Jumat, 01 Juli 2011

Surat Untuk Yabi -2-

Originally created by Fu

Sebuah surat terperangkap (lagi!)
...
Assalamu’alaykum wr wb
Yabi, masih ingatkah kau pembicaraan kita tempo hari? Biar aku uraikan satu persatu, untuk sejenak mengembalikan memorimu…

Yabi…

Aku ingin dikenal olehmu dengan sempurna
Tanpa penjajakan yang saat ini sedang marak orang lain lakukan. Cukuplah kau mengenalku melalui keluarga, kerabat, ataupun lingkungan dakwah yang kita lalui bersama. Sejatinya kau tak akan pernah bisa mengenalku, karena pernikahan adalah proses pengenalan yang berkesinambungan. Pernikahan bukanlah akhir tujuan perkenalan, namun awal sesungguhnya dari perkenalan. Seperti tuturmu tempo hari : Aku memang tak mengenalmu, namun aku akan berusaha mengenalmu semampuku, setelah kita telah dinyatakan halal untuk saling mengenal.

Aku ingin dilamar olehmu dengan sempurna
Tanpa pertukaran cincin terlebih dahulu seperti yang orang lain bilang tunangan. Cukuplah kau mengenalkan diri dan keluargamu pada keluargaku. Hingga mewujud keharmonisan awal yang sejatinya tercipta karena menghormati kesucian pernikahan. Seperti tuturmu tempo hari : “Aku memang tak sanggup memberikan banyak harta untuk melamarmu, namun di jalan dakwah yang akan ku jalani denganmu, aku berjanji untuk berusaha mencari harta semampu kita. Harta yang halal untuk kita pakai bersama.

Aku ingin dinikahi olehmu dengan sempurna
Tanpa terlalu banyak kemeriahan yang mendekati kenikmatan dunia. Cukuplah rasa bahagia yang menyelimuti keluarga, sanak saudara, beberapa kolega, serta kita berdua khususnya, menjadi keriangan tersendiri dalam haru yang tercipta karena telah sah-nya untuk menjalani biduk rumah tangga. Seperti tuturmu tempo hari : Aku memang tak mampu untuk memberikan kebahagiaan berlimpah di hari pernikahan kita, namun aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia di hari-hari pernikahan kita nantinya. Sejatinya pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan hidup kita, namun gerbang awal untuk membuka salah satu jalan menuju ridha-Nya.

Aku ingin dicintai olehmu dengan sempurna
Tanpa banyak kata yang membalut kebohongan belaka. Cukuplah rayuan dan candaan ringan untuk menghiasi pernikahan kita. Tak perlu kau pandai merangkai kata romantis untuk selalu menyenangkanku, cukup kau tahu bagaimana memposisikan kedudukanku. Aku bukan berada di atas kepala hingga selalu haus akan sanjung puja, bukan pula berada di bawah kaki untuk diinjak dan dihina. Aku adalah tulang rusuk kirimu, dekat dihatimu untuk selalu kaucinta. . Seperti tuturmu tempo hari : Aku tidak berani berjanji untuk mencintaimu sepenuhnya, namun aku berani berjanji untuk selalu belajar mencintaimu sepenuhnya. Cinta sejati yang membuat kita semakin mencintai-Nya.

Aku ingin hidup bersamamu dengan sempurna
Tanpa banyak terpengaruh hal-hal yang menimbulkan perselisihan antara kita berdua. Cukuplah atas nama Allah segala tingkah polah kita, disertai Al-Qur’an penerang jalan hidup kita, dan Hadits pengiring liku hidup kita. . Seperti tuturmu tempo hari : Aku memang tak bisa membuatmu bahagia selalu, namun aku berjanji untuk selalu ada dalam setiap suasana dan kondisi perasaanmu. Aku ingin menyediakan pundak dalam kesedihanmu, menjadi obat penenang dalam kegundahanmu, serta melebarkan pangkuan di saat kelemahanmu.

Aku ingin memberikan keturunan untukmu dengan sempurna
Tanpa ego yang menaungi diri masing-masing, kita berdua membicarakan persetujuan dalam perencanaan. Cukuplah kita berdua yang tahu akan keinginan dan kemampuan kita. Melaluiku, terlahirlah para jundi kecil pelengkap hidup kita. Yang menjadikanmu pondasi bangunan pemikiran mereka, serta menjadikanku madrasah berilmu yang tak ada habis-habisnya. Seperti tuturmu tempo hari : Kita ciptakan generasi terbaik bangsa yang kan mengukir sejarah peradaban, setidaknya yang kan mampu membuat kita bangga, karena telah memiliki penerus dakwah seperti mereka.

Aku tak sempurna. Kau pun tak sempurna. Ketidaksempurnaanmu menjadi pelengkap ketidaksempurnaanku, hingga kita terlihat sempurna, meski hanya bagi kita berdua. Biarlah Allah yang Maha sempurna, yang berhak menilai kesempurnaan kita.

Yabi… kali ini cukup itu saja aku rasa.

Bandung, Juni 2011
...

Lagi! kau menulis kontroversi, fu! :p

0 komentar: