKI nya NOL dong, NOL BESAR. Dan AKB nya Cuma 4 pertahun. Hwaaa... itu sangat jauh berbeda dengan Indonesia, yang masih tinggi di angkat 228 per seribu kelahiran. (bener gak yaaah? Lupaa sayah! PLAK!!)

Ini sebenarnya tantangan bagi para bidan di Indonesia yang masih muda-muda, para generasi mudanya buat terus berkembang dan berkembang lagi. Harus bekerja sama bahu membahu, tnapa lupa berkolaborasi dengan profesi lainnya. Hmmm... (beuuurat yaaah?? Hehe...)

O iya, herannya, ditenga menjamurnya sekolah kebidanan, dan yang pengen jadi bidan (gak kek fu sebelumnya) di Indonesia, katanya justru pemerintah Belanda mah kesulitan buat nyari yang mau jadi BIDAN. Katanya orang-orang sana udah pada gak tertarik, bahkan Bidan tuh sangat diperlukan di sana. Hmm... miris yaaa, gak kek Indonesi yang justru maaf-maaf saja ya seenaknya merealisasikan didirikannya sekolah-sekolah bidan baru yang GAK SESUAI STANDAR banget, bahkan menghasilkan lulusan yang bahkan katanya ada YANG GAK PERNAH NOLONG PERSALINAN sama sekali selama kuliah. Lha, terus ngapain ajah tuh, Buuuuu???

Makanya, seminar kemarin aselinya bikin fu semangat dan membuka lebar-lebar mata untuk liat kondisi saat ini. Ayooo kamu harus bisa sekolah lagi fuuu!!! Di Indonesia atau luar negeri (huuu maunyaaaa itu maaah, Amin... ^^,) Sebenernya gak aneh sih bahwa di seminar kemarin dipenuhi lautan para cewek-cewek, yaeyaaalaaaaahh secara bidan dan mahasiswa bidan semua. Yang di Indonesia gak ada bidan COWOK, Hhaaa....

Seneng ketemu banyak dosen dan beberapa temen fu juga. Ada yang pangling katanya fu “langsingan”.Hohohoho.. sambil tersipu maluuuu.... >.< Nah, pas ketemu T’Ulek yang sekrang dapet kerja di salah satu RB di Jakarta, katanya ada seminar and workshop gitu yang diadain FKUI. Hwaaa.... langsunglah fu berbinar-binar. Secara fu ini penggila seminar dan paling hobi ngumpulin berbagai sertifikat. PLAK! Aseeelinya, fu paling suka da hadir di seminar, meski fu jarang nanya, tapi ilmunya itu lhooo... ^^, Nah, katanya acaranya bertajuk “BIDAN DAY”. Waaahhh.. dari judul ajah udah BIDAN BANGET. And jarang juga yaaa ada fakultas kedokteran yang ngadain acara yang pesertanya fokus pada satu profesi kesehatan aja, biasanya kan global. Secara univ yang ada di Bdg ajah mana ada yg bkin acara Bidan banget kalau gak sekolah kebidanan sndiri. >.<

Pas fu cba liat di fb terus meng-add nya, fu benar-benar langsung tertarik dan BERMINAT sekaliiiiii pada acara seminar dan workshop itu. Pokoknya harus bisa ngeluangin waktu tanggal 14-15 Mei buat pergi ke Jakarta. Insya Allah fu usahakan pas awal bulan April ndaptar ke sana. Karena dua hari, kek nya fu nginep di sana, meski masih belum pasti juga sih mau nginep dimana. Tapi T’Ulek udah berbaik hati akan menampung katanya kalau fu emang mau ikut itu seminar, dan juga ada saudara fu juga kok di daerah sana, katanya kalau dari rumahnya ke daerah Salemba itu Cuma 45 menit. Heuheu...

Segitu ajaaa kalii yaaa... Nani fu cerita lagi deeh.... ^^,



Surat Untuk Yabi -2-

Originally created by Fu

Sebuah surat terperangkap (lagi!)


Assalamu’alaykum wr wb

Yabi, bagaimana kabarmu? Aku hanya selalu berharap kau berada dalam keadaan yang baik, melalui beberapa tangkup doa yang selalu kuhantar untukmu. Agar Allah senantiasa menjagamu, melancarkan segala urusanmu, juga memberkahi setiap jejak langkahmu.

Yabi, sudah lama rasanya kita tak bertutur bersama meski hanya sekadar berdebat jumlah bintang di langit malam ini. Atau juga menerka-nerka bentuk rembulan mulai dari sabit hingga purnama lagi. Atau juga menikmati sajian langit malam dengan diam tanpa komentar sama sekali. Tapi tahukah kamu bahwa dari situlah kita sama-sama menyelam, memaknai yang kau suka dan tak dapat  aku rekam, merasai yang kusuka dan tak dapat kau tilam. “Aku suka, karena kau suka.” katamu pelan.

Yabi, aku lebih memilih untuk amnesia sejenak bila mencoba mengingat bagaimana aku mengenalmu. Seperti yang aku adukan padamu di suatu malam, bahwa aku masih saja belum mengerti bagaimana aturan perkenalan lelaki dan perempuan dalam Islam. Dimana aku tengah kebingungan diantara berbagai jawaban dan petuah, bahwa itu fitrah, bahwa itu lumrah, bahwa itu absah, dan berpura-pura tidak tahu bahwa itu cara jahiliyah. Tidakkah aku terlalu berlebihan bila nyatanya penjagaan pandangan, hati dan lisan telah tergantikan, oleh pesan mengudara yang sekenanya dikirim dengan alasan kekaguman. Tidakkah aku terlalu idealis bila nyatanya fakta itu datang dari mereka yang mengaku aktivis, yang berkoar teori toleransi logis, namun mengkonsumsi pil kewajaran overdosis. “Mari bersujud, karena hanya Allah lah yang mengetahui seberapa munafik hati kita.” katamu menitikkan air mata.

Yabi, aku tak pernah menyesal telah bertemu denganmu, melainkan berucap syukur bahwa Allah telah memberikanmu untukku. Seperti yang telah aku tuturkan, bahwa untuk meyakinkan keputusan padamu perlu kejernihan hati dan keluasan pikiran, juga tak hingga istigfar pada niat dalam ketulusan. Dimana aku harus menjelaskan pada bunda bahwa yang berjanggut tipis bukan berarti fanatik atau bahkan teroris, yang bercelana bahan bukan berarti tak punya celana jeans melainkan sebuah kesederhanaan. Tidakkah aku terlalu aneh bila nyatanya yang tampak sempurna tak aku toleh. Karena yang tampan berbalut kebanggaan hanya akan mencintaiku diwaktu muda, yang kaya berbalut kesombongan hanya akan menganggapku sebagai beban nafkah saja. Tidakkah aku terlalu fanatik bila nyatanya yang tampak baik tak aku lirik. Karena yang bangsawan berbalut warisan hanya akan memajangku layaknya boneka, yang bergelar dai berbalut sorban hanya akan merebutku dari Allah pemilik jiwa. “Mari bersujud, karena hanya Allah lah yang mengetahui seberapa rendah derajat kita.” katamu menitikkan air mata.

Yabi, mungkin aku yang terlalu menuntutmu sempurna, untuk menjadi suami, ayah, kakak atau terkadang adik yang manja. Seperti yang sudah kau tahu, bahwa aku tak terlalu mengerti dan memahami jalan pemikiran kaummu, mungkin karena aku tak pernah berani bertanya pada ayah seperti apa lelaki yang baik itu. Bahkan sampai saat ini aku tidak memahami apa hubungan lelaki dan  buaya, karena sepanjang hidup aku disuguhkan penampakkan seorang lelaki seperti ayah yang begitu setia. Tidakkah aku terlalu pemilih bila nyatanya untuk menantimu itu terkadang membuat tubuhku letih atau berjalan tertatih, hanya berbekal nasihat bunda yang berpesan lirih, “Hati-hati pada lelaki yang menyebar jaring pada beberapa wanita, lalu di suatu saat memilih yang paling pas menurutnya. Jangan percaya pada lelaki yang mengobral janji, karena lelaki yang baik itu adalah yang memikir berkali-kali segala konsekuensi, yang memilih diam dalam kesabaran, atau berani membuat keputusan, dengan jalan yang Allah halalkan serta rasul teladankan.” Tidakkah aku terlalu keras kepala bila nyatanya memilihmu tak semudah yang aku kira, karena perlu keselarasan hati, pikiran dan jiwa, hanya berbekal nasihat ayah yang berpesan secara seksama, “Lelaki shalih itu banyak jumlahnya, namun yang terbaik untukmu hanya satu saja. Oleh karena itu jangan tergesa-gesa membuat keputusan, jangan pula mengulur-ngulur keputusan hanya karena perasaan. Karena wanita yang baik itu adalah yang tak mendahului ketetapan Tuhan, yang memilih malu mengungkap fitrah perasaan, atau menerima dan memutuskan.”

Yabi, maafkan aku yang mungkin telah menyakiti hatimu karena ketidaksesuaian penempatan perasaan. Aku hanya ingin memastikan bahwa kaulah cermin itu, yang tak hanya memantulkan penampakkan, namun bersama mengadakan perbaikan. Aku ingin meyakinkan bahwa kau memang memilih segala kekuranganku. Tidak karena parasku, tidak karena penampilan luarku, tidak karena profesiku, tidak karena apa yang orang bilang tentangku. Karena selain komunikasi, yang penting dalam sebuah pernikahan adalah kepercayaan dan kerelaan. -Kepercayaan untuk belajar mengenal tiada henti, karena pernikahan bukanlah akhir dari sebuah perkenalan, melainkan awal sejatinya sebuah pengenalan. Kerelaan untuk menerima segala aib diri, karena pernikahan merupakan kesediaan untuk saling menerima yang sebelumnya tak terdengar, terlihat, terraba, bahkan terrasakan, yang mungkin jauh dari segala impian. “Mari bersujud, karena hanya Allah lah yang mampu menyatukan, membimbing, serta menguatkan hati kita.” katamu menitikkan air mata.

Yabi, mungkin aku tak sepenuhnya menjadikan cinta sebagai alasan menikah denganmu, namun izinkan aku menjadikan pernikahan sebagai alasan untuk mencintaimu. Insya Allah...

Kemarin, Maret 2011
Menelisik embun yang tak ditemui fajar tadi

Tentang Hati

About my heart???

Fu sedang mencoba menata hati untuk gak mau terlalu memikirkan hal itu. Teralu sakit, terlalu ribet, dan terlaluuu bikin gak produktif. Hahaaa.... Yang utama tentunya takut dosa. Takut Allah gak Ridha, dan takut si setan senyam senyum karena fu ngagugulung masalah begituan. Ahhh, entahlah, mau PM yang masuk fb, sms atau apapun saat ini gak terlalu fu gubris. Rasanya ingiiiiin sekali saya menjadi orang biasa yang dianggap orang biasa saja. Ingin deh, para “mereka” ituh tahu kejelekan-kejelekan fu sehingga membuat mereka mikir-mikir lagi buat kagum lah ato apa laaahh. Astagifirullah.... kamu tuh ngaco yah fu, aib yang sudah ditutupi Allah malah ingin diketahui orang. Dosaaa tahuu!!! Ampun ya Allah... Cuma kadang fu ngerasa aneh banget yah jadi seorang fu. Kek yang gak bersyukur. Hmm... you know what I mean.... Gak bersyukur di sini lebih ke tak menghargai orang yang jelas-jelas tulus n ikhlas, malah ngarepin ditulusin dan diikhlasin ma yang laen. Dasar manusia yaaah, gak pernah puass!!! Astagfirullah...

Soal nikah mudaaa? Ohhh... itu tteup... haha, dasar penganut paham kebelet nikah. PLAK! Padahal mungkin aja sebenernya fu ini belum siap, secara masih kekanak-kanakkan beuuuuuuddd ya Allah... nanti gimana kalau nikah? Hmm... fu hanya ingin segera “tenang”, entahlah susah untuk diceritakan. Lagipula kalau soal nikah mah mama papa gak pernah ngelarang-larang harus umur segini lah segitu lah, dan lah lah lainnya. Cuma yaa sebenernya dari fu sendiri nya juga kek yang belum ngerasa sreg aja, kek ada yang masih mengganjal. Hwaa, masih ndak tega ninggalin keluarga fu...(emang kamu mau kemanaaa? PLAK!)

Hal yang paling fu ingini sekaligus takuti adalah ada yang MELAMAR, pLAK!!! Kalau di pelm pelm india ada yang nanya, “Mujhse Shaadi Karogi?” Alah...alaaahhh... PLAK!!! Saat ini gak ada tuh, hoho... seperti yang fu jelasin, kek nya fu yang terlalu idealis kali yaaaa... Heuuu.... sebenrnya ada rahasia yang ingin fu ceritakan, tapi ndak usah deeeh, Heuuu... Mudah-mudahan Allah beri yang terbaik saja. Aaahh, saya sudah cukup ndak mudeng dengan beberapa tawaran, “Fu, temen saya niat banget sama kamu, cuma katanya insya Allah pertengahan tahun, nyelesein kuliahnya dulu.” Lha!!! Yaudah aja selesein dulu, gak usah ngomong-ngomong atau janji-jani dulu, lagipula heran aku, kenal pun belum, tahu aja nggak, ehhh,, udah berani bilang kek gituuu, Hmmm... kalau di pelm-pelm sih yaa, fu udah ancem pake timpukan sendal. (Sadis amat, neng? Haha...) Yaaa cuma gak suka aja kali yaa sama tipe-tipe yang kek gitu, Haduuuuh itu namanya mendahului ketentuan Allah. Berani janji hal beginian itu RISKAN menurut Fu... alaaaah itu mah aku nya ajah kali ya yang emang BEBAL, hhoho...

Sekarang ini, fu menanti kejutan ajah dari Allah, apapun itu.... Karena fu senang kejutan-kejutan dari-Nya. Allah itu baiiiiiikkkkk banget. Meskipun ngasih rasa sedih, sakit, perih, tapi SELALUUUUUUU ajah ada hikmah dibaliknya, yang selalu juga membuat fu malu pernah rengek-rengek gak jelas, ngeluh nu teu pararuguh sama Allah. Tapi Allah gak pernah berpaling meski fu sering kali bikin Allah cemburu dengan mikirin hal-hal yang gak harus dipikirin. Astagfirullah... T_T

Sekarang ini mah, kalau ada apa-apa mending bilang ke Allah aja, minta sama Allah, kalau mau nangis sama Allah. Gak mau ngeluuuuuuuuuuh lagiih. Meskipun memang ada beberapa Teteh yang selalu menjadi tempat fu curhat, seperti tadi juga fu abis sms-an. Aahh... kepada siapa lagi, teman laki-laki? Tidak! Seorang kakak! Tidak! Fu hanya bisa menutupnya rapat rapaaaat sekali. Kalaupun curhat gak terlalu lebay seperti biasa, heu.... dasar yaaah kamu Fuuuu... PLAK!!!!

Hmmm....menikah ya? Belum kebayang juga. Secara fu adalah si sulung, wah, nanti gimana yah? Aaahahh...... sudaaah jangan dipikirkan, nanti ngayal macem-macem bkin setan seneng. Sekarang still wait my prince ajah... Ayo-ayo bersihkan hati. Bagi yang akan menikah, fu doakan semoga berkah yaaaa.... ^^,