Sabtu, 29 Januari 2011

Surat untuk Yabi

  Originally created by Fu

Sebuah surat terperangkap!


Assalamu’alaykum wr wb
Salam cinta penuh rahmat Illahi dengan semerbak wangi kesturi untukmu, Yabi. Bagaimana kabarmu? Aku yakin Allah selalu menjagamu dengan baik, karena aku yakin limpahan doa tak hingga selalu mengalir untukmu, baik itu dari dua orang tuamu, saudaramu, sahabatmu dan semua kerabatmu. Pun aku hanya bisa mengantar doa secuil saja, menebar harapan agar kau dilimpahi nikmat iman tiada hentinya.

Yabi, dengarkan aku bicara…

Yabi, jangan herankan aku yang begitu pelupa! Kau tentunya tahu bahwa aku lebih senang mengingat apa-apa yang mesti kupersiapkan di setiap pagimu. Mulai dari memilihkan baju hingga sepatu, membuatkan setangkup roti dan segelas susu, sampai mengantarkan keberangkatanmu hingga depan pintu, dengan tatapan dan senyuman yang selalu kau rindu, walau hanya sekadar melegakanmu bahwa aku akan baik-baik saja. Ah… tak apa-apa bila aku mesti lupa mengenai sajian televisi setiap harinya, yang menghantarkan itu-itu saja mulai dari terbit mentari hingga tenggelamnya lagi, dari channel yang satu sampai yang lainnya lagi. Aku tak pernah lupa ungkapanmu di suatu fajar, “Dami, lebih baik kita membuat acara dan tayangan sendiri, agar tawa dan tangis bisa dapat kita bersama bagi, dengan kejujuran yang tak terbantah manipulasi!”

Yabi, jangan herankan aku yang begitu kampungan! Kau tentunya tahu bahwa aku memanglah orang rumahan yang berasal dari desa kecil dan sama sekali tak kekotaan. Aku yang tak biasa mengikuti faham hedonisme yang menjadi lumrah, menghadiri suatu acara dan pesta megah, atau berdandan dan tampil mewah. Mungkin aku masih belum mengerti alasan kenapa orang terpacu meniru-niru, hingga menghalalkan segala cara tanpa ada sesal dan ragu. Ah… tak apa-apalah bila aku tak disebut modern dengan canggihnya teknologi masa kini yang orang-orang sebut globalisasi, dimana aturan kitab dipaksa sesuai era saat ini, bukan era yang sesuai aturan kitab lagi. Aku tak pernah lupa pesanmu di suatu pagi, “Dami, biarlah mereka melakukan hal yang mereka percayai, selama itu tak mengganggu apa yang kita yakini, cukuplah Tuhan saja yang prasangkanya kita takuti!”

Yabi, jangan herankan aku yang tak bisa berdebat! Kau tentunya tahu bahwa aku lebih memilih sendiri mengasapi dapur dengan memanaskan kompor, daripada beramai-ramai menghujati gedung dan memunculkan komentar autor, aktor, hingga koruptor. Maafkan aku yang tak paham bagaimana dan apa itu politik, mungkin aku harus banyak belajar darimu yang lebih memahami bagaimana itu konflik. Seperti katamu bahwa segala aspek itu penting dan haruslah hanif, karena dien kita begitu komprehensif. Ah… tak apa-apalah bila aku disebut bodoh karena tak mampu berkomentar dengan berlandaskan teori yang hambar. Nyatanya aku lebih senang berkutat dengan kreasi es krim, jus dan salad buah apa lagi, yang cocok untuk penutup makan siangmu esok hari. Aku tak pernah lupa anjuranmu di suatu siang, “Dami, kita harus banyak bersabar untuk ketidaksesuaian harapan dan kenyataan, banyak bersyukur untuk segala aib yang ditutupi Tuhan, serta banyak memohon ampun untuk segala dosa yang setiap hari kita lakukan!”

Yabi, jangan herankan aku yang begitu pemalas! Kau tentunya tahu bahwa aku tidak terlalu suka hingar bingar dan keramaian. Aku yang menikmati penantian kepulanganmu dengan melakukan aktivitas yang menurut orang lain begitu membosankan; berlama-lama duduk di depan monitor meski hanya sekadar menuangkan keterdesakan yang berjejal di otakku, atau juga terhanyut dan tenggelam dalam kesenangan menyelami buku. Seperti kau juga tahu bilapun harus menikmati indahnya dunia luar, tak lepas dari izin atau keberadaanmu yang mendampingiku melihat sekitar. Hingga suatu hari nanti mungkin aku akan sering mengganggu malammu di kamar sendirian, karena harus memberi pelayanan atau menyaksikan kelahiran. Ah… tak apa-apalah bila aku tak mengenal emansipasi yang saat ini menggelegar dengan berbagai teori, padahal dien kita telah menjunjung tinggi kaumku dengan aturan yang pasti, demi kehormatan dan harga diri. Aku tak pernah lupa pendapatmu di suatu sore, “Dami, Tuhan itu punya kuasa untuk menciptakan pribadi yang berbeda-beda. Keberagaman paradigma itu bukanlah suatu persoalan yang harus dipersalahkan keberadannya, namun justru kesyukuran memperkaya pengetahuan dan ladang ibadah kita, selama itu tidak bertentangan dengan aturan dien sesungguhnya. Yang sama adalah bahwa setiap manusia mempunyai hak atas penentuan hidupnya!”

Yabi, jangan herankan aku yang sering menangis! Kau tentunya tahu bahwa aku terlalu sensitif dan sangatlah peka, sehingga menjawab segala ujian hidup dengan air mata. Maafkan bila aku sering kali menancapi telingamu dengan berbagai celotehan yang tak jarang menimbulkan kebosanan dan kekesalan. Aku yang begitu senang menanyai segala hal padamu, mengeluh banyak hal padamu, sampai merajuk hal sepele padamu. Tak usahlah kau memarahiku dengan bentakan, karena nasehat lembut dan diammu lebih meluluhkan, terkadang aku hanya perlu waktu untuk menenangkan. Ah… tak apa-apalah bila orang lain menganggapku lemah karena rengekan, nyatanya canda tawa menghantarkan dosa bila berlebihan. Cukuplah kau yang menjadi saksi setiap buliran air mata, dengan bahumu yang menjadi sandaran duka, genggamanmu yang mengobati luka, atau senyumanmu yang menghantarkan bahagia. Aku tak pernah lupa perkataanmu di suatu petang, “Dami, setelah Tuhan mengikat kita dengan senyuman malaikat yang menghantarnya, maka  luka dan duka adalah bersama, senyum dan canda adalah bersama, karena bersama adalah ibadah sebenarnya!”

Yabi, jangan herankan aku yang tak bisa romantis! Kau tentunya tahu bahwa aku lebih banyak diam setiap menikmati rembulan. Aku memang tak bisa berbuat banyak saat kau tengah bercumbu dengan kertas-kertas kerjamu, tak bisa membantu saat kesulitan permasalahan menjejali otakmu, juga tak bisa memahami jalan pikiranmu yang lebih rumit dan jauh melesat dariku. Aku hanya bisa menyajikan secangkir kopi hangat dan sepotong kue saat kau bosan, menyeka keringat di keningmu saat kau tampak kelelahan, juga menyediakan kedua telingaku saat kau butuhkan. Ah… tak apa-apalah bila aku justru kesulitan mengeluarkan apa yang ingin isi hatiku ungkapkan, hanya sebuah pengingat yang kuhaturkan saat kau melelah sampai kemalaman, bahwa sudah waktunya untuk tidur agar fajarmu menyegarkan, tak lupa minum vitamin dan berwudhu sebelum terlelapkan. Aku tak pernah lupa pesanmu di suatu malam, “Dami, jangan terlalu mengkhwatirkan aku dengan merapikan kertas kerjaku. Namun jangan pula mengabaikan aku yang sering kali melupakan arti keberadaanmu!”

Yabi, masih ingatkah pertanyaanmu yang belum kujawab ; “Berapa ya yang akan memanggil kita Ayabi dan Bundami?”

Yabi, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Jemariku tertahan di sini…


-saya suka hari jum’at-
Januari ‘11

*ah, fu… lagi! Kau menulis kontroversi! ^^

Ini fu tulis untukmu, a.... afwan baru sempet post di sini... ^^

0 komentar: