Tampilkan postingan dengan label Ce-I-eN-Te-A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ce-I-eN-Te-A. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

Surat Cinta di Tahun Kedua Pernikahan

Origilly created by Fufu

Dua tahun lalu, jumat penuh bahagia yang ketibaannya kita tunggu bersama, selepas penuh keringat dan air mata kita alami berdua. Kau ikat aku dalam janji suci yang menggetar semesta, bahwa kedepannya empat kaki kita akan melangkah bersama. Masih ingatkah kamu, hari itu turun hujan begitu lebatnya di malam hari, mengiring berkah rahmat-Nya untuk kita berdua. Hari itu, tak kan pernah kulupa, hari dimana pertama kalinya seorang pria membuatku semakin mencintai-Nya.

Hari demi hari kita jalani status "terikat" bersama, konflik demi konflik kita lalui berdua; mulai dari canda tawa hingga air mata. Kisah kita tak selamanya bahagia, bahkan kau dan aku sama-sama mengalami keterasingan akan masing-masing. Aku benar-benar tak mengenalmu, seperti halnya kau yang benar-benar tak mengenalku. Mungkin sesekali kita merasa ingin hidup berdua selamanya, dengan dunia kita yang begitu indahnya. Namun, ada kalanya kau dan aku saling tak paham satu sama lain, sehingga boleh jadi pikiran kita sudah meliar merencanakan hal yang tak seharusnya. Ah Yabi... -itulah panggilan sayangku padamu, bahkan sebelum kita pernah bertemu... kala mengingat momen itu rasanya aku ingin berlari dan sembunyi, betapa aku tak paham akan perbedaan besar diantara kau dan aku.

Selalu ada yang membuatku ingin memperjuangkan apa yang telah kita sepakati bersama, kau tahu apa itu? Ya, persamaan-persamaan kecil yang kita miliki berdua; tentang cinta, tentang cita, tentang impian, tentang kegilaan pemikiran kita, tentang pantai, tentang dunia, tentangmu dan aku meskipun dalam ruang hampa yang kita lilini dengan hati kita. Ah, yabi... terlalu banyak puzzle-puzzle persamaan antara kau dan dan aku, yang tak lah sebanding dengan perbedaan besar kita yang ternyata sedikit saja. Yabi... terima kasih telah membuatku paham bahwa; persamaan dan perbedaan dalam pernikahan bukan untuk diperdebatkan, persamaan denganmu adalah kekuatan, dan perbedaan denganmu untuk saling mengutuhkan.

Mungkin kau terkejut akan segala tentangku yang terbuka begitu saja setelah menikah; aibku, kelemahanku, kekuranganku, dan masa lalu yang masih kusimpan dalm tubuhku, yang aroma sampah emosinya lambat laun kau cium dariku. Awalnya kukira kau akan berlari karena menghadapi kenyataan pahit dariku, namun kau peluk aku dan kau ajarkan aku untuk bisa mencintai diriku sendiri. Kau yang dengan setia, sedikit demi sedikit menyumbuhkan luka menganga yang hanya kututupi saja, bertahun lamanya. Yabi... terima kasih telah membuatku paham bahwa; sebelum kita memberikan cinta pada sesama, pastikan kita mencintai diri kita terlebih dahulu. Dengan menerima, mensyukuri, dan memaafkan segala masa lalu yang pernah diri lalui, agar Tuhan meridhai masa depan yang akan kita jalani.

Dengan menikah denganmu, aku merasa begitu menikmati hidup. Aku menjadi diriku sendiri, dengan segala impian yang selama ini berjejal di otakku. Kau tuntun aku perlahan, menuju setiap episode hidup yang menakjubkan; tentang passion,tentang karya, tentang kebermanfaatan, tentang pernikahan, tentang surga yang akan kita perjuangkan bersama. Yabi... terima aksih telah membuatku paham bahwa; suami dan istri yang baik adalah ia yang tak menuntut pasangannya berubah seperti orang lain, melainkan menuntun pasangannya menjadi dirinya sendiri, yang semakin baik setiap hari.

Yabi... membicarakan tentang kita tak pernah cukup untuk kurangkai dalam kata, bahkan dua tahun ini serasa begitu lama. Masih banyak rasa terima kasih yang kuucapkan padamu, tentang setiamu, tentang kesabaranmu, tentang kau yang begitu berjuang menjadi ayah yang baik bagi Emil kecil kita. Mungkin aku belum begitu sempurna mengenalmu, maka izinkanku untuk terus belajar memahamimu sampai akhir hayat kita.

Yabi... maafkan atas segala kekurangan dan kesalahanku selama ini, sebagai istri, teman, sahabat, partner, dan semua peranku terhadapmu. Izinkan aku terus belajar untuk semakin kau cintai, untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita, untuk menjadi partner terbaikmu, untuk menjadi apa yang kau selalu doakan atasku.

Yabi... terakhir, izinkan aku mengeja yang dua, bahwa; aku cinta.

Bandung, 6 April 2014



Selasa, 06 November 2012

Narasi Pernikahan ; Teruntuk Teh Rayi & Kang Panji

Originally created by Fu

Rekam jejak yang terhampar telah mereka susuri dengan tertatih. Lelah yang melanda, tak mampu menjadikan sepasang hati yang telah terpisah sekian lama menyerah. Mereka percaya, suatu saat akan ada masa dua hati mereka berlabuh di dermaga yang tepat. Mengumpulkan serak-serak rindu yang terurai hampir seperempat abad lamanya. Dengan cara istimewa, dengan jalan yang disukai Tuhan dan Rasul kita.

Hujan telah menjadi saksi mereka menimba asa sekuat tenaga. Perih yang mendera seluruh tubuh, pikiran dan rasa, ternyata tak mampu menggoyahkan yakin dalam diri, bahwa Tuhan Maha Segala. Sesekali mentari hantarkan senyum yang membungkus mereka pada cahaya-cahaya cinta, kemudian membuat dua hati itu tersipu akan segala rencana-Nya. Hujan dan mentari, yang menyisikan pelangi untuk mereka tepat pada masanya.

Garis takdir selalu bersinggungan. Mudah bagi Tuhan, menghantarkan sepucuk rindu di hati yang satu untuk hati yang lain. Mudah bagi Tuhan, menyalakan pendar cinta di hati yang satu pada hati yang lain. Mudah bagi Tuhan, menyelaraskan impian di hati yang satu untuk digapai berjamaah dengan impian di hati lain. Hingga mereka menyadari; bahwa segala persamaan diantara mereka, bisa menjadi sumber energi untuk mencapai langit bersama; dan segala perbedaan diantara mereka, menjadi percikan impian yang akan menghias langit berdua.

Mereka yang telah percaya, bila telah sampai masanya, semesta pun kan turut bahagia menghantarkan sajak dengan sukarela:

duhai dua hati yang mencinta,
rindu telah kau jemput dengan jumput cahaya
dalam derai air mata, sempurna
lukislah langit dengan tangan yang saling bergenggaman

duhai dua hati yang menyatu,
senyum telah kau peroleh dengan kerling embun
dalam sesak yang menahun, mengalun
gapailah langit dengan sujud kalian yang berjamaah

duhai dua hati, selamat
doa tulus terhantar untukmu
sepasang insan Tuhan yang tertakdir bersama;
Feny Renita dan Panji Gugah Baskara.

Barakallahu lakuma wabaraka ‘alaykuma wajama’a bainakuma fii khaiir…

Bandung, November 2012
Foezi Citra Cuaca Elmart

Selasa, 16 Oktober 2012

Menikahlah Bukan Karena Masa Lalu

Originally created by Fu

Banyak orang yang bertanya pada saya, kenapa saya bersedia menikah dengan seorang Ikhsanun Kamil Pratama. Katanya, kenapa saya yang tidak pernah pacaran sama sekali mau menikah dengan orang yang pernah pacaran berkali-kali seperti dia. Katanya, mengecewakan sekali saya yang bisa menjaga diri dari hal yang Allah larang itu, namun mau menikah dengan orang yang justru pernah melakukan hal tersebut. Katanya inilah, itulah. Mereka bertanya kenapa rasanya tidak sekufu atau apalah pandangannya.

Saya hanya tersenyum menanggapinya, kemudian hanya akan berkomentar bahwa saya tak pernah merasa salah menikah dengannya, menikah dengan lelaki paling baik yang pernah saya temui. Rasanya sombong sekali bila menyesalinya, karena hal ini sudah menjadi takdir dan kehendak Allah SWT.

Bagi saya, masa lalu setiap orang tak pernah menjadi patokan yang utama. Setiap orang berhak untuk memiliki masa lalu yang buruk, namun setiap orang juga berhak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Setiap orang berhak memiliki masa kini yang  lebih baik dan masa depan yang lebih baik lagi, dibanding masa lalunya, karena memang itu adalah suatu keharusan.

Dari dulu saya paling tidak suka “judgemental” pada orang, apalagi bila saya belum mengenalnya. Maka meskipun dari dulu prinsip saya tidak mau pacaran, saya tidak mau untuk merendahkan orang-orang yang memang berprinsip seperti itu. Bahkan saya dekat dengan mereka, banyak teman saya yang pacaran namun justru sering curhat sama saya perihal hubungan mereka. Lucu memang, orang yang tidak pernah pacaran sama sekali sering jadi tempat konsultasi banyak orang perihal seperti itu. Bagi saya, hanya ada satu Dzat yang berhak menghakimi apakah seseorang shaleh/shalehah, apakah dia lebih baik atau tidak satu sama lain, yaitu Allah SWT. Saya tidak boleh merasa diri saya lebih baik dari orang lain sedikitpun, padahal boleh jadi dosa-dosa saya jauh lebih besar dibanding mereka yang dianggap tidak shaleh/shaleha.

Rasanya predikat shaleh/shaleha yang dicap manusia itu justru menjadikan suatu beban, karena toh predikat itu sebenarnya didapat saat kelak di akhirat, saat kita bisa bertemu dengan Tuhan dan Rasul kita. So, jangan salahkan orang yang pacaran bila kita sendiri hanya berdiam diri, jangan merasa lebih baik dari mereka, karena boleh jadi amalan wajib dan sunnah kita tak pernah lebih baik dari mereka. Boleh jadi kita memiliki banyak lumbung dosa yang lain dibanding mereka. Teman seperti itu perlu dirangkul, bukan untuk dihakimi, karena boleh jadi mereka masih melakukan hal tersebut karena mereka tak tahu, ya karena mereka tak tahu, dan tugas kita sebagai orang terdekat yang mengingatkan.

Menikah itu bukan mempermasalahkan seberapa buruk masa lalu seseorang, namun seberapa banyak ia belajar dari masa lalunya, mengambil hikmah dari masa lalunya, yang menjadikan pribadi masa kini yang lebih baik. Menikah itu masalah seberapa kuat dan yakin seseorang untuk mengukir masa depan yang lebih baik, bersama pasangan yang Tuhan takdirkan untuknya.

Dulu sebelum menikah, suami saya seringkali merasa ia tak pantas dengan saya, katanya : “Kalau dosa beraroma, maka kau tak akan mau menikah denganku.” Kemudian saya juga jawab : “Dan kalau memang dosa beraroma, maka kamu pun lebih tak mau menikah denganku.” Saat itu ia kemudian menitikkan air matanya. No! saya tidak mau merasa bahwa diri saya begitu suci dengan tidak pernah pacaran, bahwa saya harus menikah dengan orang yang tidak pacaran juga. Sungguh terlalu dangkal apabila pemahaman keadilan manusia yang jadi patokan, karena terkadang keadilan Tuhan itu bahkan tak bisa dicapai nalar manusia, bahkan keadilan Tuhan seringkali dianggap suatu ketidakadilan bagi manusia. Nah, boleh jadi mungkin suami saya memiliki dosanya yang pernah pacaran, namun itu telah terhapus dengan segala amalan baiknya, taubat nasuha yang ia lakukan. Boleh jadi juga, meskipun tak pacaran namun dosa saya berlumur dari ranah-ranah lain, yang terkesan tak terlihat, karena hanya diri saya sendiri dan Allah yang mengetahuinya.

Ah, saya hanya terlihat begitu baik karena Allah yang telah menutupi aib-aib saya. Allah yang Maha Baik yang masih menjaga kehormatan dan harga diri saya di depan orang lain. Bila Allah berkenan, sangat mudah baginya untuk membongkar seluruh aib dan dosa saya selama ini. Saya menikah dengan seorang Ikhsanun Kamil Pratama, karena Allah yang memantaskan kami untuk saling menjadi cermin, saling melengkapi untuk memperbaiki diri. Maka, untukmu yang akan menyempurnakan separuh agama, menikahlah bukan karena masa lalu yang jadi patokan utama, namun menikahlah dengan ia yang mampu mengambil hikmah untuk memantaskan diri di hadapan-Nya, menjadi pribadi yang lebih baik, di saat ini dan seterusnya. Menikahlah dengan ia yang mau bergerak bersama menuju perbaikan tanpa henti, hanya demi ridha Illahi rabbi.
Masa lalu adalah suatu pembelajaran, masa kini adalah kehidupan, dan masa depan adalah harapan. Nikmati dan syukuri setiap prosesnya. Wallahualam :)

Menikahlah bukan karena masa lalu, namun menikahlah karena Allah sang pemilik masa :) 
Bandung, 16 Oktober 2012

Senin, 08 Oktober 2012

A Letter for My Husband, Ayabi :)

: untuk Ayabi

Assalamu’alaikum wr wb

Apa kabar Yabi? Tak apa kan bila kutanya kabarmu, sayang? Meski baru dalam hitungan detik, menit dan jam yang belumlah seberapa raga kita tak bersapa. Namun rinduku padamu tak kan pernah sirna; ia siap mengejawantah di hatiku, meski baru kau tinggal dalam hitungan detik saja. Tak kuhantar cinta untukmu, karena ia senantiasa mengalir tanpa henti dari hatiku, tanpa harus diperintah sama sekali. Tak lah apa, bila ia tak sebanding dengan cinta-Nya, yang bahkan setetes saja berwujud nikmat tak hingga, melebihi nikmat kautsar yang belum kita rasa. Tak lah apa, kan sayang? Karena cinta bagiku telah menjelma menjadi semua tentangmu, dalam pendaran cahaya-cahaya yang bertahta di hatiku, karena-Nya, Tuhan kita yang menyeluruh Maha.

Entah mengapa ini menjadi surat tersulit yang pernah kutulis, tak seperti sebelumnya saat aku belum mengetahui siapa keberadaanmu sebenarnya, kata-kata mengalir begitu saja, berbeda dengan sekarang, sayang; karena bahkan aku tak mampu mengatur rima jentik jemari sembari menghapus tetes air mataku yang turut mengiringi. Betapa rangkai aksara tak mampu menampung bertumpah cinta yang mengalir untukmu.

Yabi tersayang, hari ini tepat 6 bulan dari peristiwa dimana kau telah berikrar pada Tuhan kita, bertutur pada semesta hingga mengguncang Arsy-Nya, bahwa kau menjadikanku bidadari bumi yang akan menemanimu; menetapkan atas titah sang Maha bahwa aku adalah pasangan yang memang tertakdir untukmu. Segala puji bagi-Nya, Allah yang Maha suci telah mempermudah proses yang selama ini kita jalani, dalam kesabaran yang seringkali membuat kita melelah keringat dengan haru yang mendalam, dalam ketaatan yang meliputi yakin bahwa Tuhan akan mempersatukan hati kita tepat pada waktunya. Masih terekam hangat dalam memoriku, saat kemarin itu, di mana pertama kalinya kening ini dikecup, oleh seorang pria yang memiliki senyum tersumringah di hari itu, yaitu dirimu.

Mungkin terasa janggal saat orang-orang mengira usia pernikahan kita masihlah ranum, sementara kita berdua sepakat bahwa hitungan 1 bulan seperti 1 tahun rasanya, hitungan 2 bulan seperti 2 tahun rasanya, dan pada bulan ini di hitungan 6 bulan, terasa sudah 6 tahun aku menjadi seorang isteri dari suami terbaik sedunia. Iya Yabi, rasanya tak berlebihan aku berkata begitu, karena memang itulah yang aku rasakan.

Rasanya air mata papa yang menetes saat harus melepas anak perempuan pertamanya tak pernah sia-sia, karena ia telah menitipkanku pada pria yang paling tepat. Tak pernah aku temukan sebelumnya sosok pria yang begitu sabar menghadapi aku, mendengar setiap keluhku, bahkan tak pernah sekalipun kau membentak untuk memarahiku. Tak pernah aku temukan sebelumnya sosok pria yang begitu lembut memperlakukan istrinya, penuh cinta; bahkan itu terlihat hanya dari binar matanya, dari lembut tatapanmu yang merona.

Membayangkan untuk mendapat suami dengan sosok sempurna sepertimu saja aku tak pernah, Yabi; dengan segala kekuranganku yang kau tahu tak mampu dihitung satu persatu. Aku hanya ingat bahwa aku selalu berdoa: “Ya Allah, berilah hamba sosok suami yang bisa membimbing hamba untuk semakin mencintai-Mu.” Kemudian Allah memberiku dirimu, yang sangat melebihi ekspektasiku. Perkenalan kita yang memang tak lah lama menguatkan prinsip kita bersama, bahwa pernikahan merupakan awal dari perkenalan sebenarnya.

Semakin mengenalmu hari-hari ini semakin berwarna ceria, rasanya dunia begitu lebih indah; melalui cerita-ceritamu tentang ilmu sains Sang Maha, melalui buku-buku yang kau rekomendasikan untuk kubaca, melalui kemanjaanmu yang selalu saja membuatku gemas dibuatnya, juga melalui air mata kita yang tumpah bersama selepas kejatuhan sujud kita.

Senja semakin memesona saat setiap sore kita syukuri tak hanya berdua, melainkan bersama calon buah hati kita; yang selalu kau kecup melalui perutku, yang selalu kau ajak berbincang dan tertawa, yang begitu kau khawatirkan keberadaan pertumbuhan dan perkembangannya. Ah, yabi, di usiamu yang masih begitu muda, kau telah menjelma sosok pria yang sempurna; suami yang memperoleh cinta utuh dari isterinya, dan (calon) ayah yang menghantari cinta menyeluruh pada anaknya.

Kata-kata tak cukup mendeskripsikan tentang kita, namun biarlah aku mencoba menyulamnya sedikit saja, agar sejarah setidaknya tahu bahwa pernah ada sulaman cinta yang ikatan benangnya begitu erat, antara seorang aku dengan dirimu, my lovely husband.

6 bulan berlalu rasanya sudah 6 tahun bersamamu, Ayabi.
_Bundami

6Okt'12



: the first time when a man touch me

Kamu, ah aku cinta!

Originally created by Fu

Kamu, berkilau dalam gelap yg menyelimuti hingga ratusan hari. Sementara aku menikmati mentari dengan sembunyi-sembunyi, sedikit enggan menjadikannya puisi lagi.

Kamu, berjelaga dalam ruang sempit sesak udara tak berjendela. Sementara aku menghela banyak udara tanpa makna, tak lagi menjadikannya diksi yang istimewa.

Kamu, bernyanyi dalam desiran bebunyi yg bernadi. Sementara aku mengacuhkan nada cinta yang sulit kumengerti, seringkali menyerah untuk menjadikannya prosa yang memelodi.

Kamu, serumit apapun aku mendefinisikan keberadaanmu yang masih rahasia, kau tetap yang istimewa, seistimewa ayabimu, ikhsanun kamil pratama.

Kamu, ah, aku cinta.

Bandung, 25 Sept 2012

Ah, Cinta lagi!

Originally created by Fu

Berderap aku melangkah dalam setiap tawa yang menjajah dunia, dalam setiap bahagia yang menyayat jiwa, dalam setiap bisik yang terlontar dari bibir-bibir palsu penghantar cinta; katanya, hidup hanyalah setitik elegi yang tak lah sebanding dengan alam baka nanti, sementara kehidupan sendiri yang telah membuatkan mereka berbagai wajah serupa; agar setia mencintanya, terlena dalam api-api berbau surga.

Berderai aku dalam setiap sujud yang penuh pinta khusyu', dalam sedih yang melantun lagu, dalam pasrah yang memaksa diri tak lagi mampu; katanya, mati itu hanya berupa perdebatan sekarat ataukah nikmat, sementara memori tentangnya telah membuat setiap mereka bertopeng melupa dunia; agar terkesan mempersiapkannya, terarah pada jalan-jalan kanan yang menyimpang kiri pada akhirnya.

Tuhan, ajari kami; apa itu tawa dan tangis sesungguhnya, bukan karena mati apalagi dunia!

Ah, keduanya Cinta pada fitrahnya!

Bandung, 13Juli 2012

Hujan; Aku, Kamu dan Kita

Originally created by Fu

Bisakah meminta waktumu sejenak?
Ingin sekali kuuntai kata tentang hujan di luar sana; yang menderma cinta, dalam siuet senja yang selalu saja kita rindukan ketibaannya; yang mengemas cinta, dalam embun pagi yang menyublimkan hati kita pada cahaya dunia; yang menghias cinta, dalam pendar purnama yang membersamai gemintang untuk segera mempertemukan kita.

Berkisahlah hujan tentang rentang abad yang telah memecah segala benar dalam berbagai teori, tentang kelahiran, kehidupan, kebahagiaan, kesedihan pun sampai kematian. Tariannya di saat sore selalu saja menerbitkan senyum anak-anak yang berceloteh di teras rumah, memaksamu untuk mengingat bahwa kamu pun begitu merindukan masa itu, iya kan? –saat dunia hanya berupa wujud permainan dadu, yang kita lempar, kemudian maju atau mundur, dan setelahnya berlalu.

Rintik hujan kemudian menggandengmu dalam sajak pilu yang terdeklamasi, di setiap petang, mungkin selepas kau melepas setiap peluh dengan tegukan air yang membasahi kerongkongan. Selalu saja ia terus bertalun tentang rindu, tanpa henti, seakan detik begitu lama berganti, meski acap kali kita tersadar bahwa waktu tak mau berkompromi untuk terus melaju, menuakan kita pada usia yang belum semestinya, benar kan? –ketika lorong mimpi tak lagi serupa balon udara beraneka warna, karena terlalu mengangkasa, dan tangan kita tak jua mampu meraihnya.

Saripati hujan lalu bermuara pada langit-langit kamarmu yang telah tampak aus seperti tak berpenghuni, di malam hari, yang selalu menjadi saksi setiap bulir air mata teruntuk Tuhan kita. Malaikat selalu membersamai dan mengamini setiap pinta kita yang melulu itu-itu saja, meski selepasnya kemudian tak ayal membuatnya murka atas tingkah kita. Sementara bias hujan telah kembali mengudara, dan kamu pun berkaca pada lensa dibalik jendela, begitu kan? –Di mana seberkas cahaya berbinar dalam rupa seorang pencinta yang senantiasa bersenandung lirih, meski tak pernah fasih dalam mengeja makna dunia dengan kesendiriannya.

Yakinlah bias hujan kan berhenti bermuara di suatu masa, karena ia pun mengerti akanmu, dengan mempersilakan pelangi berbagi senyuman dan cahaya; meski ia kan kembali, walau sekadar mencipta bau tanah basah yang mengaroma pagi, atau menerbit aku dan kamu menjadi kita, pasti.

Bandung, 31 Mei 2012

:Teruntuk yang senantiasa istiqamah dalam penantiannya, semoga Allah permudah untuk menggenap separuh agamanya.

Secarik Puisi Lisan

Originally created by Fu

Mendulang asa dalam bias-bias purnama yang menjelagakan hati kita pada bahtera yang berdinamika, tak kan mampu kutempuh tanpa Tuhanku yang Maha mencinta

Merangkai mimpi dalam sudut-sudut sabit yang memanjakan kita pada air mata haru dan bahagia, tak kan mampu kutempuh tanpa doa malaikat yang selalu menjaga

Menggenggam dunia dalam rangkaian pahala, tak kan mampu kuraih tanpa bersamamu, Ayabiku tercinta, Ikhsanun Kamil Pratama

Bandung, 13 Mei 2012
*tiba2 Yabi nyuruh bikin puisi tapi lisan, ini dbuat kurg dari 5menit, groginya itu lhooo... :D

Karena Cinta


Originally created by Fu

karena cinta serupa mozaik senja yang memendar warna pada kanvas sang Maha, maka biar ia menjelma darimu yang sederhana...

karena cintaselaik embun pagi yang membulir bening pada kasih sang Maha, maka biar ia menetes darimu yang bersahaja...

karena cinta adalah kamu, biar ia bersanding selalu di pelaminan hatiku, sebagai seorang Ikhsanun Kamil Pratama...

Bandung, 23 April 2012

Demi engkau, sebuah nama yang Tuhan jaga

Originally created by Fu

demi engkau, sebuah nama yang Tuhan jaga…
penantian bukanlah suatu hal yang menyesakkan, melainkan sewujud rindu yang memahkotakan senyuman…

demi engkau, sebuah nama yang Tuhan jaga…
kesabaran bukanlah menantimu untuk menyatakan cinta, melainkan menanti Tuhan meleburkan kau dan aku dalam cinta-Nya…

demi engkau, sebuah nama yang Tuhan jaga…
aku tetaplah utuh sebagai seorang munfarid, hanya hingga restu Tuhan tercipta untuk  berjamaah denganmu…

engkau, sebuah nama yang selama ini Tuhan jaga; yang kurangkai dalam  setiap memori yang terdistorsi selama ini, yang meluputkan sejenak ingatan pertemuan kita sebelum terlahir ke dunia...

engkau, sebuah nama yang selama ini Tuhan jaga, Ikhsanun Kamil Pratama.

"Jikalau Muhammad adalah buah kesabaran seorang Khadijah, jikalau Ali adalah buah kesabaran seorang Fathimah, maka tak bolehkah Ikhsanun Kamil Pratama adalah buah kesabaran seorang Foezi Citra Cuaca Elmart.”

this is blog of my husband: ikhsanun.blogspot.com

Kado Puisi dan Narasi Pernikahan Fu & Canun

Originally posted by Fu

Saya menyukai tulisan dan selalu menyukai puisi, prosa, rangkaian kata-kata yang terbentuk menjadi kalimat yang indah, puitis dan romantis. Hal itu pula yang membuat saya juga selalu sangat mengapresiasi sebuah kado ataupun penghargaan dalam bentuk tulisan. Inilah beberapa kado pernikahan yang saya minta buatkan dari teman-teman saya, yang lihai sekali dalam menerjemah dan merangkai sastra. Ada yang memberikan saya dan suami narasi pernikahan, ada pula yang memberikan saya dan suami puisi pernikahan. Meskipun saya juga senang mendapatkan kado-kado dalam bentuk barang, juga doa-doa yang tak ternilai, namun saya menempatkan kado-kado berupa tulisan ini sangat istimewa sekali di hati saya. Terima kasih untuk semuanya, insyaAllah kado ini akan hadir di buku saya selanjutnya, setelah buku "Menikah Itu Mudah". ^_^

Pertama, kado dari Bezie Galih Manggala, sebuah narasi pernikahan yang dibacakan setelah akad berlangsung
***
Narasi
: Cuaca, Kamil

Suatu esok, ada masa di mana setiap sentuh genggam meluruhkan dosa-dosa kita yang menyelaksa; menyepuh setiap bulir air mata yang menjama’ah doa; menggantinya dengan cinta, menyamudera.

Suatu esok, ada masa di mana setiap kerling matamu yang memanja meneduhi jiwa; menangkap binar cinta tanpa rentang lama; memuncakkan setiap bahagia, memesona.

Suatu esok, ada masa di mana pena kita menari menggoreskan tinta berdua; mengisahkan asma-asma memahadaya; merangkum madani akan semesta, mencahaya.

Suatu esok, di teriknya kilau mentari, gelitik rinai hujan, pendaran bias pelangi, hingga pejaman gulita; kaki-kaki kita tetap jenaka melangkahi bayang jejaknya, menuju taman surga, selamanya.

:demi suatu esok itu, bersabarlah cinta.

- Foezi Citra Cuaca Elmart. "Suatu Esok."

Membicarakan narasi, tentulah ia diawali rekam jejak-perkenalan; semacam serapan cahaya rembulan pada punggung malam yang pertama; yang menandai suatu pagi dimana semesta tidak akan pernah lagi menjadi sebagaimana, pengap seperti sebelumnya; tak lagi gelap terlelap, awam temaram; tak lagi selamanya senyap; hingga pagi akhirnya pun datang, menerbitkan terang yang sesekali benderang, meski terkadang masih tampak remang.

Bagi Fu dan Canun, mungkin pagi pada narasi mereka, lahir pada suatu hari itu; pada sebuah ruang dimana ilmu beredar mencipta benang-benang takdir, sebuah seminar dan training, yang tanpa disadari menghubungkan kedua mempelai kita hari ini. Takdir yang selalu berbisik pelan-pelan, perlahan menautkan, memperkenalkan; berawal dari sebuah pertemuan sederhana; yang berlanjut pada bincang-bincang tanpa rencana; tanpa disengaja membuka tabir tentang kesamaan visi dan cita-cita.

Entahlah, malaikat manapun tak pernah menyangka; dua insan yang berbeda sifat dan rupa; telah secara rahasia dipertautkan oleh yang maha Berencana.

Sang Ksatria, Ikhsanun Kamil Pratama, adalah sesosok pemuda yang menyembunyikan potensi luar biasa; meski dirinya memiliki ide-ide yang, dalam bahasa anak muda hari ini, "ide-ide gila"; tidak biasanya ia berbicara, apalagi membaginya kepada orang yang baru saja dikenalnya.

Tapi bidadari ini berbeda, mungkin begitu adanya; nyatanya impian-impian yang membuat 'canun' luar biasa, terlantun begitu saja; menyapa lembut pendengaran Fu, Foezi Citra Cuaca Elmart lengkapnya, dan terasa sebagaimana mimpi yang selama ini pula terpendam dalam benak terdalamnya.

Ya, ternyata keduanya memiliki kesamaan; sama-sama merasakan bahwa, mengabdi kepadaNya berarti menjaga dari hal-hal yang tak diridhai; yang juga berarti menjaga diri, dan menikah muda!

Adalah mimpi, yang perlahan tumbuh menjadi, pondasi-pondasi niat dalam hati; pada sepasang muda-mudi, yang telah lama mencari, makna dari terciptanya diri.

Adalah mimpi, yang terucap sebagai janji, bahwa hidup ini bukanlah sekedar untuk dinikmati; hidup berarti mengabdi, kepada Tuhannya semesta dan diri.

Hingga tak lama akhirnya, Fu dan Canun memutuskan untuk menautkan dua mimpi yang saling menopang, bergenggaman; melangkah bersama berdua menantang, bersamaan. Tak mau berlama-lama menjaga rasa yang tak semestinya, mereka akhirnya sama-sama berani berkata; "halalkan saja!"

Meski barang tentu, sebagaimana seharusnya; mimpi tak bisa seenaknya saja meracau, menabrak-nabrak kenyataan yang ada; mana bayarannya? Ada perjuangan yang harus ditempuh. Berbulan-bulan do'a dan air mata, yang tak lepas dari cibiran dan prasangka yang tak sedap menderap telinga, menyesaki hati dengan luka-luka yang tak kasat mata.
Ada pula coba dan dera; masalah yang tak diduga-duga; tidaklah mudah meninggikannya, sebuah menara cahaya ditengah terpaan arus dan samudera.

Namun keduanya tegar, berjuang agar pesan mereka tersebar; bahwa niat mereka paripurna, bahwa langkah yang mereka ambil matang dan dewasa; bahwa keputusan ini adalah tentangNya! Tentang Dia yang mencipta dengan cinta. Tentang narasi cintaNya!

Hingga akhirnya semesta tunduk, atas titahNya.
Narasi ini tak sempurna; ya, tak seperti kisah mereka yang begitu lengkap dan bahagia. Perlu lebih dari ribuan malam membicarakan langkah-langkah juang mereka berdua; semesta turut berbicara, ribuan kekata; tapi cukuplah hari ini kita sama-sama berdo'a; "Barakallahu lakuma, wa baraka alaikuma, wa jama'a bainakuma, bikhair."

- Bandung, 5 April 2012.
Dibacakan di Majalengka, 6 April 2012


Kedua, puisi dari Teh Henny Hasan dan Teh Hesty Wahyuningsih, dua sahabat maya saya yang sangat saya sayang karena Allah...
***
Kata-kata menyempurnakan dirinya menjadi kalimat
: puisi cinta.

Pada kesederhanaan hati semua bermula. Sebuah ruang yang akhirnya memiliki penghuninya sendiri.

Selamat pagi, pengantin.
Ada embun dan ranting-ranting basah yg turut mendoakan, semoga keberkahan melimpah di setiap langkah. Dari hari ketika kalian memilih jalan sama yg searah, hingga kalian tak lagi mengenali apakah waktu masih menyertai dunia ataukah musnah.

Selamat siang, pengantin.
Semoga kalian tak lekas lelah ketika terik memenuhi hari. Kami berharap, kisah yg kalian tuliskan adalah tentang sepasang sayap yg tetap gagah mengepak.

Selamat malam, pengantin.
Datangnya gelap akan menutupi benda dari pandangan mata. Begitu pun dengan kalian, akan menjadi penjaga rahasia satu sama lain.

Selamat bagi kalian, pengantin.
Selamat menikmati cinta.
Semoga kelak lahir kebaikan-kebaikan dari keduanya dan bahagia selamanya.

***

Ketiga, dari sahabat saya, seorang dokter muda lulusan UGM, yang anomali dan penyuka sastra dan puisi, Aditya Putra Priyahita
***

barisan puisi tertunduk takzim pagi ini
menyambut hangat mentari selepas deras malam tadi
merasakan gemulai embun merengkuh daun-daun
teriring kicauan langit buncahkan rasa lama terpingit
dan kuncup asa bermekaran jadi bunga


pagi ini adalah mitsaqan ghaliza
tempat dua anak manusia berikrar setia
bukan pada cinta, hanya Pencipta saja
satu kayuh berdua satu layar bersama
bukan untuk dunia, tapi menuju ridha-Nya


hari ini sebuah janji menjelma prasasti
dan mimpi sedari dini telah disulap hakiki
lunas jua berjuta doa berbumbu air mata
yang dieja cakrawala setiap langit beranjak senja


maka pada haru yang menderu
tak henti dzikir mengalun merdu
maka untuk tangis manis tak lagi mengiris
cinta untuk-Nya tak kan berkurang walau seiris
maka dari syukur pengantar simpuh terpekur
ketaatan berdua kian nian bertambah subur
karena bahagia tak bisa dikata seribu bunga
maka biar lelah dalam dakwah yang melukiskannya


pagi ini sebuah tulang rusuk kembali ke tempatnya
lalu aku dan kamu dibelai cinta menjadi kita
maka bertamhid seluruh penjuru dunia
karena langkah perjuangan kan meraksasa
dan bersama kita hela tiap detik wangi surga

selamat berjuang tuan dan nyonya...
Pacitan, 8 April 2012

***

Terima kasih untuk semuanya, yang telah mengirimi kami dengan doa tulusnya. semoga Allah yang Maha Segala membalas yang terbaik untuk semuanya. semoga kami juga tetap istiqamah di jalan sunnah para Nabi ini. Membangun peradaban, beralih dari munfarid menjadi berjamaah. Amin...
Mohon doanya juga ada beberapa buku yang sebentar lagi terbit, juga beberapa yang sedang kami garap bersama lagi. InsyaAllah target 10 buku dari kami berdua terbit tahun ini. :)

Menantimu, cinta!

Originally created by Fu

Rintik-rintik manja, berderma setiap sore; mengisahkan tentang kau dan aku yang merindu dalam rentang kota, menyelaksa...

Rintik-rintik manja, berbincang setiap petang; menghangatkan mimpi kau dan aku yang semakin hari kian buncah, menumpah...

Rintik-rintik manja, menjejak langkah; hantarkan bisik tak beraksara, bahwa aku masih di sini, menantimu, cinta.

Bandung, Februari 2012

Dalam dua purnama

Originally created by Fu

: untukmu, semesta

Dalam dua purnama dan sabit yang bergantian aku memandangimu seksama, dengan pendar cahaya yang mengamini tentangmu pada setiap doa. menangkap nebula-nebula cinta yang membadai mesra, berkelebat dalam asma-Nya, mengangkasa.

Dalam dua purnama dan sabit yang bergantian aku mendengarkanmu teliti, dengan sajak-sajak aksi yang kau rapal tanpa sepatah aksara yang membentuk puisi. menghembuskan elektron-elektron cinta yang mengelilingi inti hati, bergumul setia pada-Nya dalam janji, beretiolasi.

Dalam dua purnama dan sabit yang bergantian aku mengeja senyum dan peluhmu perlahan, dengan embun-embun yang membulirkan kita dalam semai impian. menjelagakan tirai-tirai cinta yang membersamai hujan, berderma keagungan Tuhan, kesempurnaan.

Dalam dua purnama dan sabit yang bergantian kita berdua menunggu, hingga saat itu; ketika purnama tenggelam dan sabit pun terdiam, ketika luas jiwamu menyemestai galaksiku, ketika dua pucuk rindu berbunga satu.

setelah dua purnama dan sabit yang bergantian saat itu kan datang; ketika para malaikat bertandang dan Arsy pun berguncang.

Majalengka, 24 Januari 2012

Jikalau Cinta

Jikalau cinta adalah jarum-jarum cahaya yang membelai benang-benang udara, maka kamu adalah mentarinya; yang tak kan lelah menyulamkan jarum dan benang itu di hatiku.

Jikalau cinta adalah rintik-rintik senja yang menjejakkan tarian kupu-kupu, maka kamu adalah hujannya; yang tak kan jengah mendermakan kisah yang memetamorfosa jiwaku.

Jikalau cinta adalah bias-bias merona yang memadu sempurna keagungan Tuhan, maka kamu adalah pelanginya; yang tak kan menyudah melengkung indah dalam naluriku.

Jikalau cinta adalah surga, biarkan Tuhan menjadikanku bidadarimu.

Bandung, 18 Januari 2012

Bersabarlah, cinta!

Originally created by Fu

suatu esok, ada masa di mana setiap sentuh genggam meluruhkan dosa-dosa kita yang menyelaksa; menyepuh setiap bulir air mata yang menjama'ah doa; menggantinya dengan cinta, menyamudera.

suatu esok, ada masa di mana setiap kerling matamu yang memanja meneduhi jiwa; menangkap binar cinta tanpa rentang lama; memuncakkan setiap bahagia, memesona.

suatu esok, ada masa di mana pena kita menari menggoreskan tinta berdua; mengisahkan asma-asma yang memahadaya; merangkum madani akan semesta, mencahaya.

suatu esok, di teriknya kilau mentari, gelitik rinai hujan, pendaran bias pelangi, hingga pejaman gulita; kaki-kaki kita tetap jenaka melangkahi bayang jejaknya, menuju taman surga, selamanya.

: demi suatu esok itu, bersabarlah cinta.

Bandung, 09012012

Andai

Originally created by Fu

Andai kata tak mampu sepenuh makna keluar dari mulutku; bolehkah kupinjam lidahmu, hanya tuk berucap bahwa ku merindu?

Andai suara tak jua sepenuh syahdu merapali relung jiwaku; bolehkah kupinjam telingamu, hanya sekadar mendengar bisik memilu?

Andai rasa tak mau seutuh hablur menenang diriku; bolehkah kupinjam hatimu, agar menggetar nama Tuhanku?

(Andai aku adalah kamu; haruskah meminjam semua itu?)

dan aku bukanlah kamu, melainkan sebaik cipta Tuhanku, cukuplah itu.

Bandung, 02 Januari 2012

Duhai Engkau

untukmu;

Duhai engkau kuas bahagia, pemilik lembar-lembar cahaya; yang tak kan pernah jemu menulis makna hidup, yang lah meletup; membersamaiku dengan sabar mengeja, belajar pada lembar cahayamu yang tak sirna.

Duhai engkau kanvas ceria, pemilik senyuman manis menjelaga; yang tak lelah menjemput keindahan pagi, oleh sebaik prasangka dalam hati; menciumiku dengan doa-doa, mengasap di relung jiwa.

Duhai engkau lukisan cinta, pemilik rindu yang merahasia; yang tak segan memeluk hujan dengan senyuman, mengunci air muka kesedihan; membelaiku dengan cinta, meski jarak entah seberapa.

Duhai engkau bidadari tercantik di dunia, pemilik harum dan nikmat surga; yang mensyukuriku melalui maaf-maaf tak menyudah, atas khilaf dan dosaku yang mengejawantah; mencandai pintu dan jendela, hanya tuk melihat aku bahagia.

Duhai engkau ibu; pemilik tangan Tuhan dalam restu,

: "jangan pernah jemu, memenjarakanku dalam cinta dan doamu selalu."

Bandung, 22 Desember 2011
*smsin ini ke mama pagi2, tapi baru posting ^_^

didekasikan untuk semua ibu dan calon ibu

Apabila Rindu

Originally created by Fu
: untuk,

Apabila rindu adalah kisi dunia saat menanti berjejak rahmat dalam semburat islam; perbolehkan aku memfitrahkanmu dalam fiqih-fiqih yang bernyala; menggegas ibadah sepenuh khusyu', hingga saat itu; nikmat jama'aah terdiksi denganmu.

Apabila rindu adalah genggam hati yang merahasia rahman pada selaksa iman; biarkanlah aku menyulammu dalam tauhid yang mencahaya; menyeketsa aqidah sebenar pasrah, hingga nanti; kaffahnya senyum terwujud untukmu.

Apabila rindu adalah pelukan umat yang mengkhalifahi qalbu untuk jelmaan ihsan; izinkanlah aku menyetia dalam tasawuf yang berpendar, hingga kelak; rendaan akhlak tersempurna bersamamu.

karena kamu mencipta rindu; menelisik dalam larik-larik tersembunyi yang membuat malaikat tersenyum mengamini.

dan kamu tetap menyulam rindu; menyabarlah kita atas yakin seindah islam, semurni iman, sesempurna ihsan menjemput sejati Rindu.

: maka kamu adalah rindu, hingga terkabul ikrarmu pada Tuhanku.
Majalengka, 16 Desember 2011

*terinspirasi materi pangejian kemarin, tentang islam, iman dan ihsan :)

Kamis, 11 Agustus 2011

Mushaf Unguku

Seperti yang udah aku ceritakan kemarin, kalau aku sayang sekali pada mushaf aku yang warna ungu terbitan Al-kamil itu. Secara nyari-nyarinya dulu susah sekali. Saat warna ungu belum menjadi tren untuk desain mushaf. Gak seperti sekarang ini yang lumayan banyak beberapa penerbit mushaf mulai memproduksi cover mushaf Al-Qur’an berbagai warna. Kemarin, ada seseorang yang ngasih aku mushaf Al-qur’an terbitan Al-Burhan berwarna ungu. Warnanya lebih muda dari mushaf aku sebelumnya. Aku suka sekali. Isinya jauh lebih lengkap dibanding yang punya aku.

Aku sempet bingung waktu dikasih itu mushaf, soalnya aku mau kemanakan mushaf ungu punya akunya? Orang yang ngasih bilang pokoknya mushafnya harus dipake dan harus dibaca. Sedangkan yang namanya mushaf Al-qur’an itu kan gak pernah habis. Mau sampai kapanpun ya tetap dibawa, dipake dan dibaca, berulang-ulang. Waktu aku pulang ke klinik, orang klinik ribut saat aku ngeluarin mushaf ungu yang baru dikasih. Ya mereka tahu soalnya yang aku punya bukan yang itu. Banyak yang komentar aneh-aneh. Katanya so sweet sekali dikasih mushaf Al-qur’an. Haduuh menurut aku itu beban justru, soalnya bagaimana aku bisa memanfaatkan mushaf itu dengan sebaik-baik amalan. Bukan hanya membawanya, memakainya, maupun membacanya, tapi agar mengamalkannya. Yang ngasih sangat berharap bahwa dengan mushaf itu aku benar-benar bisa mencapai salah satu mimpiku aku untuk jadi hafidzah, dan dia ingin mushaf ini menjadi saksi perjalanan aku untuk mencapainya. Tuh, kan beuuuuurraaat! Hmm… aku ambil hikmah positifnya aja kalau aku harus lebih semangat untuk tilawah dan menghafal al-qur’annya.

Waktu ngebahas soal mushaf baru aku itu, ada salah satu karyawan klinik yang nyeletuk ingin sekali punya mushaf al-qur’an yang “efisien” seperti itu. Maksudnya yang ukurannya tidak terlalu besar, ada reseletingnya, isinya lengkap dengan terjemahan, juga ada konten tajwidnya. Aku langsung berpikiran untuk memberikan mushaf itu sama dia. Aku tawarkan sama dia, “Mau nggak?” dan dia langsung antusias sambil berbinar-binar bilang, “Mauuu banget Bubid, beneran ini teh?” Dia bener-bener seneng waktu aku kasih mushaf punyaku yang sudah menemani perjalanan tilawahku kurang lebih tiga tahun itu. Dia bahkan heran kenapa meski udah tiga tahun mushafnya masih bagus, padahal tiap hari selalu aku pakai. Hehe, aku emang awet kalau punya barang. Apalagi itu barang kesayangan, akan aku jaga sebaik-baiknya. Makanya mushaf aku pun kondisinya masih bagus.

Aku terharu sekali setelah serah terima mushaf ungu aku itu, yang sebelumnya aku cium dulu sebelum aku kasih ke tangan karyawan klinik. O iya, namanya Onih usianya baru 19 tahun, dia bekerja dulu soalnya ingin ngumpulin buat bisa kuliah tahun depan. Dia langsung nulis di belakang mushaf itu, “Alhamdulillah dikasih tanggal 10 Agustus 2011 sama Bidan Fu”, lalu setelahnya dia minta aku untuk tanda tangan di sana. Hwaaa… terharuu, ingin nangis. Selain melepas mushaf ungu yang teramat sangat aku sayangi itu, aku juga haru soalnya sebegitu senangnya Onih aku kasih mushaf. Dibawah tanda tangan aku yang kata orang lucu berkarakter (PLAK!) itu aku selipkan kata2, “Semoga bermanfaat dan sering dibaca yaa.. :)”. Dia mengaminkan dan bilang makasih lagi. Alhamdulillah… memang benar kalau ada rasa bahagia yang tidak bisa diukur dan dibeli oleh apapun saat kita memberi sesuatu pada orang lain, sekecil apapun itu.

Aku memang punya kebiasaan seperti itu pada barang yang aku punya. Maksudnya bila barangnya masih bisa dipakai namun aku punya yang lain. Seperti mukena misalnya. Saat aku membeli mukena baru, aku selalu menghibahkan mukena aku yang lama yang memang masih bersih, bagus dan tentunya masih sangat layak pakai. Biasanya aku simpan di mushola kampus kalau dulu mah. Sebenarnya kenapa harus beli yang baru ya kalau yang lama masih bisa dipakai? Aku sih sebenarnya jarang beli, hanya saja tak jarang ada yang ngasih sama aku, apakah itu mama, saudara atau teman aku. Cara aku menghargai pemberian itu ya harus menggunakan dan memanfaatkannya dengan baik. Oleh karena itu, aku lebih senang memakai pemberian dari orang lain, dan yang milik aku sendiri aku berikan. Supaya lebih berkah juga pahalanya double kita dapat. Menghargai pemberian orang lain dengan memanfaatkannya dengan baik, sehingga aku dan yang memberi sama2 dapat pahala. Juga memberikan yang aku miliki pada orang yang lebih membutuhkan, sehingga aku dan yang diberi juga sama2 dapat pahala saat barang itu digunakan dengan baik. Fastabikhul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. ^_^

Aku belum sempat memotret mushaf baru aku yang merupakan pemberian itu. Insya Allah nanti kapan-kapan aku posting yaaa… ^_^
Untuk seseorang yang telah baik hati memberi mushaf ungu itu, terima kasih yaaa... :) Insya Allah akan selalu aku bawa, pakai, dan baca. Semoga harapan dan doanya untuk aku juga terkabul. Amin... semoga berkah dan rahmat Allah juga selalu mengalir untukmu,

Selasa, 09 Agustus 2011

Di atas permadani ini

Originally created by Fu

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku menebarkannya. Butir-butir pasir yang kita ambil di suatu pantai tanpa cerita, dalam senja yang selalu kau rindu untuk direguk jingganya. Berharap satu persatu menemukan kisahnya, mengganti keterhempasan dengan bahagia yang diramu Tuhan. Kau yang selalu mengingatkanku bahwa senyum bukan hanya sewujud simbol simestris sungging di bibir, melainkan wakil dari perbincangan hati yang liris. Tersenyumlah, katamu. Meski tak beralasan, ia kan menghantarkanmu pada kebaikan. Meski tak berbalas, ia tercatat Tuhan sebagai pahala yang menderas. Dan pasir putih itu jua memahamkanku akan kekerdilan, yang tak pun menjadikannya hina tanpa kerelaan.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku memandanginya. Lekuk-lekuk bumi yang telah tergurat, yang kita bedakan dalam beberapa warna pada kanvas tak beralas. Aku yang membuatkannya sajak dan prosa, sementara kau melukisnya dengan polesan tinta yang menjadikannya beraneka. Berpadu kita pada ayat yang mengindahkan bumi tak hingga. Tentang padi yang merunduk bumi, ilalang yang menantang alam, beringin yang menyetia usia, jua kaktus yang menyabar gurun. Kau yang memahamkanku akan kesempurnaan, ia yang mesti dipandangi dari tuas Tuhan. Seperti bumi yang tak pernah iri pada langit yang dihormati dengan tengadah, sementara ia dihargai dengan seberapa mahal injakan tanah.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku merangkainya. Rasi-rasi bintang yang selalu menarik hati kita bertautan saling sapa, dalam keindahan rembulan yang utuh pada purnamanya dan meruncing pada sabitnya. Menunggu pola-pola yang kuat kita rajut menghias langit dalam poros, meski tak kan seindah yang telah Tuhan ukir jauh hari. Kau yang selalu merindukanku dalam celoteh malam yang mendetik lekas. Tentang galaksi kita yang terasing dengan mentari menyingsing, tentang perdebatan kita dalam kotak kecil tanpa cahaya yang merahasia. Tuhan tidak hanya di Arasy-Nya, katamu. Dia melampaui ketidakterjangkauan rasional akal kita. Dalam air matamu, sayatan lukamu, bahkan melebihi itu, Dia bersemayam di kalbumu. Dan rasi bintang itu mematriku akan kemanfaatan, yang tak pun menjadikannya sia-sia meski hanya setitik cahaya.

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian aku menenunnya. Buntalan awan  yang sekilas rapuh, namun memadati doa-doa kita dalam peluh. Membiarkannya tergiring angin, sebelum berhenti dan menemukan tempat berlabuhnya untuk menumpah. Jangan membenci hujan, pesanmu. Karena ia yang menumbuh suburkan benih cintamu, sebab ia yang menghidupi impianmu. Akan indahnya pelangi, yang membukti bahwa Tuhan memang tidak tidur sama sekali. Kau yang memahamkanku bahwa kemarau, mentari, hujan dan pelangi tak kan mengubah gairah pagimu, seperti Tuhan yang tak pernah bosan memelihara awan-awan di hatimu.

Masihkah kita bergumul pada pertengkaran kita yang menelusuri semesta dengan jalan berbeda? Ketika permadani kita tak sama, rajutannya yang tak serupa, atau juga panjangnya yang berbeda. Sementara yang kupahami bahwa tinggi rendah kemampuannya mengangkasa, bergantung pada keyakinan hatimu mengendarainya.

Haruskah kita memberhentikan permadani kita yang masih menikmati hembusan udara? Di saat langit kita masih berdiri tegak, samudera masing menoleransi ombak, gunung-gunung masih berdamai, jua pepohonan masih membenih dalam semai. Haruskah kau dan aku hanya berjalan tanpa jelasnya tujuan, sementara di hadapan menanti tangis yang sebenar pecah dan membuncah.

"Idzaa waqo'atil waaqi'ah."

Di atas permadani ini, menelusuri semesta tak bertepian. Surga tak kan mampu kumasuki tanpamu dan Ridha Tuhan.

Bandung, 9 Ramadhan 1432 H

*Tak akan ada yang bisa menghentikanku menulis, baik itu sakit hati sekalipun. And, he always inspiring me... :)