Senin, 14 April 2014

Surat Cinta di Tahun Kedua Pernikahan

Origilly created by Fufu

Dua tahun lalu, jumat penuh bahagia yang ketibaannya kita tunggu bersama, selepas penuh keringat dan air mata kita alami berdua. Kau ikat aku dalam janji suci yang menggetar semesta, bahwa kedepannya empat kaki kita akan melangkah bersama. Masih ingatkah kamu, hari itu turun hujan begitu lebatnya di malam hari, mengiring berkah rahmat-Nya untuk kita berdua. Hari itu, tak kan pernah kulupa, hari dimana pertama kalinya seorang pria membuatku semakin mencintai-Nya.

Hari demi hari kita jalani status "terikat" bersama, konflik demi konflik kita lalui berdua; mulai dari canda tawa hingga air mata. Kisah kita tak selamanya bahagia, bahkan kau dan aku sama-sama mengalami keterasingan akan masing-masing. Aku benar-benar tak mengenalmu, seperti halnya kau yang benar-benar tak mengenalku. Mungkin sesekali kita merasa ingin hidup berdua selamanya, dengan dunia kita yang begitu indahnya. Namun, ada kalanya kau dan aku saling tak paham satu sama lain, sehingga boleh jadi pikiran kita sudah meliar merencanakan hal yang tak seharusnya. Ah Yabi... -itulah panggilan sayangku padamu, bahkan sebelum kita pernah bertemu... kala mengingat momen itu rasanya aku ingin berlari dan sembunyi, betapa aku tak paham akan perbedaan besar diantara kau dan aku.

Selalu ada yang membuatku ingin memperjuangkan apa yang telah kita sepakati bersama, kau tahu apa itu? Ya, persamaan-persamaan kecil yang kita miliki berdua; tentang cinta, tentang cita, tentang impian, tentang kegilaan pemikiran kita, tentang pantai, tentang dunia, tentangmu dan aku meskipun dalam ruang hampa yang kita lilini dengan hati kita. Ah, yabi... terlalu banyak puzzle-puzzle persamaan antara kau dan dan aku, yang tak lah sebanding dengan perbedaan besar kita yang ternyata sedikit saja. Yabi... terima kasih telah membuatku paham bahwa; persamaan dan perbedaan dalam pernikahan bukan untuk diperdebatkan, persamaan denganmu adalah kekuatan, dan perbedaan denganmu untuk saling mengutuhkan.

Mungkin kau terkejut akan segala tentangku yang terbuka begitu saja setelah menikah; aibku, kelemahanku, kekuranganku, dan masa lalu yang masih kusimpan dalm tubuhku, yang aroma sampah emosinya lambat laun kau cium dariku. Awalnya kukira kau akan berlari karena menghadapi kenyataan pahit dariku, namun kau peluk aku dan kau ajarkan aku untuk bisa mencintai diriku sendiri. Kau yang dengan setia, sedikit demi sedikit menyumbuhkan luka menganga yang hanya kututupi saja, bertahun lamanya. Yabi... terima kasih telah membuatku paham bahwa; sebelum kita memberikan cinta pada sesama, pastikan kita mencintai diri kita terlebih dahulu. Dengan menerima, mensyukuri, dan memaafkan segala masa lalu yang pernah diri lalui, agar Tuhan meridhai masa depan yang akan kita jalani.

Dengan menikah denganmu, aku merasa begitu menikmati hidup. Aku menjadi diriku sendiri, dengan segala impian yang selama ini berjejal di otakku. Kau tuntun aku perlahan, menuju setiap episode hidup yang menakjubkan; tentang passion,tentang karya, tentang kebermanfaatan, tentang pernikahan, tentang surga yang akan kita perjuangkan bersama. Yabi... terima aksih telah membuatku paham bahwa; suami dan istri yang baik adalah ia yang tak menuntut pasangannya berubah seperti orang lain, melainkan menuntun pasangannya menjadi dirinya sendiri, yang semakin baik setiap hari.

Yabi... membicarakan tentang kita tak pernah cukup untuk kurangkai dalam kata, bahkan dua tahun ini serasa begitu lama. Masih banyak rasa terima kasih yang kuucapkan padamu, tentang setiamu, tentang kesabaranmu, tentang kau yang begitu berjuang menjadi ayah yang baik bagi Emil kecil kita. Mungkin aku belum begitu sempurna mengenalmu, maka izinkanku untuk terus belajar memahamimu sampai akhir hayat kita.

Yabi... maafkan atas segala kekurangan dan kesalahanku selama ini, sebagai istri, teman, sahabat, partner, dan semua peranku terhadapmu. Izinkan aku terus belajar untuk semakin kau cintai, untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita, untuk menjadi partner terbaikmu, untuk menjadi apa yang kau selalu doakan atasku.

Yabi... terakhir, izinkan aku mengeja yang dua, bahwa; aku cinta.

Bandung, 6 April 2014



0 komentar: