Kamis, 13 Januari 2011

Telegram

Originally created by Fu

Tukang pos datang pagi-pagi sekali saat aku masih kedinginan. Dikawal hembusan angin yang menggumam dan derasnya hujan yang menikam. Seperti biasa ia datang mengantar surat balasan Tuhan atas malam yang penuh kemanjaan. Di surat balasan kali ini yang berupa telegram, Tuhan menyuruhku mengeja alam. Yang setelahnya harus aku peluk penuh kemesraan.

Aku eja telegram itu perlahan :

Bumi begitu mencintai hujan karena olehnya lah ia bangkit dari panjangnya kematian. Yang setelahnya bumi merona dengan dandanan beraneka ragam. Oleh karenanya bumi tak pernah segan terus menerus membalas budi pada hujan. Bahkan ia penuh kerelaan mempersilakan senyawa polarnya sesekali ke langit untuk bersemayam. Untuk menyulam awan.

Hewan tak pernah enggan berwasiat atas tujuan sebenarnya ia diciptakan. Yang kehadirannya tak lepas jua membawa pelajaran meski hanya sebulat cakram. Oleh karenanya hewan tak pernah dendam meski kematiannya diharapkan untuk keserakahan ataupun hanya minuman. Bahkan ia tulus hati menawarkan kebermanfaatannya dalam geraham. Untuk menelan kesyukuran.

Kurma dan anggur mewarisi sifat yang sama akan salah satu kenikmatan. Yang daripadanya mampu melegakan atau sekadar pemuas nafsu yang membekam. Kurma dan anggur telah tertakdi sebagai salah satu wujud kebesaran. Mereka mengajarkan bahwa nafsu mesti dikendalikan bila tak mau terjerumus pada jahannam. Untuk meneladani kecukupan.

Madu tak kan pernah habis selagi lebah rakus memakan bebuahan. Yang sebelumnya terkulum dalam sarang yang bertilam. Lebah selalu tersenyum meski sering kali mengeluarkan sengatnya yang tajam. Bahkan lebah penuh kerelaan banting tulang demi kelegaan dan kesembuhan. Untuk menaati ilham.

Usia harus menjadi kecintaan karena ia yang setia mengikuti dalam tuntunan. Yang setelahnya ada keabadian pasca Izrail meneriaki khatam. Oleh karenanya usia tak pernah geram meski kewafatannya dianggap kesuraman yang mencekam. Bahkan usia secara tulus mendoakan saat kelaluannya diingat dalam tangisan. Untuk menghiasi jam.

Nikmat mengasihi kesyukuran atasnya yang terjauh dari pengingkaran. Yang kehadirannya disenangi namun tak jarang pula terlupakan bahkan tak terrekam. Oleh karenanya nikmat berkembang saat kelebihannya tersalurkan melengkapi kekurangan. Bahkan ia menganjurkan indahnya berbagi  serta saling merasa dalam genggam. Untuk menyatukan ragam.


Aku terdiam saat Tuhan menyebutkan soal ketujuh yang membuatku membenam bungkam. Aku yakin Tuhan pun tahu bahwa untuk yang satu ini aku akan merasa kesulitan. Meski begitu aku tetap mencoba mengayam ejaan dengan tangan mencengkram, juga keringat yang merajam.

“wallahu… wallahu… wallahu ja’ala lakum…”

Sudahlah, aku meminta izin pada Tuhan untuk menangguhkan ejaan yang semakin runyam. Lagipula, bel sudah berbunyi dari kejauhan. Aku kembali mengambil secangkir madu dalam cawan, untuk merayu Tuhan agar membuatku faham. Semoga pada telegram berikutnya yang selalu kunantikan.



_hari yang dihiasi kedinginan, dalam balutan kerinduan_
Safar 1432 H

*Aku lupa darimana telegram itu berasal. Ah… tapi sungguh transparan.


#Bagaimana? Kepanjangan ya? Banyak yang komen gitu. Gak apa-apa lah, fu memang aneh, heu... Fu ganti surat aja, yah A.... Btw, ngerti tak ini dari surat apa? Hayoo... jago kalau bisa....^^ lanjutin soal ke tujuhnya, bisa jawab tak? ^^

0 komentar: