Originally posted by Fu
Saya
menyukai tulisan dan selalu menyukai puisi, prosa, rangkaian kata-kata
yang terbentuk menjadi kalimat yang indah, puitis dan romantis. Hal itu
pula yang membuat saya juga selalu sangat mengapresiasi sebuah kado
ataupun penghargaan dalam bentuk tulisan. Inilah beberapa kado
pernikahan yang saya minta buatkan dari teman-teman saya, yang lihai
sekali dalam menerjemah dan merangkai sastra. Ada yang memberikan saya
dan suami narasi pernikahan, ada pula yang memberikan saya dan suami
puisi pernikahan. Meskipun saya juga senang mendapatkan kado-kado dalam
bentuk barang, juga doa-doa yang tak ternilai, namun saya menempatkan
kado-kado berupa tulisan ini sangat istimewa sekali di hati saya. Terima
kasih untuk semuanya, insyaAllah kado ini akan hadir di buku saya
selanjutnya, setelah buku "Menikah Itu Mudah". ^_^
Pertama, kado dari Bezie Galih Manggala, sebuah narasi pernikahan yang dibacakan setelah akad berlangsung
***
Narasi
: Cuaca, Kamil
Suatu
esok, ada masa di mana setiap sentuh genggam meluruhkan dosa-dosa kita
yang menyelaksa; menyepuh setiap bulir air mata yang menjama’ah doa;
menggantinya dengan cinta, menyamudera.
Suatu esok, ada
masa di mana setiap kerling matamu yang memanja meneduhi jiwa; menangkap
binar cinta tanpa rentang lama; memuncakkan setiap bahagia, memesona.
Suatu
esok, ada masa di mana pena kita menari menggoreskan tinta berdua;
mengisahkan asma-asma memahadaya; merangkum madani akan semesta,
mencahaya.
Suatu esok, di teriknya kilau mentari, gelitik
rinai hujan, pendaran bias pelangi, hingga pejaman gulita; kaki-kaki
kita tetap jenaka melangkahi bayang jejaknya, menuju taman surga,
selamanya.
:demi suatu esok itu, bersabarlah cinta.
- Foezi Citra Cuaca Elmart. "Suatu Esok."
Membicarakan
narasi, tentulah ia diawali rekam jejak-perkenalan; semacam serapan
cahaya rembulan pada punggung malam yang pertama; yang menandai suatu
pagi dimana semesta tidak akan pernah lagi menjadi sebagaimana, pengap
seperti sebelumnya; tak lagi gelap terlelap, awam temaram; tak lagi
selamanya senyap; hingga pagi akhirnya pun datang, menerbitkan terang
yang sesekali benderang, meski terkadang masih tampak remang.
Bagi
Fu dan Canun, mungkin pagi pada narasi mereka, lahir pada suatu hari
itu; pada sebuah ruang dimana ilmu beredar mencipta benang-benang
takdir, sebuah seminar dan training, yang tanpa disadari menghubungkan
kedua mempelai kita hari ini. Takdir yang selalu berbisik pelan-pelan,
perlahan menautkan, memperkenalkan; berawal dari sebuah pertemuan
sederhana; yang berlanjut pada bincang-bincang tanpa rencana; tanpa
disengaja membuka tabir tentang kesamaan visi dan cita-cita.
Entahlah,
malaikat manapun tak pernah menyangka; dua insan yang berbeda sifat
dan rupa; telah secara rahasia dipertautkan oleh yang maha Berencana.
Sang
Ksatria, Ikhsanun Kamil Pratama, adalah sesosok pemuda yang
menyembunyikan potensi luar biasa; meski dirinya memiliki ide-ide yang,
dalam bahasa anak muda hari ini, "ide-ide gila"; tidak biasanya ia
berbicara, apalagi membaginya kepada orang yang baru saja dikenalnya.
Tapi
bidadari ini berbeda, mungkin begitu adanya; nyatanya impian-impian
yang membuat 'canun' luar biasa, terlantun begitu saja; menyapa lembut
pendengaran Fu, Foezi Citra Cuaca Elmart lengkapnya, dan terasa
sebagaimana mimpi yang selama ini pula terpendam dalam benak
terdalamnya.
Ya, ternyata keduanya memiliki kesamaan;
sama-sama merasakan bahwa, mengabdi kepadaNya berarti menjaga dari
hal-hal yang tak diridhai; yang juga berarti menjaga diri, dan menikah
muda!
Adalah mimpi, yang perlahan tumbuh menjadi,
pondasi-pondasi niat dalam hati; pada sepasang muda-mudi, yang telah
lama mencari, makna dari terciptanya diri.
Adalah mimpi,
yang terucap sebagai janji, bahwa hidup ini bukanlah sekedar untuk
dinikmati; hidup berarti mengabdi, kepada Tuhannya semesta dan diri.
Hingga
tak lama akhirnya, Fu dan Canun memutuskan untuk menautkan dua mimpi
yang saling menopang, bergenggaman; melangkah bersama berdua menantang,
bersamaan. Tak mau berlama-lama menjaga rasa yang tak semestinya,
mereka akhirnya sama-sama berani berkata; "halalkan saja!"
Meski
barang tentu, sebagaimana seharusnya; mimpi tak bisa seenaknya saja
meracau, menabrak-nabrak kenyataan yang ada; mana bayarannya? Ada
perjuangan yang harus ditempuh. Berbulan-bulan do'a dan air mata, yang
tak lepas dari cibiran dan prasangka yang tak sedap menderap telinga,
menyesaki hati dengan luka-luka yang tak kasat mata.
Ada pula
coba dan dera; masalah yang tak diduga-duga; tidaklah mudah
meninggikannya, sebuah menara cahaya ditengah terpaan arus dan samudera.
Namun
keduanya tegar, berjuang agar pesan mereka tersebar; bahwa niat mereka
paripurna, bahwa langkah yang mereka ambil matang dan dewasa; bahwa
keputusan ini adalah tentangNya! Tentang Dia yang mencipta dengan cinta.
Tentang narasi cintaNya!
Hingga akhirnya semesta tunduk, atas titahNya.
Narasi
ini tak sempurna; ya, tak seperti kisah mereka yang begitu lengkap dan
bahagia. Perlu lebih dari ribuan malam membicarakan langkah-langkah
juang mereka berdua; semesta turut berbicara, ribuan kekata; tapi
cukuplah hari ini kita sama-sama berdo'a; "Barakallahu lakuma, wa baraka
alaikuma, wa jama'a bainakuma, bikhair."
- Bandung, 5 April 2012.
Dibacakan di Majalengka, 6 April 2012
Kedua, puisi dari Teh Henny Hasan dan Teh Hesty Wahyuningsih, dua sahabat maya saya yang sangat saya sayang karena Allah...
***
Kata-kata menyempurnakan dirinya menjadi kalimat
: puisi cinta.
Pada kesederhanaan hati semua bermula. Sebuah ruang yang akhirnya memiliki penghuninya sendiri.
Selamat pagi, pengantin.
Ada
embun dan ranting-ranting basah yg turut mendoakan, semoga keberkahan
melimpah di setiap langkah. Dari hari ketika kalian memilih jalan sama
yg searah, hingga kalian tak lagi mengenali apakah waktu masih
menyertai dunia ataukah musnah.
Selamat siang, pengantin.
Semoga
kalian tak lekas lelah ketika terik memenuhi hari. Kami berharap,
kisah yg kalian tuliskan adalah tentang sepasang sayap yg tetap gagah
mengepak.
Selamat malam, pengantin.
Datangnya gelap akan menutupi benda dari pandangan mata. Begitu pun dengan kalian, akan menjadi penjaga rahasia satu sama lain.
Selamat bagi kalian, pengantin.
Selamat menikmati cinta.
Semoga kelak lahir kebaikan-kebaikan dari keduanya dan bahagia selamanya.
***
Ketiga, dari sahabat saya, seorang dokter muda lulusan UGM, yang anomali dan penyuka sastra dan puisi, Aditya Putra Priyahita
***
barisan puisi tertunduk takzim pagi ini
menyambut hangat mentari selepas deras malam tadi
merasakan gemulai embun merengkuh daun-daun
teriring kicauan langit buncahkan rasa lama terpingit
dan kuncup asa bermekaran jadi bunga
pagi ini adalah mitsaqan ghaliza
tempat dua anak manusia berikrar setia
bukan pada cinta, hanya Pencipta saja
satu kayuh berdua satu layar bersama
bukan untuk dunia, tapi menuju ridha-Nya
hari ini sebuah janji menjelma prasasti
dan mimpi sedari dini telah disulap hakiki
lunas jua berjuta doa berbumbu air mata
yang dieja cakrawala setiap langit beranjak senja
maka pada haru yang menderu
tak henti dzikir mengalun merdu
maka untuk tangis manis tak lagi mengiris
cinta untuk-Nya tak kan berkurang walau seiris
maka dari syukur pengantar simpuh terpekur
ketaatan berdua kian nian bertambah subur
karena bahagia tak bisa dikata seribu bunga
maka biar lelah dalam dakwah yang melukiskannya
pagi ini sebuah tulang rusuk kembali ke tempatnya
lalu aku dan kamu dibelai cinta menjadi kita
maka bertamhid seluruh penjuru dunia
karena langkah perjuangan kan meraksasa
dan bersama kita hela tiap detik wangi surga
selamat berjuang tuan dan nyonya...
Pacitan, 8 April 2012
***
Terima
kasih untuk semuanya, yang telah mengirimi kami dengan doa tulusnya.
semoga Allah yang Maha Segala membalas yang terbaik untuk semuanya.
semoga kami juga tetap istiqamah di jalan sunnah para Nabi ini.
Membangun peradaban, beralih dari munfarid menjadi berjamaah. Amin...
Mohon
doanya juga ada beberapa buku yang sebentar lagi terbit, juga beberapa
yang sedang kami garap bersama lagi. InsyaAllah target 10 buku dari kami
berdua terbit tahun ini. :)